Jelang Debat Capres, Ini Rapor Energi Pangan Hingga Lingkungan Hidup RI di Mata Dunia

Kalau merujuk pada data-data berikut, pencapaian Indonesia sepanjang kurun 2014 – 2018 nampaknya tidak sesukses yang dikabarkan pemerintah.

RUANG PUBLIK | BERITA | NASIONAL

Rabu, 13 Feb 2019 14:35 WIB

Author

Adi Ahdiat

Jelang Debat Capres, Ini Rapor Energi Pangan Hingga Lingkungan Hidup RI di Mata Dunia

Seorang warga melintas di dekat panel surya di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (9/1/2019). (Foto: ANTARA/Moh Ayudha)

Debat Capres ronde dua akan digelar pada Minggu, 17 Februari 2019 di Jakarta.

Kali ini debatnya mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.

Setelah melalui periode kerja 2014 – 2018, pemerintahan Jokowi memegang sejumlah klaim keberhasilan dalam tema-tema tersebut.

Di sektor energi, misalnya. Kementerian EDSM mengklaim bahwa Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor pertambangan mineral dan batubara tahun 2018 sudah melebihi target hingga mencapai Rp 50,01 triliun.

Di sektor pangan, Kementerian Pertanian mengklaim telah merilis 300 inovasi teknologi hortikultura, mencapai swasembada beras pada tahun 2017, serta berpeluang mencapai swasembada gula lebih awal dari target.

Di sektor infrastruktur, Kementerian PUPR mengklaim telah berhasil meningkatkan akses air minum layak melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Sedangkan di sektor SDA dan lingkungan hidup, KLHK juga mengklaim bahwa laju deforestasi Indonesia telah menurun, dari sebesar 73,6 persen di tahun 2014 menjadi 64,3% di tahun 2017.


Problem Indonesia di Mata Dunia

Terlepas dari berbagai klaim itu, kondisi sektor energi, pangan, infrastruktur, SDA dan lingkungan hidup Indonesia nyatanya menjadi sorotan masyarakat dunia.

Banyak pihak yang menaruh perhatian pada tema-tema tersebut. Mulai dari peneliti independen, lembaga riset global, hingga sejumlah organisasi PBB.

Merujuk pada data-data penelitian mereka, pencapaian Indonesia sepanjang kurun 2014 – 2018 nampaknya tidak sesukses yang diklaim pemerintah. Berikut ini rinciannya:


Energi: Defisit Migas, Minim Energi Terbarukan

Awal tahun ini Global Subsidies Initiative (GSI), organisasi global di bidang pembangunan berkelanjutan, menerbitkan laporan berjudul Beyond Fossil Fuels: Indonesia’s Fiscal Transition (2019).

Dalam laporan tersebut, GSI mengungkap bahwa pendapatan Indonesia dari sektor minyak dan gas terus menurun drastis dalam satu dekade terakhir.

GSI menyebut bahwa turunnya penerimaan itu disebabkan cadangan energi fosil Indonesia kian menipis, sementara konsumsi domestik terus meningkat.

GSI kemudian merekomendasikan agar Indonesia lebih serius mengembangkan teknologi untuk pemanfaatan sumber daya energi terbarukan (renewable energy).

Namun demikian, menurut data yang dihimpun KBR, pemanfaatan energi terbarukan Indonesia masih sangat minim.

Pemanfaatan geothermal baru sekitar 2.000 megawatt dari total potensi 19.658 megawatt. Energi air baru sekitar 6.600 megawatt dari total potensi 74.976 megawatt. Sedangkan energi surya baru digunakan sekitar 0,05 persen dari seluruh potensi yang ada.

Penggunaan biodiesel di dalam negeri baru sekitar 10 persen dari total konsumsi energi fosil nasional. Dan teknologi pembangkit tenaga laut belum banyak diteliti, meski potensinya sangat besar.


Pangan: Korupsi Tinggi, Pengembangan Pertanian Minim, Impor Tinggi

Menurut penilaian Global Food Security Index 2018 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU), ketahanan pangan Indonesia masih berada di taraf rata-rata. Masih ada juga sejumlah tantangan yang perlu dihadapi Indonesia.

Tantangan pertama adalah tingkat korupsi yang tinggi. Menurut EIU korupsi di Indonesia berpotensi mengganggu besaran stok dan distribusi bahan pangan nasional, dengan skor risiko sebesar 3 dari skala 4 poin.

EIU juga menilai upaya riset dan pengembangan pertanian Indonesia sangat rendah, hanya mendapat skor 1 dari skala 9 poin.

Tingkat impor Indonesia juga masih tinggi. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia merupakan salah satu negara importir serealia terbesar di Asia Tenggara.

Bahkan menurut data yang dilansir Statista.com, portal data statistik global, sepanjang periode 2017 – 2018 Indonesia menjadi negara pengimpor gula terbesar di dunia, mengalahkan jumlah impor Tiongkok dan Amerika Serikat.


Infrastruktur: Air Bersih Sulit, Konektivitas Jalan dan Rel Rendah

Di sektor infrastruktur, Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Hal ini dilaporkan World Economic Forum (WEF) dalam Global Competitiveness Report 2018.

WEF menilai masih ada 50 juta orang Indonesia yang sulit mendapat air bersih.

Konektivitas jalan dinilai masih sangat rendah. Pembangunan rel kereta juga sangat minim hingga Indonesia hanya mendapat skor 6,1 dari 100.

WEF juga melaporkan masih ada sekitar 23 juta warga yang belum bisa menikmati listrik. Karena itu Indonesia menempati peringkat ke-98 dari 140 negara dalam hal electricity access.


SDA dan Lingkungan Hidup: Deforestasi Masih Mengkhawatirkan

Baru-baru ini tim peneliti dari Universitas Duke, Amerika Serikat, menerbitkan makalah riset berjudul What Causes Deforestation in Indonesia? (2019).

Dalam makalah tersebut, para peneliti menyebut bahwa tingkat deforestasi Indonesia masih tinggi sehingga mengundang kekhawatiran global.

Penyebab deforestasi pun dinilai masih sangat beragam, mulai dari masifnya industri perkebunan sawit, kebakaran hutan, pertanian, penebangan kayu, pertambangan, hingga aktivitas ekspansi kota seperti pengembangan lahan perumahan dan pembukaan lapangan golf.

Jika terjadi dalam skala besar, FAO menyebut bahwa deforestasi berisiko mengancam kehidupan ribuan spesies, menurunkan kualitas air, menimbulkan bencana erosi dan banjir, serta berpotensi menggoyah ketahanan iklim global.

 

(Sumber: situs-situs resmi kementerian, Global Food Security Index 2018; Global Competitiveness Report 2018; What Causes Deforestation in Indonesia? 2019; Beyond Fossil Fuels: Indonesia’s Fiscal Transition 2019)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme