covid-19

Zen : Anime Bikin Kesadaran Atas Gender Gue Muncul

anime dan diskusi akan gender non-binary bareng Zen

BERITA | RAGAM

Selasa, 12 Okt 2021 16:49 WIB

Zen : Anime Bikin Kesadaran Atas Gender Gue Muncul

Zen. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - Mungkin sebagian besar dari kita sudah familiar atau bahkan jadi die-hard fans-nya anime. Dulu salah satu anime yang suka saya tonton adalah Saint Seiya. Di dalamnya ada karakter yang menurut saya kalau dilihat kembali gitu ya, gendernya itu ambigu. Shun namanya. Tapi ternyata ada banyak karakter yang gender-nya digambarkan ambigu dalam anime atau manga. Beberapa diantaranya bahkan memunculkan diskusi perkara gender. Semisal non-binary, contohnya Attack on Titan. Nah, ini kali Love Buzz bakal ngobrolin perkara anime dan non-binary bareng Zen, pendengar Love Buzz yang sempat berkirim email ke saya. Bareng Zen, saya juga ngobrol perkara subculture Lolita, teater, dan cerita cinta selama pandemi.

Anda mendengarkan Love Buzz bersama saya, Asrul Dwi.

Love Buzz. Membicarakan perkara yang tidak dibicarakan ketika berbicara perkara cinta.

Q & A

Asrul : “Yang gue lihat itu, gambar dan anime jadi bagian yang cukup gede gitu kan. Kelihatan banget. Sekadar hobi kah, atau ada hal yang lain yang mungkin lebih dari itu?”

Zen : “Dari dulu emang suka animasi sih dari dulu. Nggak usah animasi Jepang. Kayak animasi Barat pun gue suka kan dari kecil, like Disney and anime. Tapi for anime, for some reason itu dilarang sama orang tua gue. Gue kayak dilarang untuk nonton anime, I don’t know why. Tapi semakin dilarang, gue semakin tertarik. Gue makin penasaran sama anime. Jadi sejak itulah, once I found out about the internet, gue nyari sendiri kan. Ternyata anime gambarnya lucu-lucu gue suka. Terus ya udah,”

Asrul : Karena tadi dilarang orang tua gitu, mungkin jadi semacam upaya lo buat melawan,”

Zen : “Bener, bener. Kayaknya dari dulu gue emang suka nge-rebel gitu ya. Soalnya di rumah banyak aturan. Orang tua gue kan konservatif, religius gitu. Banyak banget aturannya, kayak nggak boleh nonton anime lah, gak boleh ini lah, like I broke them in secret. Untungnya I have other sisters and brothers, mereka sama lah interest-nya kayak gue, semuanya in secret lah. Tanpa orang tua kita mengetahui,”

Asrul : “Sebenarnya kan keliatan banget dari cara berpakaian lo, sebenernya gue nggak nyangka lo akan dateng fully dressed as a character? I don’t know?”

Zen : “Oh, jadi ini? I can explain this kok. It’s a fashion style from Japan namanya Lolita, if you know. Jadi, di Jepang, in Harajuku, ada banyak kayak alternative fashion gitu kan. Terus si Lolita pun origin-nya dari women in Japan, mereka nggak mau nurutin the standard of femininity in Japan. Jadi mereka nggak mau berpakaian untuk pandangan cowok tapi mau berpakaian untuk diri sendiri, yang imut-imut lah, yang kayak princess lah. Terserah mereka gitu kan. Terus terlahirlah, fashion namanya Lolita. Yang kayak puffy puffy gini,”

Asrul : “Is it a style or…?”

Zen : “Ini mirip kayak punk, you know like there’s a teen punk?”

Asrul : “Iya, kayak subculture gitu,”

Zen : Like a subculture. Itu kan intinya mereka kayak nge-rebel sama ekspektasi masyarakat kayak harus berpakaian kayak gimana, itu kan mereka nge-rebel kan. Ya mirip lah sama goth and punk, Lolita juga sama kayak gitu,”

Asrul : “Pernah denger ini nggak sih, Lolita Complex? Atau pernah baca novelnya Lolita nggak? Atau nonton filmnya?”

Zen : “Oh iya, tapi itu…”

Asrul : “Ada hubungannya nggak?”

Zen : No, no. Nggak ada hubungannya. Karena selalu ditanyain, ‘Itu ada hubungannya’,”

Asrul : “Gue mungkin mikirnya kayak gitu karena gue nggak tau,”

Zen : “Cuma namanya sama,”

Asrul : “Karakter-karakter atau subculture anime, Lolita itu kenapa menarik buat lo?”

Zen : “Karena gue cuma suka estetiknya aja sih. Terus kayak mereka nggak ngebatas-batasin siapa yang boleh pake Lolita, cowok pun pake Lolita, orang non-binary kayak gue pun pake Lolita. Yang penting kita pake dress-dress yang imut aja. Kayak kita bisa di-accept di dalam community-nya gitu,”

Asrul : “Tadi lo nyebut non-binary, artinya buat lo as a non-binary tuh apa?”

Zen : “Itu artinya gue nggak bisa dimasukin kategori binary yaitu cewek dan cowok. Jadi non-binary itu di luar itu. Tapi bukan berarti itu kategori ketiga atau gender ketiga, it just means that kita di luar kotak itu, bukan berarti kita dimasukin ke dalam kotak lain gitu. Intinya kita nggak mau dikotak-kotakin aja. Kita nggak mau dikasih kategori, itu non-binary. Soalnya kalau orang non-binary tuh mereka macem-macem ya, like I have non-binary friend, itu menurut dia gendernya kayak campuran antara cewek sama cowok gitu. Dia kayak agak cewek, agak cowok, tapi kalau menurut teman non-binary-ku yang satu lagi, katanya dia dia nggak punya gender sama sekali. Jadi dia genderless. Terus ada orang non-binary juga, dia merasa dia punya gender tapi itu gendernya nggak bisa didefinisikan dengan kata cewek atau cowok, itu kayak something else entirely. Jadi beda-beda semuanya. Intinya nggak bisa didefinisikan dengan kata cewek atau cowok,”

Asrul : “Kan konstruksi gender kan memang bentuknya spektrum gitu kan. Berarti ada yang di luar spektrum itu atau memang bisa dimasukkan ke dalam situ, atau kayak gimana sih?”

Zen : “Jadi kan kalau kita ngomongin gender itu spektrum, kebanyakan orang mikirnya ini cewek, ini cowok, terus spektrumnya kayak gini kan. Padahal menurut kita, gender itu lebih kayak kalau misalkan kamu buka Paint atau Photoshop itu kan ada color wheel, itu gender menurut kita. Kayak bukan sini ke sini, tapi it’s like a whole color wheel gitu. Menurut kita kayak gitu,”

Asrul : “Tapi gimana kemudian orang bisa memahami? Yang kita tau either left or right atau somewhere in between gitu,”

Zen : “Kalau gue ya, gue malah nggak bisa ngerti kenapa orang bisa tau kalau dia cewek atau cowok. Jadi gini kan, kita tau kalau gender itu konstruksi sosial kan? Itu kita buat sendiri oleh manusia. It’s like gender was a social construct and it was made to benefit men. Ini kayak patriarki kan sebenarnya, gender tuh. Pas gue nyadar itu gue kayak lah terus ini semua buat apa? Gue ngikutin ini buat apa? Gue ngikut gender-gender ini cuman gara-gara disuruh doang kok. Itu gue ya. Pengalaman gue. Jadi pas gue nyadar itu gue kayak nggak mau ngikutin gini-ginian lagi. I just wanna go my own way, you know?”

Asrul : “Waktu itu, menemukan itu kayak gimana prosesnya?”

Zen : “Jadi gue kan dari keluarga Islam. Terus emang dibesarkan di lingkungan yang sangat konservatif dan religius. Dari SD gue dimasukin sekolah Islam. Terus karena gue dilahirkan sebagai ‘cewek’, gue dimasukin ke sekolah cewek semua. Jadi, while I was growing up gue dibilangin ‘lo cewek’ gitu kan. Jadi I guess I was like understood it in my mind like I was supposed to be a girl. Tapi gara-gara gue dari kecil suka nge-rebel gitu kan ya, it just makes sense that I will rebel against gender.

Jadi gue nyadar gue non-binary pas gue umur 18 kalau nggak salah. Intinya pas gue mulai kuliah, when I first moved away from my family, soalnya itu… that was the moment I realized I didn’t have to follow anyone’s rules anymore. I can just live my own life. Terus waktu itu gue mulai nanya-nanya gitu kan, about my own gender identity. Kayak gue beneran cewek apa itu kata orang doang? And then dari situ, my friend circle emang banyak yang transgender kan. Gue kalau melihat mereka, mereka kayak kok keren banget sih, mereka bisa milih jalan mereka sendiri gitu kan. Gue emang kagum banget sama mereka. Kagum doang apa lo juga kayak gitu? Terus ya ternyata gue juga kayak gitu,”

Asrul : “Tumbuh di keluarga yang konservatif kemudian tadi sempet cerita kebanyakan temen-temen lo transgender?”

Zen : “Tapi itu online ya,”

Asrul : “Oh, ketemu mereka kayak gimana?”

Zen : “Kan gue udah cerita ya, pas gue kecil gue suka anime kan. Jadi, gue di internet kayak fans-fans anime gitu kan, sesama fans anime jadi ketemunya lewat situ,”

Asrul : “Anime berarti lebih inklusif? Iya nggak sih?”

Zen : “Iya. Like my favorite anime character is a non-binary character,”

Asrul : “Boleh cerita nggak soal itu? Gue nggak pernah tau,”

Zen : “Jadi nama animenya King of Prism, I bet you haven’t heard about it because it’s very not popular di sini. Itu emang bener-bener… I don’t wanna say it as coded transgender because it’s like very obvious that the character is a transgender. Jadi itu di episode-nya dia lahir di keluarga yang sangat progresif, yang nggak ngeliat gender. Jadi dia dibesarkan tanpa gender. So the character was born as a boy, right? Tapi dia nggak nyadar soal itu soalnya di keluarga dia. Mereka didn’t care about that kind of stuff. Jadi mereka ngasih dia mainan yang cewek, yang cowok, nggak ada sih mainan buat cewek/cowok, tapi you know what I mean. That character, they didn’t know what gender they were.

Terus tiba-tiba pas dia masuk SD, tiba-tiba dia dicap jadi cowok terus dia jadi bingung kan. Terus dia disuruh ngikutin aturan kayak gini, kayak cowok nggak boleh pake rok padahal dia karakternya feminin banget. Dia suka pake rok gitu terus tiba-tiba dia ngerasa dia harus prove themselves as a man. Tapi intinya, ujung-ujungnya pas akhir episodenya they realized that they don’t want to be, ngikutin binary gender gitu. Mereka nggak mau ngikutin gitu. They want to live as themselves. Dan gue suka banget sama karakter itu soalnya dia sama kayak gue, suka pake dress. Suka sama yang lucu-lucu. Dan intinya dia nggak peduli gitu sama gendernya dia. Episodenya bagus sih, you should watch it,”

Asrul : “Kadang orang mengekspresikan gendernya juga lewat pakaian. Kalau lo sendiri dari gender expression lo atau nggak?”

Zen : “Jadi pas awal-awal gue coming out, gue merasa ada tekanan gitu untuk berpakaian secara androginist. Jadi waktu itu gue motong rambut gue jadi pendek, terus lepas kerudung, gue make hoodie sama jeans gitu kan. Tapi gue nyadar kalo itu sebenernya gue berpakaian seperti itu cuma buat muasin orang lain. Soalnya kalau orang mikir non-binary, pasti merek ekspektasinya yang kayak setengah cewek setengah cowok apa apa gitu,”

Asrul : “Stereotype-nya gitu kan?”

Zen : “Jadi ya itu, stereotype. Nggak ada aturan yang bilang non-binary harus berpakaian kayak gimana. Ini pakaian kan kain doang. Jadi kain siapapun bisa make. Like after a year, I stopped doing that and I start wearing Lolita because that’s what I love, you know? Tapi emang susah sih buat gue, soalnya ini feminin banget kan. Gue tau I’m gonna face difficulties wearing this fashion because I’ll have to explain that I’m non-binary. Mau nggak mau gue harus bilang secara eksplisit kan kalo gue bukan cewek, gue non-binary. Tapi justru gue malah lebih berani, lebih nyaman sama gender identity gue sendiri. Gue terpaksa jadi lebih confident. Ada bagusnya juga sih,”

Asrul : “Tapi melewati proses-proses yang kayak gitu. Melelahkan kan?”

Zen : “Iya,”

Asrul : “Ketika lo harus menjelaskan gitu. Nah, kalau kemudian lo berada di titik itu, ngerasa lelah, kayak gimana terus?”

Zen : “Untungnya sih gue support circle-nya emang kuat banget. Gara-gara temen-temen gue sesama transgender, ada yang non-binary juga jadi gue curhatnya ke mereka kalau gue lelah gitu kan. Tapi kalau lo nge-asumsi gender orang, like if you assume that someone who’s wearing a dress is a girl, ya itu sih masalah lo. Maaf banget, tapi your world view sangat sempit sekali. Itu bukan masalah gue sebenarnya. Tapi, ya udah lah. Emang gue as a non-binary person terus make fashion kayak gini tuh juga nge-rebel juga sih. Seharusnya orang androginist kayak gini, tapi gue malah berpakaian yang feminin banget itu kayak in its own way emang agak powerful gimana gitu,”

Asrul : “Dan di bagian lain dari identitas lo adalah you’re a Muslim. Dan itu sangat kelihatan banget,”

Zen : “Jadi kan orang LGBT yang muslim itu emang ada kan. Tapi gue tuh… I’m not that religious sebenarnya. Gue pas kecil iya. Tapi pas gue kuliah, gue nyadar kalo gue sebenernya agnostik. Bukan atheis, tapi agnostik. Jadi gue kayak, mungkin Tuhan ada, mungkin nggak ada, gue nggak tau. Intinya gue nggak tau, gue cuma mau enjoy my life. Tapi, gue memilih untuk memakai kerudung, kenapa? Gara-gara it’s like… Gue orang non-binary kan. Orang non-binary juga termasuk transgender. Ketika ada orang transgender terus mereka pake kerudung, itu pasti bikin orang bingung kan. Itu bikin orang berpikir. Gue pengen itu. Gue pengen orang berpikir intinya. I want people to think and I want people to know that people like this exists, you know? Jadi sebenarnya gue make kerudung tuh bukan gara-gara for religious reasons tapi sebagai statement,”

Asrul : “Ada nggak sih bentuk-bentuk ekspresi lain, another art form that you like?”

Zen : “Selain gambar?”

Asrul : “Selain gambar,”

Zen : “Selain gambar dan berpakaian. I love theatres so much. Tapi gue bukan aktor ya. Gue cuman penonton. Tapi gue suka banget sama teater. Gara-gara gender stuff di teater itu banyak banget yang bisa diomongin. Kayak historically, emang dari dulu-dulu banget kan, because men were mostly allowed in theatres, jadinya cowok yang main tokoh cewek gitu kan. Banyakan yang kayak gitu. In England, in Shakespeare plays, biasanya cowok yang main jadi cewek terus in Japan, in Kabuki, itu juga sama. The male dancers played female characters, there’s so much like cross-dressing, cross-gender stuff that goes on and (...) normal in theatre, you know? Tapi sekarang masih ada kok. There’s a theatre called Takarazuka Theatre which is like an all female theatre. And they play men’s roles right. And… Di Indonesia pun ada kan, Teater Koma, if you know. In their play, it was called “Semar Gugat”, right? They’re Arjuna. Arjuna-nya dimainin sama cewek. Terus Srikandi-nya dimainin sama cowok,”

Asrul : Naskah drama yang paling suka ada nggak sih?”

Zen : “Gue sukanya yang musical-musical gitu sih sebenarnya. The musical I’m really into right now namanya Elisabeth, if you know. Itu dari Austria. The performance by Takarazuka Theatre is so amazing,”

Asrul : “Lo sekarang umur berapa sih?”

Zen : “20,”

Asrul : “Dan lo cukup articulate gitu kalo ngomongin soal gender. Kok bisa gitu?”

Zen : “Karena gue terpaksa untuk memikirkan semua ini gara-gara I was forced to figure it out myself, you know? Pas gue umur 18 itu gue… Gue inget banget pas malem gue nanyain identitas gender gue sendiri gue nge-google gue transgender nggak sih, gue non-binary, apa gue cowok sebenarnya? Gue sempet mikir kalo gue cowok. Ya gitu, kayak lo dipaksa buat mikirin semua itu,”

Asrul : “Dan kemudian sekarang kuliah Gender Studies?”

Zen : “Iya. Gue jurusannya Gender Studies. Jadi gue tiap hari mikirin ini,”

Asrul : “Kenapa memilih Gender Studies?”

Zen : “Gara-gara… Jadi gue cerita milih jurusan gue sangat bumpy sekali. Jadi awalnya gue malah milih bisnis entah kenapa. Emang gue waktu itu bingung kan mau milih apa jadi ya udahlah bisnis aja, itu waktu itu gue masih di Indonesia, gue milih bisnis di ITB. Jadi, karena gue keterima ya udahlah gue ke situ aja. Terus… ya gitu lah. Tapi ternyata setelah gue satu semester di situ, gue nggak suka banget ternyata. I didn’t know this at that time tapi gue orangnya sangat anti-kapitalis sebenarnya. Jadi gue nggak bisa bisnis, gue harus keluar dari sini sekarang juga. Terus abis itu gue keluar kan. Terus gue cari, intinya gue harus masuk ke yang artsy-artsy gitu kan. Nggak harus gambar, tapi intinya yang kayak culture yang social gitu kan.

Akhirnya gue pindah kuliah and I enrolled into a faculty of arts and social sciences. Terus awalnya gue milih jurusan Global Studies. Itu kayak international relations intinya belajar dunia. Tapi apa ya, gue belajar itu satu semester nggak cocok. During that semester I took some Gender Studies classes, right. Dan ternyata emang kayaknya gue cocoknya di sini. I can make a difference di sini. Soalnya at one point in my life, I realized the one thing I want to do in life is just to make a difference. I just want to help in organizations, like charities. Gitu gitu.

I want to help young transgender people in Indonesia. Bantu mereka navigasi di dunia ini. Gue pengen kerja di bagian situ lah. Terus kalo gitu, mendingan gue masuk Gender Studies aja sekalian, jadi gue lebih tau gimana caranya. Soalnya di Gender Studies nggak cuma belajar teori doang, kita tuh belajar hukumnya, dan segala macemnya gitu lah,”

Asrul : “Tapi ketika belajar tentang Gender Studies itu, ada nggak sih hal lainnya yang kemudian jadi lebih kebuka dalam diri lo sendiri gitu?”

Zen : “Gender itu cakupannya luas, jadi kayak bukan orang non-binary aja. Kayak banyak banget gender segala macem di culture di manapun. Gender Studies gue tuh spesifiknya kita belajarnya di South East Asia. Terus culture yang queer gitu banyak banget. Tiap hari gue masih belajar yang baru gitu tentang queer culture and LGBT things. Everyday I learn something new. Soalnya orang LGBT kan nggak yang kayak gue aja,”

Asrul : “Tapi kalo lo ngeliat sendiri as a non-binary, di Indonesia sendiri posisinya di masyarakat kayak gimana?”

Zen : “Iya jadi inside joke-nya among non-binary people itu kita hantu, kita nggak exist. Kita nggak exist di mata masyarakat. Emang rasanya masih gitu sih sekarang. Tapi kadang ada sih kalo gue ngisi formulir online tiba-tiba ada option gendernya yang lain. Itu satu step forward maybe,”

Asrul : “Tapi sebenarnya kan sudah ada ya?”

Zen : “Ada. Tapi mungkin sebutannya bukan non-binary ya. Di culture-nya Bugis itu ada kan yang enam gender itu. They have their own gender system. Kayak itu non-binary-nya mereka. Tapi nggak bisa disebut non-binary juga sih. Non-binary sebenarnya term luar ya. Jadi di kelas Gender Studies gue itu kita diajarin kita nggak boleh mengaplikasikan term Barat kepada culture lokal. Jadi misalnya istilah waria, itu nggak pernah di-translate itu harus tetep waria gitu. Nggak boleh di-translate, nggak boleh disama-samain,”

Asrul : “Sekarang selain kuliah, aktivitasnya ngapain aja berarti?”

Zen : “Gue sekarang cuman, paling kerjain commission. I accept commissions, I work on commissions and… Nonton teater. Apalah. Intinya consume arts in any form,”

Asrul : “Di pandemi ini…”

Zen : “Iya, di pandemi ini nonton film lah, apalah,”

Asrul : “How it’s been like for you then?”

Zen : “Susah. Depresi dalam masa pandemi emang rasanya beda. Kayak hopeless, lebih hopeless dari biasanya. Soalnya it feels like the world is like ending, I guess,”

Asrul : “Yang paling lo rindukan dari kehidupan lo sebelum pandemi tuh apa?”

Zen : “Temen. Like seeing my friends kayak beneran lonely banget kalo di rumah doang. I’ve been quarantined for like, fully quarantined, for like a year or so. Hari ini gue baru keluar,”

Asrul : “Baru pertama kali keluar?”

Zen : “Iya,”

Asrul : “Wow!”

Zen : “I take the pandemic very seriously,”

Asrul :How do you cope though?”

Zen : “Untungnya gue ada keluarga sih di rumah. Jadi like my brothers and sisters. I’m very close with them. Jadi gue main sama mereka,”

Asrul : “Tapi mereka juga tau you are a non-binary person?”

Zen : “Iya. Dan some of them are LGBT. Soalnya pas kita growing up, kita shared our secrets and everything together like there are no secrets between us. We always told each other everything right. Apa ya, gue merasa untung banget punya kakak yang begitu progressive and open-minded. She was always open to like things about gay people and things like that, right. Dia pun orangnya juga bisexual or pansexual, I forgot. She keeps changing it. Ya gue apa ya, mengikuti her steps gitu lah,”

Asrul : “Dan mereka cukup bisa menerima who you are as a person, or just some of them?”

Zen : No. All of them,”

Asrul : “All of them,”

Zen : Because I make sure that my little brother and little sister grow up to be open-minded karena yang close-minded di keluarga kita tuh cuman orang tua kita doang,”

Asrul : “No one ever try… Belom pernah ada yang coba untuk ngomong sama mereka?”

Zen : “No, karena mereka tuh saking religious-nya dan konservatif-nya kita udah tau kalo kita come out kita bakal diusir dari rumah. Bahkan dengan my mental health, kan gue punya depresi. And when my mom found out about it, dia bukan malah bawa gue ke therapist tapi malah… Apa tuh namanya?”

Asrul : “Di-rukiyah?”

Zen : “Iya itu. Gue malah dibawa ke situ. Jadi kayak, emang hopeless gitu lah kalo sama orang tua gitu,”

Asrul : “Kalo love life lo sendiri gimana sih sekarang?”

Zen : “Gue dalam masa pandemi ini, sedih sekali. Gue lagi single sekarang. I never used dating apps before. Tapi kayaknya gara-gara pandemi gini gue kayak disuruh sama temen gitu kan. Coba lo download aja… I think it’s called Bumble or something. So they made me download that. Terus kan itu dating app yang kayak biasa, yang swipe right or swipe left gitu kan. And what I found out was tiap kali ada cowok, gue nge-swipe left. Jadi, oh jadi gitu lah ternyata. That was interesting,”

Asrul : “Boleh ini nggak, cerita juga pengalaman lo kali pertama using apps?”

Zen : “Apa karena gue nggak terbiasa, tapi nggak bisa dibawa ke mana-mana gitu lho. Kayak cuma nge-chat doang. Nanya hobi, terus udah. Susah banget gitu. Soalnya dulu my dating partners itu kan ketemunya kayak di kuliah gitu kan. Apa di mana gitu. Jadi gue kayak nggak bisa nge-connect tuh langsung buat nyari pasangan gitu kan. Biasanya kan teman dulu, terus baru jadi sesuatu gitu kan. Tapi ini langsung mau dijadiin sesuatu kan jadi susah aja,”

Asrul : “Mungkin cara berinteraksi ketika ketemu orang lewat apps or even like Instagram DMs, susahnya apa sih buat lo sendiri ya, ketika lo berinteraksi lewat apps? Ketika memulai kenalan, katakanlah dibanding ketemu langsung dengan orangnya?”

Zen : “Mungkin emang personality-nya gue sendiri kali ya. Gue emang nyampe jadiannya itu harus lama banget. Jadi temenannya harus lama banget. Terus kayak lebih gampang aja kalo ketemu langsung lewat app gitu kan rasanya kayak fake gitu. Kayak lebih ada barrier-nya gitu,”

Asrul : “Kalo kata temen gue sih, buat orang-orang yang punya masalah dengan trust issue gitu,”

Zen : “Bisa jadi,”

Asrul : “Kualitas atau sifat orang yang lo idamkan…?”

Zen : “Okay here we go. Jadi mungkin karena personality gue. Gue sebenarnya I’m a romantic gitu. Jadi gue maunya my partner ditemukan bukan harus nyari gitu lho. Gue kayak maunya destiny, kayak dicerita-cerita fairytale. Mungkin gara-gara sifat gue yang kayak gitu. Jadi gue, apa ya, rasanya kalo lewat dating app kayak fake gitu lah. Tergantung orangnya lah. Kan semua orang beda-beda,”

Asrul : “Do you have like an ideal relationship goal that you imagine perhaps?”

Zen : “Iya tapi apa ya, the bars are too high mungkin. Jadi kayak gimana ya, itu sangat dream or maybe not. I don’t know. Maybe the bar is low, ternyata. I don’t know anymore. Right, so I’m like 20 years old. And my whole life I thought I was bisexual. Tapi what I realized recently itu I didn’t realize that thinking someone’s beautiful or attractive doesn’t mean that I want to date them. Aku nggak nyadar sama itu. And like, I realized I never dated men before, I only dated women and non-binary people,”

Terus aku juga nyadar kalo aku sebenernya what I find attractive in men is their masculinity, tapi bukan men-nya. And what I actually find most attractive is masculinity in women. I didn’t realize that until recently. Because that Japanese theatre yang isinya cewek semua, and they even played the male roles and so like they have actresses that have short hair and they were (...) like that, I realized I was very attracted to them right. It’s like antara gabungan aesthetic value or performing masculinity is attractive, tapi I don’t know why, it just has to be in women. Because I’m attracted to women, apparently. And I think I didn’t realized this sooner gara-gara di media itu kan nggak banyak representasi butch women gitu kan yang really masculine women. So I think I didn’t realized that sooner because of the lack of representation in media,”

Asrul :So will you ever try to find love?”

Zen : “Ya mungkin ntar gue coba lagi, pas gue lagi nggak sibuk gitu,”

Asrul :Or is it just an excuse though?”

Zen : “Stop! Ya ntar kita liat lah,”

Asrul : “Tadi kan lo bilang memang lo nggak demen untuk mencari, tapi ditemukan,”

Zen : “Tapi kalo misalnya I’m friends with someone on social media for a long time, I’d date them. I had a past relationship where we met on Twitter or anything, tapi itu in the end kayak bentar gitu. Jadi that’s why I don’t know, kalo sama sosial media,”

Asrul : “Berarti udah berapa kali pacaran?”

Zen : I think the last one was my third one,”

Asrul : “Berarti tiga kali. Tiga relationship itu kira-kira yang mana yang mungkin mendekati ideal?”

Zen : “It’s the one where I said awalnya they identify as a woman, but at the end of our relationship they identify as a non-binary, I really liked that person. But it just didn’t work out,”

Asrul : “Gue bisa nyebut itu sebagai ini nggak sih, transisi gender kan berarti?”

Zen : “Iya bener,”

Asrul : “Kalo lo sendiri pada waktu itu, ada perubahan nggak sih? Atau itu mempengaruhi hubungan kalian?”

Zen : “Our relationship not working and them transitioning, it had nothing to do with each other. We were still dating the day they came out to me, and I was still in love with them. It didn’t change the fact that… Cause I’m attracted to non-binary people. Tapi ya, it makes me think of how other people, like what if they were attracted to a gender that they transitioned into? Kayak gue sering mikir yang kayak gitu. What if there was like a gay couple, and like one of them came out as a woman, like I think about would they stay with each other? I read stories like where they do stay with each other because pada akhirnya yang lo cinta kan orangnya ya. Like it doesn’t really matter what identity they have at the end of the day. So, biasanya they don’t break up,”

Asrul : “Is there any change in the nature of your relationship?”

Zen : “Paling we got closer because of it, because we were both non-binary, and we understand the same difficulties that we were going through and whatever,”

Asrul : “Do you have an ideal relationship? Tapi itu belom lo jelasin sih sebenarnya,”

Zen : Ideal relationship?”

Asrul : “Iya, buat lo sebenarnya kayak gimana sih ideal relationship?”

Zen : Maybe they share the same obsessions. But they don’t have to share the same obsessions, but they really support my obsessions. Like I’d be happy if they can do that. Cause like gue orangnya sangat enthusiastic about my hobbies kayak freak about my hobbies. I just need someone to understand and support me gitu. Soalnya I felt like a lot of my past relationship didn’t really care about it. Whenever I ramble about my interest or whatever, mereka kayak ya udah. Terus kayak agak sakit gitu.

Gue cuma butuh orang yang mau ngerti. Kan I’m 20 years old. And I thought I was bisexual my whole life. And then suddenly I’m starting to think I might be lesbian. It’s fine if you don’t know what your sexuality is, it’s fine if you change it. You’re not really changing it, you’re just realizing who you actually are. Bukan berarti kamu berubah gitu. Kamu cuma nyadar kamu sebenarnya siapa gitu. It just takes a while for you to get it together. It’s fine. Just take your time. There is no rush to find out who you are,”

Asrul : “Karena setiap orang punya prosesnya masing-masing kan seperti itu. Either finding yourself or love, gitu kan. Cinta, menurut kamu apa?”

Zen : “Pertanyaan ini, astaga. Like I said, I’m a romantic right. So like this topic is really important to me. Pertanyaan ini rasanya the hardest homework that I’ve ever had. Gue kayak semingguan mikirin kayak cinta tu apa. Kemarin malem gue ngebuka Google terus gue kayak mau bikin esai. Gue sampe opened like books Oscar Wilde, one of my favorite gay authors right. Mungkin ada quote yang bagus. I opened like.. Soalnya definisi mereka bagus-bagus semua. Soalnya cinta bagi tiap orang beda-beda kan. And like, all of them, their definitions are beautiful. And I can’t choose one. So, in the end I decided that, here’s what I wrote. What I wrote is very short. So in English: everything is love. And love is everything. Atau kalo di-translate, mungkin, mungkin gue salah soalnya bahasa Indonesia gue nggak begitu bagus. Segala hal itu cinta. Dan cinta itu segalanya. Udah, gitu doang,”

Asrul : “Wow, okay,”

Baca juga : Hexa dan Alena, Mister dan Miss Gaya Dewata 2018

Kalau kamu punya saran, komentar, atau ingin berbagi cerita, boleh banget email ke podcast@kbrprime.id dan tulis Love Buzz untuk subject emailnya.

Berasumsi mengenai identitas gender seseorang rasa-rasanya kok ya memang nggak tepat. Bertanya, belajar, dan berusaha memahami identitas gender seseorang sebenarnya juga bukan perkara political correctness. It’s a part of being a nice person. Itu sih menurut saya ya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ramai Cukai Rokok Mau Naik, Apa Kata Pakar dan DPR?