Kerjasama KBR dengan SATGAS COVID-19

Imunisasi, Program Kesehatan di Indonesia yang Terbukti Berhasil Cegah Penularan Penyakit

dr. Jane: Masyarakat harus mengetahui vaksin jauh berbeda dengan obat. Karena vaksin akan diberikan kepada orang sehat, oleh sebab itu syarat vaksin dibuat sangat ketat

RAGAM

Senin, 23 Nov 2020 20:44 WIB

Author

Paul M Nuh

Imunisasi, Program Kesehatan di Indonesia yang Terbukti Berhasil Cegah Penularan Penyakit

Simulasi vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/11/2020). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.

Jakarta, Pemerintah tak henti-hentinya berupaya menghentikan laju penularan virus Covid-19. Meskipun rasio pemulihan meningkat dari minggu lalu, tapi hal itu belum cukup. Kementerian Kesehatan juga sudah menargetkan untuk memperkuat pelacakan kontak (tracing) dengan target rasio 1:30, yang artinya dari 1 pasien positif akan dilacak 30 kontak terdekat.

“Upaya lain yang tengah dilakukan pemerintah untuk menekan penularan Covid -19 adalah mewujudkan program vaksin untuk rakyat. Untuk ini, pemerintah tengah mempersiapkan vaksin dan tata laksana imunisasinya nanti. Kemenkes juga telah melatih lebih dari 8.600 vaksinator dari 23.000 vaksinator yang rencananya akan disiapkan untuk mendukung kampanye imunisasi nanti”, terang dr. Reisa Broto Asmoro Juru Bicara Satgas Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dalam dialog bertema “Tata Laksana Vaksinasi di Indonesia”, yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Senin (23/11).

Indonesia sudah lama melaksanakan program imunisasi dalam mencegah penyakit menular. Menurut dr. Jane Jane Soepardi, MPH., Pakar Imunisasi, dulu sebelum ada vaksin kematian karena penyakit menular seperti campak, difteri dan pneumonia sangat tinggi. Dengan adanya vaksin penyakit berbahaya tersebut hilang tanpa disadari masyarakat. Oleh karena itu masyarakat perlu diberi pengetahuan yang kontinyu tentang penyakit apa saja yang bisa dicegah dengan imunisasi.

Dr. Jane mengatakan, dalam merancang kampanye imunisasi terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan. Pertama vaksin, yang keberadaannya sudah terdaftar di WHO. Berikutnya alat penyimpanan agar vaksin tidak cepat rusak. Ketiga penentuan lokasi agar masyarakat mudah mengaksesnya. Keempat calon peserta yang sudah didata oleh petugas. Yang tidak kalah penting relawan yang nantinya akan bertugas.

Dukungan penyuluhan dan sosialisasi terencana jauh-jauh hari juga harus telah dipersiapkan sebelumnya. Dengan begitu nantinya yang akan datang ke lokasi imunisasi sudah siap dan mendapat informasi yang cukup mengenai program tersebut. Kemudian nantinya pelaksana program imunisasi ini harus profesional di bidangnya.

Di Indonesia kader-kader imunisasi di setiap desa sudah ada dan berpengalaman melakukan pelayanan imunisasi. “Jadi kader-kader imunisasi ini harus dipakai, boleh ditambah dari unsur pramuka, karang taruna, dan petugas siskamling”, ujar dr. Jane.

Demi menumbuhkan keyakinan bagi masyarakat tentang keamanan dan efektivitas vaksin, dr. Jane mengatakan. “Masyarakat harus mengetahui vaksin jauh berbeda dengan obat. Karena vaksin akan diberikan kepada orang sehat, oleh sebab itu syarat vaksin dibuat sangat ketat. Jadi lebih baik jangan sampai tertular Covid-19, dan kalau kita beruntung mendapat imunisasinya, jangan ditolak, justru bersyukur kalau mendapat vaksin Covid-19”.

“Meskipun vaksin akan datang, kita harus tetap disiplin menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman). Mari kita praktikan 3M tersebut sebagai satu-kesatuan karena 3M ini satu paket. Terakhir, jangan takut diimunisasi ya”, tutup dr. Reisa.

(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Peran Pemerintah Daerah Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Cuaca Ekstrem

Kabar Baru Jam 8

Menyoal Rencana Vaksinasi Bagi Lansia

Kabar Baru Jam 7