ADVERTORIAL

Dunia Belum Mampu Wujudkan Janji ICPD

tujuan akhir Program Aksi ICPD adalah peningkatan kualitas hidup generasi sekarang dan mendatang. Untuk itu, setiap negara harus secara khusus memenuhi kebutuhan semua elemen masyarakat

RAGAM

Minggu, 22 Nov 2020 07:05 WIB

Dunia Belum Mampu Wujudkan Janji ICPD

Kepala BKKBN, DR (H.C.) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) saat membuka the 2nd International Webinar bertajuk

Program Keluarga Berencana (KB) telah berkontribusi dalam banyak bidang kehidupan di banyak negara. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui program ini. Di antaranya terjadi peningkatan kualitas hidup, lebih khusus lagi naiknya tingkat kesehatan, pendidikan, kesejahteraan hingga membuka lapangan kerja. Itulah benang merah yang mengemuka dalam the 2nd International Webinar bertajuk "Family Planning and Family Development" yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan dukungan Partners in Population and Development (PPD), Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), dan Commission on Population and Development (POPCOM Filipina), Selasa (17/11/2020). "Program KB memastikan permintaan keluarga bisa dipenuhi dan itu penting untuk mencapai akses universal pelayanan kesehatan reproduksi," ujar Kepala BKKBN, DR (H.C.) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) saat membuka pertemuan tersebut. Menurut Hasto, Indonesia sangat berkomitmen terhadap Program Aksi ICPD25. "Sebuah komitmen untuk melakukan antara lain akselerasi atau janji menurunkan angka kematian ibu hamil dan mereka yang belum mendapat pelayanan KB," ujar Hasto.

Hasto mengatakan, Program Aksi Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) 1994 di Kairo yang diadopsi 179 negara tetap relevan untuk mengatasi banyak tantangan terkait isu kependudukan. Untuk memenuhi pencapaian (ambisi) Program Aksi ICPD dan mempercepat implementasi Agenda 2030 Pembangunan Berkelanjutan, The United Nations Population Fund (UNFPA) bersama Pemerintah Kenya dan Denmark telah mengadakan Nairobi Summit on ICPD25: Accelerating the Promise (KTT Nairobi tentang ICPD25: Mempercepat Janji), pada 12-14 November 2019 lalu. Dari pertemuan itu, diperoleh data bahwa selama 25 tahun mengadopsi Program Aksi ICPD banyak keberhasilan yang dicapai banyak negara. Di antaranya, angka kematian ibu (AKI) secara global menurun 40%, di kawasan Asia-Pasifik AKI juga turun 56% antara 2000 dan 2017. Namun, terlepas dari kemajuan ini, jutaan perempuan dan laki-laki di seluruh dunia belum dapat terlayani. Secara global, orang-orang, terutama populasi yang terpinggirkan, terus menghadapi diskriminasi yang merupakan penghalang bagi akses mereka ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Hingga saat ini lebih dari 200 juta perempuan dan remaja perempuan di dunia belum dapat mengakses pelayanan keluarga berencana. Selain itu, Indonesia dan negara lain juga menghadapi tantangan untuk melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan dan diskriminasi. Terutama dalam situasi kemanusiaan. Praktik-praktik berbahaya, seperti pernikahan anak dan sunat wanita masih berlangsung. Pada 2019 diperkirakan 10 juta anak perempuan secara global akan menikah di bawah usia 18 tahun. Di wilayah Asia-Pasifik, 140 juta perempuan masih belum memiliki akses ke alat kontrasepsi modern. Banyak di antaranya adalah remaja dengan keterbatasan akses ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Kemudian, sekitar 79.000 kematian ibu juga masih terjadi di wilayah Asia-Pasifik. Bahkan di Indonesia, angka kematian ibu tetap tinggi, termasuk yang tertinggi di negara-negara ASEAN.

Selain itu, tujuan akhir Program Aksi ICPD adalah peningkatan kualitas hidup generasi sekarang dan mendatang. Untuk itu, setiap negara harus secara khusus memenuhi kebutuhan semua elemen masyarakat, termasuk yang paling terpinggirkan. Di antaranya, melibatkan perempuan, anak perempuan, penyandang cacat dan masyarakat adat. Tanggung jawab untuk melakukannya ada di tangan semua bangsa. Jika kerjasama bisa dibangun bersama dengan lebih giat dan melakukan investasi penting yang dibutuhkan orang, menurut Hasto, pembangunan berkelanjutan untuk semua dengan pendekatan kearifan lokal dapat dicapai. "Webinar ini merupakan upaya meningkatkan dan memperbaiki komunikasi di antara negara-negara berkembang. Akses yang lebih luas untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman," ujar Hasto.

Sementara DR. Adnene Ben Hak Aissa, Executive Director of PPD, menginformasikan bahwa jumlah total populasi dunia bertambah 80 juta jiwa per tahun. "Total fertility rate menjadi beban. Beban juga bagi sektor ekonomi, peluang lapangan kerja, dan fasilitas sumber daya seperti air bersih. Maka, investasi diperlukan di banyak bidang," ungkapnya. Dia menilai Banglades luar biasa berinvestasi di bidang KB dan capaian target-target ICPD di 2020. "Prestasi ini ada di negara anggota PPD," jelasnya. Melalui KB, menurutnya, banyak manfaat yang bisa diperoleh. Dan investasi ini berhasil meningkatkan kualitas penduduk di kawasan Afrika dan Asia. "KB berhasil mengurangi tingkat kematian dan meningkatkan bidang kesehatan, lapangan kerja, pendidikan," ujarnya. Dia memuji bahwa BKKBN memiliki program yang paling maju di antara negara-negara anggota. "Dan kami turut mendukung capaian itu. Thailand pun memberikan perubahan yang signifikan. Bangladesh juga berhasil menurunkan AKI dengan melaksanakan dan meningkatkan capacity building," tambahnya.

Tangkapan layar the 2nd International Webinar bertajuk "Family Planning and Family Development" yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan dukungan Partners in Population and Development (PPD), Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), dan Commission on Population and Development (POPCOM Filipina), Selasa (17/11/2020).

Webinar ini menampilkan pembicara DR. Ir. Lilis Heni, Public Health Specialist and Demographer of Universitas Indonesia; Prof. Gu Baochang, Demographer of Renmin University, China; DR. Juan Antonio Perez, Executive Director of the Commision on Population and Development (POPCOM) Philippines. Juga Prof. Rizal Damanik PhD, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN. Bertindak sebagai pembahas Prof. Aris Ananta PhD, President of Asian Population Association (APA); dan Prof. Peter Mc. Donald, Emeritus Profesor di Australian National University dan Honorary Profesor di University of Melbourne. (Humas BKKBN).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7