Sibuk Kerja Bisa Bikin Gendut! Cek Hasil Penelitiannya

Pekerja dengan tuntutan kerja tinggi lebih mudah naik berat badannya. Mereka yang banyak diatur juga lebih gampang gendut.

RUANG PUBLIK | BERITA | INTERMEZZO

Senin, 28 Jan 2019 19:26 WIB

Author

Adi Ahdiat

Sibuk Kerja Bisa Bikin Gendut! Cek Hasil Penelitiannya

Ilustrasi. (Foto: VideoPlasty/Wikipedia/Creative Commons)

KBR - Terlalu sibuk kerja di kantor bisa membuat berat badan seseorang naik. Tapi ada yang unik. Sebuah penelitian menyebut ini hanya terjadi pada kaum perempuan saja.

Demikian dijelaskan Sofia Kingberg, peneliti bidang Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gothenburg, Inggris.


Semakin Sibuk Semakin Gampang Gendut

Pada 2018 lalu, Sofia Kingberg melakukan penelitian kesehatan melibatkan sekitar 3.800 orang di Swedia.

Subjek penelitian terdiri dari perempuan dan laki-laki pekerja kantoran, dengan rentang usia bervariasi mulai dari 30 sampai 60 tahun.

Sofia Kingberg dan timnya kemudian menelaah gaya hidup dan kondisi kerja yang mempengaruhi kesehatan para responden. Penelitian mulai dari jenis pekerjaan, tekanan psikologis yang mereka rasakan, apakah waktu kerja mereka sebanding dengan beban kerjanya, dan sebagainya.

Hasilnya, Sofia menemukan kesimpulan bahwa perempuan dengan tuntutan kerja tinggi umumnya lebih mudah menjadi gemuk.

Dalam jurnal International Archives of Occupational and Environmental Health, Sofia Kingberg menjelaskan, "Kami dapat melihat bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi berperan dalam kenaikan berat badan wanita, sedangkan untuk pria tidak ada hubungannya," tulisnya.

Tim peneliti belum bisa menjelaskan secara pasti kenapa tuntutan kerja tinggi itu hanya berpengaruh pada berat badan perempuan namun tidak pada laki-laki.

Sofia Kingberg berasumsi bahwa perempuan yang sibuk di kantor umumnya juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena itu mereka tidak punya waktu luang untuk berolahraga, memiliki lebih banyak keinginan untuk makan, dan lebih mudah menjadi gendut.


Semakin Banyak Diatur Semakin Gampang Gendut

Di samping tekanan kerja, para peneliti juga mempelajari hubungan kesehatan warga Swedia dengan "tingkat kontrol" yang mereka miliki.

"Tingkat kontrol" yang dimaksud di sini adalah seberapa banyak para pekerja bisa menentukan pekerjaan mereka secara mandiri. Misalnya, seberapa sering mereka belajar sesuatu yang baru; apakah pekerjaan itu menuntut imajinasi atau keterampilan tingkat lanjut? Apakah mereka bisa memilih prioritas kerja mereka sendiri, dan lain sebagainya.

Hasilnya, penelitian di Swedia menemukan bahwa orang-orang dengan "tingkat kontrol" rendah atau lebih banyak diatur dalam bekerja, ternyata berat badannya lebih mudah naik. Hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan sekaligus.

Menurut Sofia Kingberg, fenomena ini bisa terjadi kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang pendidikan, besaran penghasilan, ataupun faktor gaya hidup lainnya.

Sepanjang mereka mengalami tekanan psikologis dan stress yang sama, maka berat badan mereka cenderung naik lebih mudah daripada rata-rata orang lainnya.

Tim peneliti Universitas Gothenburg juga menyebut, jika stress dalam pekerjaan itu tidak tertangani dan berlarut-larut maka permasalahan kesehatannya juga akan berkembang.

Di samping masalah berat badan, para pekerja kantoran yang mengalami stress juga lebih berpotensi terkena penyakit diabetes dan penyakit kardiovaskular seperti sakit jantung dan juga stroke.

(Sumber: International Archives of Occupational and Environmental Health, 2018)

Editor: Agus L Amsa
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

'Kelas Multikultural' SMK Bakti Karya Parigi

Komunitas Pattas Sosial Kurir Langit Wakili Indonesia dalam Penghargaan Layanan Publik PBB 2020

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kapten Barcelona Lionel Messi Lampaui Rekor Cristiano Ronaldo