Buku “Kiri” di Mata Soekarno & Gus Dur

Buku-buku “kiri” merupakan salah satu bacaan para pemimpin bangsa, tempat mereka menggali ide, memetik pengetahuan, untuk kemudian menjawab persoalan Indonesia.

RUANG PUBLIK | BERITA | NASIONAL

Jumat, 25 Jan 2019 19:33 WIB

Author

Adi Ahdiat

Buku “Kiri” di Mata Soekarno & Gus Dur

Sampul buku Das Kapital karya Karl Marx. (Foto: Istimewa/KBR)

KBR, Jakarta - Belum lama ini Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengusulkan rencana razia buku “kiri” secara besar-besaran.

Rencana tersebut juga didukung oleh Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, yang menilai buku-buku berisi ajaran komunisme, Marxisme-Leninisme bisa membahayakan negara.

UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme memang dinyatakan bertentangan dengan Pancasila. TAP MPR Nomor XXV/MPRS/1966 juga menjelaskan ajaran-ajaran itu tersebut berpotensi mendorong orang-orang atau golongan tertentu untuk merobohkan kekuasaan pemerintah Indonesia.

Nyatanya, jika ditelusuri ternyata ajaran “kiri” ini memiliki tempat tersendiri di alam pikiran para pemimpin bangsa. Soekarno misalnya. Bapak proklamator Indonesia dan salah satu perumus Pancasila itu ternyata seorang pembaca buku-buku “kiri”.

Dalam bukunya berjudul Dibawah Bendera Revolusi (1963), Soekarno terang-terangan menyatakan kekaguman terhadap sosok Karl Marx, pencetus gagasan filosofi yang menginspirasi kelahiran Komunisme.


Soekarno: Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme

Semasa menjabat sebagai presiden, Soekarno menerbitkan buku berjudul Dibawah Bendera Revolusi. Buku ini berisi kumpulan tulisan tentang kehidupan pribadinya, negara, serta sikapnya dalam menentang penjajahan.

Namun di era Orde Baru, buku kaya gagasan dan sarat nilai sejarah ini pernah dilarang dan dibakar karena dianggap "kiri".

Tulisan pertama Soekarno dalam buku tersebut berjudul Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Artikel itu berisi pandangan dan harapan Soekarno untuk mempersatukan golongan politik di Indonesia.

Selain membahas gerakan Islam dan kaum nasionalis, di situ ia juga menyatakan kekaguman terhadap Marxisme sebagai falsafah yang membela kaum buruh dan golongan tertindas. Soekarno menulis:

“… Suatu manusia yang 'geweldig' (hebat) yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama ‘grootmeester’ (mahaguru) pergerakan kaum buruh: Heinrich Karl Marx. Dari muda sampai pada wafatnya, manusia yang hebat ini tiada berhenti-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara dan bagaimana mereka itu pasti akan mendapat kemenangan.”

Menurut kajian Bur Rasuanto dalam Keadilan Sosial Dua Pemikiran Indonesia (Jurnal Wacana, 2000), Marxisme dan literatur-literatur sosialisme memang membantu Soekarno – Hatta dalam memahami hakikat kapitalisme, memberi mereka perspektif tentang sejarah, menginspirasi perjuangan melawan kolonialisme, serta membangkitkan semangat revolusioner.

Bur Rasuanto juga menyebut bahwa konsep keadilan sosial yang dipahami Soekarno, sang pencetus Pancasila ini, harus dimengerti sebagai paham nasionalis yang berhaluan Marxis.


Gus Dur: Marxisme Adalah Kenyataan Sejarah

Seperti halnya Soekarno, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid juga menemukan banyak ide menarik dalam pemikiran kaum Marxis. Hal ini disampaikan Greg Barton dalam bukunya berjudul Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003).

Greg Barton menyebut Gus Dur merupakan seorang pembaca karya-karya Marx dan Lenin. Gus Dur juga membaca karya Mao Zedong, pemikir sekaligus pemimpin gerakan komunis di Cina.

Di samping menggali ide, Gus Dur juga mengkritisi ajaran-ajaran “kiri” yang kerap diposisikan antagonis dengan agama.

Sebagaimana disampaikan Greg Barton, Gus Dur pernah berujar bahwa, “Marx harus diikuti analisisnya terhadap keadaan, tetapi jangan begitu saja dituruti dalam kesimpulan. Dengan kata lain, Marxisme haruslah dipahami sebagai kenyataan sejarah, tetapi belum tentu memiliki kebenaran transendental”.

Greg Barton menyebut, Gus Dur juga pernah mengkritik sikap kaum muslim Indonesia yang menolak Marxisme-Leninisme melalui ketetapan MPR. Menurut beliau, penolakan ajaran “kiri” di Indonesia itu bersifat politis, bukan ideologis.


Apakah Buku “Kiri” Berbahaya?

Hukum Indonesia saat ini menyatakan Komunisme/Marxisme - Leninisme sebagai ideologi terlarang, sebagai ajaran berbahaya yang bisa memicu terjadinya kudeta. Karena itu, buku-buku yang memuat ajaran “kiri” rencananya akan dirazia besar-besaran.

Tapi di mata para pemimpin bangsa, yakni Soekarno dan Gus Dur, buku-buku “kiri” ternyata merupakan salah satu bahan belajar mereka, tempat mereka memetik pengetahuan untuk kemudian menjawab persoalan Indonesia.

Kalau menurut Anda, apakah buku “kiri” itu berbahaya?

(Dari berbagai sumber)


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Sejumlah Daerah Protes Hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Pancasila Merajut Keberagaman Indonesia