Awal 2019 Harga Pangan Dunia Naik, Ini Penjelasan PBB

Harga bahan pangan utama dunia mengalami kenaikan. Dan di tengah situasi ini, kebutuhan impor Indonesia nampak masih tinggi.

RUANG PUBLIK

Rabu, 13 Feb 2019 12:13 WIB

Author

Adi Ahdiat

Harga pangan dunia naik

Ilustrasi: Harga pangan dunia naik (Foto: Pexels/Viktor Smith)

Di awal tahun 2019 harga pangan global mengalami kenaikan rata-rata sekitar 1,8 persen. Demikian laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO), badan PBB yang menangani urusan pangan dan pertanian.

Dalam Food Price Index yang dirilis Februari 2019, FAO memaparkan dinamika harga dari lima kelompok komoditas pangan utama di seluruh dunia, yakni serealia, minyak nabati, susu, gula dan juga daging.


Harga Serealia Naik

Harga serealia di seluruh dunia, yang mencakup padi, jagung dan gandum, dilaporkan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 7,3 persen, naik tipis dari Desember 2018 lalu.

Menurut FAO kenaikan harga ini dipengaruhi oleh penurunan produksi global dan tingkat permintaan dunia yang tinggi.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara importir sereal terbesar di Asia Tenggara menurut FAO.

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2018 Indonesia telah mengimpor serealia hingga senilai $ 3,5 miliar atau setara Rp 49 triliun. BPS juga menyebut impor ini naik 30,17 persen dari tahun sebelumnya.


Harga Minyak Nabati Naik

Di awal 2019, harga minyak nabati yang mencakup minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak zaitun, minyak kedelai dan lain-lain, naik 4,3 persen dibanding Desember 2018.

FAO menyebut, kenaikan harga di kelompok ini dipicu oleh naiknya value minyak kelapa sawit, tingginya permintaan impor minyak kedelai, serta menurunnya produksi minyak nabati non-sawit di negara-negara produsen utama.

Indonesia sendiri ikut menyumbang peran dalam memenuhi kebutuhan minyak sawit dunia.

Menurut laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), sepanjang 2018 Indonesia mengekspor sekitar 34,71 juta ton, meningkat sekitar 2,6 juta ton dari tahun sebelumnya. GAPKI menyebut peningkatan ekspor ini paling banyak terjadi pada komoditas biodiesel.

Namun demikian, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) melaporkan bahwa untuk komoditas minyak nabati non-sawit, nilai impor Indonesia terus meningkat.

Dalam situs resminya, GIMNI mencatat bahwa impor minyak nabati non-sawit sepanjang 2018 mencapai nilai $ 40 juta atau setara Rp 560 miliar. Minyak yang banyak diimpor adalah minyak rapeseed, minyak bunga matahari, minyak kedelai, dan minyak zaitun.


Harga Susu Naik

Harga susu dunia naik sebesar 7,2 persen dari Desember 2018. FAO menyebut hal ini dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan ekspor dari Eropa.

Menurut data di situs resmi Kementerian Perindustrian, Indonesia sendiri memiliki kebutuhan impor susu yang tinggi.

Kebutuhan bahan baku susu olahan dalam negeri dilaporkan mencapai 3,3, juta ton per tahun. Namun sekitar 80 persennya, yakni sekitar 2,61 juta ton, masih diimpor dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Uni Eropa.


Harga Gula Naik

Di awal tahun 2019 harga gula dunia naik sebesar 1,3 persen. Menurut FAO, kenaikan ini dipicu oleh penguatan mata uang Brazil yang notabene merupakan eksportir gula terbesar di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut data yang dilansir Statista.com, portal data statistik global, sepanjang periode 2017 – 2018 Indonesia menjadi negara pengimpor gula terbesar di dunia.

Dalam data Statista.com, tahun lalu Indonesia mengimpor 4,45 juta ton gula, melebihi jumlah impor Tiongkok dan Amerika Serikat.


Harga Daging Masih Stabil

Berbeda dengan komoditas utama lainnya, harga daging dunia cenderung stabil, belum berubah sejak akhir Desember 2018 lalu.

Di tengah stabilnya harga daging dunia ini, Kementerian Pertanian menyatakan rencana untuk mengimpor daging sapi dan kerbau sekitar 287.976 ton pada tahun 2019.

Dalam lansiran di situs resmi Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi, menyebut bahwa opsi impor tidak dapat dihindari karena produksi dalam negeri masih sedikit.

(Sumber: www.fao.org)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RUANG PUBLIK

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.