covid-19

Amar Alfikar: Transpria, Pesantren dan LGBTIQ+ Dalam Islam

Transpria dalam lingkungan pesantren dan LGBTIQ+ Dalam Islam

BERITA | RAGAM | INTERMEZZO

Senin, 11 Okt 2021 16:50 WIB

Amar Alfikar: Transpria, Pesantren dan LGBTIQ+ Dalam Islam

LOVE BUZZ : Amar Alfikar. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - Apa kabar? Love Buzz balik lagi dengan season terbaru. Hari terakhir di bulan Maret tanggal 31 yang tiap tahunnya diperingati sebagai International Transgender Day of Visibility. Satu hari yang didedikasikan buat merayakan transgender dan meningkatkan kesadaran akan diskriminasi yang dihadapi mereka di seluruh dunia serta merayakan kontribusi mereka kepada masyarakat tentunya. Episode pertama ini saya ngobrol bareng transpria, Amar Alfikar namanya. Bareng Amar, saya ngobrol perkara visibilitas transgender, LGBTIQ+ dalam Islam, dan cinta jarak jauh.

Anda mendengarkan Love Buzz bersama saya, Asrul Dwi.

Love Buzz. Membicarakan perkara yang tidak dibicarakan ketika berbicara perkara cinta.

Q & A

Asrul : “Banyak orang pas pandemi ini mau nggak mau kan aktivitasnya mungkin terbatasi atau berubah, ada penyesuaian. Kalau Amar sendiri bagaimana?”

Amar : “Ya sama lah semuanya sekarang pekerjaannya harus online gitu ya. Terutama karena pekerjaanku sebetulnya banyak di kayak organize workshop, training gitu, soal gender, soal queer, jadi karena pandemi semuanya harus beralih ke online, gitu. Aku bergabung di beberapa NGO, ada di Gaya Nusantara, tapi kemudian banyak juga di tingkat global juga, Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies,”

Asrul : “Yang lagi dikampanyein sekarang…?”

Amar : “Ya sama sih dengan yang sebelum pandemi juga, jadi intinya mengkampanyekan... Terutama yang jadi fokusku adalah mendorong tokoh-tokoh agama supaya bisa memberikan ruang yang aman gitu ya. Ruang yang nyaman, juga memproduksi tafsir-tafsir keagamaan yang ramah terhadap keragaman gender dan sexuality,”

Asrul : “Oke, menarik. Tapi sebelum ngobrolin soal itu, mungkin, yang saya tahu kan sekarang lagi apply beasiswa, gitu kan? Sudah ada kabar baik kah? Atau…?” (tertawa)

Amar : “Baru aja awal bulan ini, berapa minggu yang lalu itu lah, baru interview sih. Untuk hasilnya nanti kayaknya kalau nggak akhir Mei, Juni gitu ya, jadi masih tahap deg-degan,”

Asrul : “Semoga dapat kabar baik ya,”

Amar : “Amin…”

Asrul :...berkah pandemi,” (tertawa)

Amar : “He’eh. Semua ada berkahnya,”

Asrul : “Tapi kan ini bukan proses pertama kan, dulu sempet apply beasiswa yang lainnya juga dan punya pengalaman yang kurang mengenakkan gitu. Boleh cerita soal itu nggak?”

Amar : “Mungkin tanpa menyebutkan brand-nya. Jadi habis lulus itu mencoba ini ya, sempat apply salah satu beasiswa punya pemerintah. Jadi, nggak baca-baca dulu apakah ini inklusif dan sebagainya, jadi modal nekat lah ya. Terus ternyata udah lolos, tahap wawancara, ketika proses wawancara, em... Ternyata para interviewernya tidak berkenan dengan apa yang mereka lihat di dokumenku, which is, apa namanya, menggambarkan identitas genderku sebagai transpria… Jadi, apalagi status JK masih seperti akta lahir jadi mereka nggak nanya apapun terkait background akademik, mereka malah langsung menggali isu-isu personal yang menurutku nggak pantas untuk ditanyakan gitu. Jadi, ya, langsung deh ditolak. Tapi habis itu, kemudian jadi merenung kembali dan belajar bahwa oh memang mungkin aku belum siap, jadi dari situ malah akhirnya terjun ke aktivisme sih. Gitu,”

Asrul : “Itu tahun berapa?”

Amar : “Empat tahun lalu mungkin ya. Pokoknya… empat tahun lalu lah kira-kira,”

Asrul : “Jadi, materi wawancaranya yang dipentingin soal apa yang tertulis di KTP daripada prestasi akademik,”

Amar : “Bahkan malah nanya-nanya, ‘Lho kamu apa ini kok JK-nya perempuan, wujudnya kok laki-laki’. Terus mau nggak mau aku harus jujur, ‘Saya transgender, Bu.’ gitu. Tapi terus ditanya-tanya, mereka malah menanyakan keluarga, bagaimana tetangga kamu, bagaimana orang tua kamu, which is nggak ada hubungannya sama sekali dengan akademis, jadi oke lah,”

Asrul : “Ngapain tetangga ada urusannya. Tadi sempat disebutkan identitas gender Amar apa. How do you identify yourself?”

Amar : “I identify myself as a transman. Tapi kalau konteks Indonesia aku selalu ngomong dan mencoba membumikan istilah transpria gitu, supaya orang lebih mulai familiar dengan istilah itu karena aku pikir penting ya untuk melokalkan istilah-istilah ragam gender ke dalam bahasa lokal. Jadi transpria, transgender pria gitu lah. Karena apalagi kalau kita melihat misalnya istilah waria gitu ya yang sebetulnya, wanita pria itu sebenarnya banyak ditentang sama teman-teman transpuan atau transgender perempuan karena mereka lebih nyaman disebut transgender perempuan, karena kalau waria itu berarti kan masih ada ambiguitas di situ gitu ya, jadi ya hal itu menjadi sangat penting untuk dikampanyekan terus, disampaikan terus,”

Asrul : “Kalau kita ngomongin soal visibilitas gitu, dibandingkan dengan transpuan, transpria agaknya masih kurang gitu ya. Orang justru kurang familiar gitu nggak sih?”

Amar : “Bener banget. Dan sebelumnya nggak hanya di Indonesia ya, kalau kita lihat peta di tingkat global itu emang solidaritas transman atau transpria itu memang boleh dikatakan lebih rendah daripada transpuan karena transpuan memang mereka selalu apa ya, garda terdepan mungkin istilahnya begitu ya dalam gerakan queer atau gerakan ragam gender dan seksualitas. Jadi memang di Indonesia ya nggak jauh beda sebetulnya kalau kita ngomongin isu di tingkat global memang transpria boleh dikatakan lebih rendah visibilitasnya, lebih rendah keterlibatannya di dalam pergerakan gitu.

Mungkin salah satunya adalah karena faktor patriarki juga ya bahwa ketika seseorang katakan lah ‘memutuskan’ untuk bertransisi menjadi pria maka kayak dituntut society, ‘oh kalau kamu pria ya kamu harus macho’ dan sebagainya. ‘kalau kamu nggak macho kamu nggak bisa dong menyebut dirimu pria’ misalnya. Itu kan sebenarnya beban-beban patriarki yang beririsan dengan keengganan teman-teman transpria untuk terlibat gerakan gitu sih. Kalau menurutku sih begitu,”

Asrul : “Itu menarik soal patriarki dan tuntutan jadi laki-laki. Artinya ide-ide atau nilai-nilai sosial gitu kan yang mengikut, gitu ya. Sama halnya kayak menjadi perempuan. Tapi kalau Amar sendiri melihat atau menilai maskulinitas itu kayak gimana sih sebenarnya?”

Amar : “Maskulinitas itu menurutku adalah hak berekspresi maksudnya setiap orang itu siapa pun ya entah dia perempuan, laki-laki, non-biner, transgender sekalipun, maskulinitas itu salah satu ekspresi gender dan setiap orang apapun identitasnya berhak kok untuk memilih berekspresi maskulin atau feminin. Jadi menurutku nggak perlu juga kalau transpria harus, nggak harus juga maskulin, tapi ketika seseorang memang lebih nyaman menjadi maskulin ya, why not? Yang penting adalah kemudian tidak kemudian merendahkan yang tidak maskulin. Kira-kira begitu. Jadi konsep maskulin dan feminin itu ya harusnya diletakkan dalam konsep yang ya udah kebebasan orang aja gitu. Nggak perlu sambil nge-rendahin yang nggak maskulin gitu,”

Asrul : “Nonton ini nggak sih, Rupaul’s Drag Race?”

Amar : “Yes,”

Asrul : “Di season yang baru ini kan ada transpria yang kemudian dia jadi drag queen kan?”

Amar : “Iya,”

Asrul : “Itu ide mengenai menjadi laki-laki kayak gimana itu kayaknya di-challenge sama dia. Kalau di kita sendiri, di Indonesia, kayak gimana kemudian teman-teman transpria menempatkan diri dalam masyarakat? Banyak kah yang kemudian merasa dapat tuntutan sosial untuk berlaku super maskulin atau hyper maskulin gitu nggak sih?”

Amar : “Aku nggak tahu jumlahnya berapa tapi mostly ya, kebanyakan yang aku kenal, terutama teman-teman transpria yang katakanlah invisible ya, karena banyak teman-teman transpria yang… kayak itu tadi, tuntutan patriarki dan society, mereka memilih untuk..yaudah lah daripada di-bully lebih banyak mending jadi orang yang sesuai ‘tuntutan society’ gitu. Jadi ya memang mayoritas teman-teman transpria ini masih ketakutan dan masih harus mau nggak mau, sebetulnya itu juga bukan hal yang keliru, bagaimana pun kan society kita masih sangat phobic ya terhadap transgender.

Jadi jarang sih aku melihat bagaimana teman-teman transpria punya kebebasan untuk itu tadi, ‘oke gue transpria tapi tetep feminin’ misalnya. Nggak banyak tapi ada beberapa teman yang aku kenal terutama di gerakan yang mereka sudah sangat paham: isu identitas gender, ekspresi gender, orientasi seksual, mereka sudah paham banget dan udah nggak khawatir terjebak dalam ‘harus maskulin’. Kira-kira begitu,”

Asrul : “Melela. Kalau Amar dari kapan? Tahun lalu?”

Amar : “Sebenarnya kalau melela di kehidupan yang sesungguhnya…”

Asrul :Sesungguhnya?”

Amar : “...berarti ada yang ghaib ya? (tertawa) Nggak, maksudnya, melela di lingkungan keluarga, di lingkungan tetangga, itu udah… Sebelum lulus ya, berarti lima atau enam tahun yang lalu itu sebenarnya sudah melela dan ya gimana nggak melela kalau langsung kelihatan. Maksudnya dari yang berjilbab kemudian tidak berjilbab dan kemudian berpeci. Artinya semua orang di keluarga, di lingkungan, mereka tau. Dan itu udah aku lakukan 5-6 tahun lalu.

Cuma melela secara sosmed, kira-kira gitu ya, memang baru setahun lalu ketika pandemi. Dan itu sebenarnya didorong karena pandemi ini kan banyak sekali kasus-kasus pelecehan ya. Terutama teman-teman perempuan atau minoritas itu angkanya semakin meledak. Dan aku termasuk salah satu yang harus mengalami itu karena di rumah terus dan kemudian ada seperti saudara jauh banget gitu tiba-tiba datang dan melakukan pelecehan. Dan jadi tahun lalu kemudian aku memutuskan untuk raising donation buat top surgery dan juga sekaligus sebetulnya raising the issue of abuse itu terhadap kawan-kawan minoritas gender gitu sih,”

Asrul : “Kita ngomongin soal keluarga dulu kali ya. Tinggal di pesantren bukan sih?”

Amar : “Pesantren. Pesantren banget,”

Asrul : Nah. Pergulatannya kayak gimana?”

Amar : “Pergulatannya yang jelas, satu kata. Dahsyat. Jadi, Bayangkan… Sebetulnya ini menarik. Aku jadi ingat ya, ibuku dulu ketika aku kemudian melela kepada ibu, kepada beliau, kemudian kami berproses, ibuku selalu tanya, ‘Apa sih rasanya jadi kamu?’ dan aku selalu menanyakan balik kepada ibuku, ‘Ibu bisa nggak membayangkannya, ibu kan perempuan nih, ibu tidur terus bangun dalam tubuh laki-laki. Kira-kira perasaan ibu gimana?’ Itu salah satu diskusi yang pernah aku lakukan dengan ibuku. Dan beliau menjawab, ‘Ih ya rasanya nggak enak lah.’ ‘Itu yang aku rasakan, bu.’ Jadi, begitu.

Apalagi dengan kotak segregasi yang cukup ketat dalam pesantren, yang ‘harus’ banget kamu tinggal di bilik pesantren, tinggal sebagai santriwati gitu, terus berjilbab jadi santriwati, dan berinteraksi sebagai perempuan, misalnya begitu. Jadi ya pergulatannya cukup dahsyat, tapi aku beruntung bahwa aku dibesarkan di lingkungan pesantren di mana tafsir itu sangat diletakkan di konsep yang multi alias beragam.

Pesantren itu kan macam-macam ya, tidak tunggal. Ada pesantren yang fokus pada kitab kuning atau kajian-kajian, ada yang fokusnya pada menghafal Qur’an. Dan di pesantren-ku, di pesantren lingkungan sekitar, kami dididik untuk melihat suatu hukum atau suatu persoalan itu dengan kacamata atau lanskap fiqih. Islam yang sangat luas. Jadi, misalnya minggu itu di pesantren kami biasanya Bahtsul Masail jadi semacam simulasi. Jadi misalnya kita ngomongin apa sih hukum pakai Facebook? Misalnya gitu. Dan itu santri dituntut untuk punya pendapat yang berbeda dan punya rujukan yang berbeda juga. Artinya ada keragaman tafsir di situ yang diakui dan diberi ruang yang luas.

Nah, aku beruntung karena dibesarkan dalam tradisi pesantren yang sangat menghargai keragaman itu. Jadi di situ sebetulnya kemudian aku mempunyai ruang, tidak secara langsung, tapi punya landasan bahwa it’s okay to be different. It’s okay to have different interpretations. Jadi, pintu masuk keragaman itu yang kemudian membuatku punya ruang untuk meng-explore, jadi apa sih identitas gender itu? Ada nggak sih ruang ragam gender di dalam masyarakat muslim, misalnya.

Kemudian aku menemukan fakta-fakta yang sangat menarik, yang intinya mengatakan bahwa Islam itu merangkul, memberi ruang pada keragaman gender meskipun tidak populer tapi ada teks-teks yang berbicara soal itu. Nah jadi itu proses aku menemukan diri sendiri sekaligus kerangka keislaman yang lebih meneduhkan. Gitu kira-kira. Lebih memberikan ruang yang memvalidasi identitasku,”

Asrul : Waktu kuliah dulu pernah ngundang Shuniyya?”

Amar : “Itu tetangga saya,”

Asrul : Oh iya bener,”

Amar : “Kami cukup akrab. Sering saling berkunjung,”

Asrul : “Waktu itu kan dia nulis buku ‘Jangan Lepas Jilbabku’ dan dia sempat nyebutin beberapa ayat dalam Qur’an. Ada contohnya nggak sih, ayat apa dalam Al Qur’an yang menyebutkan itu atau ngasih landasan tadi yang Amar sampaikan?”

Amar : “Sebetulnya banyak ya. Jadi pertama, aku selalu ngomong gini, membaca teks tidak bisa secara tekstual. Kita harus paham konteksnya bahkan kerangka filosofis di balik ayat gitu. Nah, soal keragaman gender dan seksualitas tentu aja Al Qur’an tidak menyebut, ‘ini lho ada transgender di dalam Al-Qur’an’, “ada Facebook di dalam Al-Qur’an’ misalnya. Itu kan nggak mungkin kita temukan gitu kan, karena konteks zaman turunnya ayat itu waktu itu 1000 lebih tahun yang lalu, perkembangan ilmu pengetahuan tidak se-progressed sekarang gitu ya.

Nah, misalnya orang itu selalu pakai ayat begini, ‘Inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsa.’ Ayat ini selalu dipakai untuk mengatakan, ‘tuh kan, gender itu hanya ada min dzakarin wa untsa.’ Ada laki-laki dan perempuan aja, padahal kalau kita mau bicara ayat ini lebih jauh itu ada terusannya. ‘Inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsa waja’alnaakum syu’uuban waqabaa ila lita’aarafu.’ Jadi Allah itu menciptakan laki-laki dan perempuan dan juga menciptakan kamu dalam suku-suku yang berbeda-beda, dalam bangsa yang berbeda-beda, lita’aarafu supaya kamu saling mengenal.

Artinya sebetulnya ayat ini, Al-Hujurat ayat 13 itu menyampaikan bahwa esensi atau fitrah penciptaan itu beragam gitu. Dan tujuannya kenapa diciptakan beragam? Untuk saling mengenal, bukan untuk saling menyinyiri. Tapi supaya saling mengenal. Saling menghargai. Bahkan ayat ini terusannya sangat menarik dan orang sering lupakan. ‘Inna akramakum ‘indallahi atqaakum.’ Yang Allah lihat itu bukan wujudmu, bukan wujud fisikmu, tetapi ketaqwaan. Jadi ini sebetulnya kalau kita bicara secara luas, ini keren banget. Ayat ini hendak mengatakan, ya bentuk manusia itu, apapun bentuknya, mau laki-laki, mau perempuan, mau hidungnya ke atas, ke bawah misalnya, tetapi yang dilihat Tuhan bukan itu lho. Yang dilihat adalah ketaqwaan. Ketaqwaan ini bisa luas banget gitu.

Jadi dari satu ayat yang bahkan orang sering menggunakan ayat ini untuk menghakimi kelompok minoritas gender, kalau mau baca lebih dalam kita merenungkan lebih luas itu sebenarnya hendak mengatakan penolakan terhadap kebencian atau diskriminasi terhadap keberagaman. Sebetulnya itu,”

Asrul : “Bahkan mungkin nggak cuman manusia kali ya, yang dimaksud di situ kan? Makhluk yang lain kan ada. Bentukannya juga macem-macem. Tadi ada hal yang menarik juga. Kan kalau di pesantren itu, segregasi/pemisahan itu kelihatan banget antara laki-laki dan perempuan. Nah, ketika mulai transisi pasti ada juga shifting atau perubahan cara bersosialisasi, interaksi, dan sebagainya gitu. Kalau bagian itu, proses yang Amar lewatin kayak gimana?”

Amar : “Aku percaya transisi seorang transgender, apapun transisinya, maksudnya apakah (secara) sosial, politis, ekonomi, intelektual, bahkan psikologis, termasuk transisi secara spiritual, itu akan berlangsung sampai orang itu mati. Bahkan tidak hanya trans, sebetulnya tiap manusia pasti bertransisi. Dalam pengalamanku, bahkan sampai sekarangpun aku percaya ini akan terus berlangsung. Pro-kontra tuh selalu ada. Tetapi ada harapan sebetulnya. Karena di tengah penolakan, misalnya beberapa kali aku shalat Jumat dan harus diusir karena orang mengenali, ‘oh, kamu anaknya Pak Kyai ini. Kamu kan perempuan. Kamu nggak boleh shalat di shaf laki-laki’ misalnya. Itu beberapa kali terjadi.

Tetapi di tengah penolakan itu, aku merasa sebetulnya ada harapan. Misalnya ada momen di mana ada teman-temanku yang kemudian kami shalat berjamaah bersama dan mereka membiarkanku atau mengizinkanku atau bahkan mendorongku menjadi imam bagi mereka. Baik laki-laki maupun perempuan. Itu sedikit pengalaman yang membuatku empowered, gitu ya. Merasa berdaya dan merasa punya harapan bahwa proses ini akan terus ada. Tinggal kalau aku lihat, ya, tinggal setangguh apa aku atau teman-teman yang lain untuk menjalani proses ini gitu. Dan aku percaya bahwa we were born this way because we are a very resilient fighter. Jadi memang kita ini dipilih untuk jadi orang yang unik karena kita punya ketangguhan.

Termasuk kalau soal segregasi itu ya. Dari yang tadinya berjilbab, aku tidak langsung pakai peci. Tetapi aku membiarkan keluarga kemudian tetanggaku melihat proses transisiku secara sangat lembut atau smooth. Jadi aku lepas jilbabnya, kemudian aku ganti dengan sorban. Sorban itu kan bisa dipakai (seperti) jilbab gitu ya. Jadi, sorban itu menurutku unisex sekali. Jadi aku tadinya pakai jilbab, kerudung itu kemudian aku pakai sorban. Jadi ketika orang marah, aku kalungkan pertamanya, kemudian orang marah, ‘Pakai jilbabnya!’ aku pakai aja di kepala. Kalau orang udah nggak marah, aku kalungkan sorban itu. Lama kelamaan ya mengganti jadi peci dan ya orang juga… Tidak hanya transgender-nya yang bertransisi tapi orang-orang di sekitar juga bertransisi. Jadi aku menghargai bahwa orang itu juga proses. Jadi ya… pelan-pelan, lama-lama orang udah biasa, udah akrab, dan udah sangat hangat kalau di lingkunganku ya, mereka sangat hangat dengan (aku) yang sekarang,”

Asrul : “Tapi keliatan nggak sih ada perbedaan antara cara memperlakukan Amar yang sekarang dengan yang sebelum transisi gitu? Kan sebagai perempuan dan laki-laki, kan di pesantren juga cara memperlakukannya beda nggak sih, orang-orangnya gitu?”

Amar : “Itu ya, karena bagaimana pun patriarki itu masih… Apalagi di pesantren itu masih kuat, jadi sebetulnya aku merasa bahwa privilege yang dipunyai oleh transpria adalah ketika dia bertransisi sebagai laki-laki, dia punya privilege itu, bahwa dia akan dianggap lebih ‘superior’ misalnya. Dan itu memang aku alami. Jadi kayak, hal-hal kecil bahkan sebetulnya, ‘kan kamu sekarang udah cowok, angkat dong galon. Angkat dong pancinya.’ Segede ini kan. Apalagi kalau ada HAUL atau apa kan itu gede-gede banget. Harus itu. Hal-hal gitu lah. Dan memang aku alami. Jadi semua-semuanya suruh aku yang gantiin.

Cuma aku memang selalu menggunakan kata-kata yang halus, ya tapi kan mengangkat galon itu nggak pekerjaan cowok, siapapun yang mau minum ya angkat aja galon atau apapun lah. Tapi perubahan itu pasti ada. Tapi kalau aku sih selalu pakai bercandaan aja ya dengan lingkunganku, karena ya kalau serius nanti sakit hati. Jadi buat bercanda aja gitu,”

Asrul : “Sekarang berarti kalau di lingkungan pesantren atau di sekitar kampung, orang-orang sudah bisa menerima gitu ya?”

Amar : “Menerima. Tapi kan ada misalnya sedikit hal yang... Sebetulnya aku sendiri yang tidak nyaman dan aku tidak ingin membuat orang tidak nyaman. Maksudnya gini, beberapa kali aku diajak ke acara tradisi keagamaan bapak-bapak. Aku diajak oleh bapak-bapak itu. Tapi aku menolak karena aku merasa, pertama, aku tidak ingin menimbulkan orang tidak nyaman.

Misalnya aku sholat dengan bapak-bapak itu, kemudian mereka sholat sambil mikirin gimana ya sholat saya. Itu kan sebetulnya aku menimbulkan orang meragukan ibadahnya sendiri. Karena menurutku esensinya aku juga tidak ingin memaksakan meskipun aku sangat meyakini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam itu setara, termasuk soal ibadah. Tetapi kan aku tidak bisa memaksakan pendapat itu terhadap orang-orang di sekitarku.

Jadi intinya saling menghargai saja bahwa mereka sudah menganggapku “bagian” komunitas bapak-bapak ini. Tetapi pada saat tertentu, mungkin bukan sekarang tapi suatu saat nanti kalau aku sudah jadi bapak-bapak, karena sekarang masih muda ya. Mungkin nanti dulu ya, Pak,”

Asrul : “Proses itu sudah dilewatin di lingkungan tempat tinggal gitu. Kemudian beralih ke sosial media. Melela di sosial media. Itu kan dunia yang lain banget. Responnya jadi liar banget gitu kan?”

Amar : “Iya sih. Beberapa,”

Asrul : “Kayak gimana men-handle itu? Atau cara Amar sendiri untuk merespon respon dari netizen itu?”

Amar : “Yang pertama aku sadari adalah bahwa tidak semua respon harus direspon. Pertama yang bikin mental breakdown gitu ya. Beberapa kali orang mengirim Youtube link ke aku, dan aku buka, ternyata (isinya) ada ustadz sedang membahasku dan sebagainya dengan narasi-narasi yang sangat phobic. Dan aku nggak tonton karena buat apa. Maksudku, aku sudah menemukan diriku sendiri, sudah nyaman dengan diriku sendiri, jadi aku tidak butuh lagi berperang dengan orang lain yang tidak memahami itu.

Makanya ketika di sosial media aku selalu fokus pada orang-orang yang memberikan respon positif atau teman-teman yang masih kebingungan dengan dirinya sendiri. Banyak yang nanya misalnya aku harus bagaimana dan sebagainya. Jadi menemani mereka yang belum menemukan dirinya sendiri dan juga fokus pada orang yang mau belajar, bukan fokus pada orang yang marah. Karena kita tidak akan selesai untuk menanggapi orang yang marah karena sebetulnya mereka marah dengan dirinya sendiri karena tidak paham, karena tidak memahami lanskap keragaman gender ini. Jadi menurutku itu buang-buang energi. Jadi energinya bisa diluapkan ke hal lain yang lebih produktif,”

Asrul : Argumen-argumen banyak orang biasanya kan kalau kemudian mereka menentang soal keragaman gender dan orientasi seks adalah… Kalau di Islam yang sering dipakai kan kaum Nabi Luth dan kalau transgender kan ada soal mengubah tubuh ya? Termasuk tato dan sebagainya. Untuk menjawab argumen yang semacam ini ada tafsir lain nggak sih soal dua hal ini?”

Amar : “Sebelum aku melela secara sosmed itu ya, aku sudah menulis beberapa artikel yang kemudian dibukukan dalam Bunga Rampai Essay yang ditulis oleh teman-teman aktivis dan tokoh-tokoh agama yang ramah (terhadap) keragaman gender. Bahkan tahun lalu juga menyusun booklet, booklet sangat tipis dan sederhana, soal tafsir progresif Islam dan Kristen terhadap keragaman gender dan seksualitas: Panduan Memahami Tubuh dan Tuhan. Jadi basis argumentasinya sudah ditemukan.

Jadi intinya adalah kalau kita bicara soal Islam nih, fuqaha atau ahli fiqh zaman dulu, zaman klasik, itu sudahterhadap keragaman ketubuhan orang atau manusia. Jadi kalau dalam Islam itu ahli fiqh sangat familiar dengan istilah al-khuntsa atau yang kita pahami hari ini, interseksual. Jadi orang yang tubuhnya kombinasi antara betina dan jantan.

Kemudian ahli fiqh juga kenal dengan mukhannats, itu istilah zaman dulu sekali yang merujuk kepada orang yang biologisnya tertentu tapi ekspresinya itu the opposite gender. Bayangkan ya, 1000 tahun lebih lalu, belum ada ilmu psikologi, belum ada ilmu kedokteran untuk melihat kromosom tapi zaman itu sudah bilang ini lho ada mukhannats. Ini lho ada al-khuntsa. Itu kan sebetulnya esensinya ingin mengatakan bahwa, oh, betapa tubuh manusia itu nggak cuma laki-laki dan perempuan.

Ekspresi manusia juga tidak selalu laki-laki harus maskulin atau perempuan pasti feminin. Jadi kalau kita merujuk pada fakta ini sebenarnya ini sudah tanda besar banget gitu. Bahwa hukum agama, tidak hanya Islam, seharusnya merujuk kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Termasuk soal gender, soal orientasi seksual. Jadi kalau masih pakai pengetahuan-pengetahuan jadul gitu, yang outdated, yang kemudian untuk justifikasi kekerasan, itu kayaknya sudah jauh dari semangat teologi sendiri yang sebetulnya untuk saling beriring-iringan dengan kemanusiaan,”

Asrul : “Kalau nggak salah aku pernah baca, bahkan di lingkungan terdekat Nabi Muhammad ada al-mukhannats, salah satu pengasuh atau apa gitu ya?”

Amar : “Benar. Jadi ada satu artikel yang sangat menarik, ini judulnya ‘Waria dalam Islam: Sosok Bermartabat yang Dimuliakan Tuhan’ ini ditulis oleh lulusan Lirboyo, pesantren yang sangat terkemuka di Jawa Timur. Namanya Kyai Khoirul Anwar. Beliau menulis sangat bagus sekali. Beliau merujuk pada kitab-kitab klasik dan beliau menemukan kitab qablal Islam atau apa itu, di situ disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad itu sudah ada transpuan atau al-mukhannats. Kemudian ketika Nabi datang, masih ada juga. Bahkan dilibatkan oleh Nabi sebagai pembantu rumah tangga, bahkan ditempatkan di bilik-bilik istri Nabi. Artinya si al-mukhannats diperlakukan sebagai perempuan.

Nah, tapi suatu ketika ada al-mukhannats yang setelah keluar dari bilik istri Nabi, dia ngomongin soal tubuh perempuan-perempuan yang ada di rumahnya Nabi dan kemudian baru tersadar bahwa dia memiliki ketertarikan seksual terhadap perempuan. Maka turun lah hadis yang mengatakan Nabi melaknat orang yang berperilaku feminin. Jadi sebetulnya hadis yang melaknat, kan ada ya hadis yang mengatakan Nabi melaknat laki-laki yang berperilaku perempuan dan perempuan yang berperilaku laki-laki. Padahal konteksnya hadis ini turun, atau asbabul wurud istilahnya, konteks turunnya hadis ini adalah al-mukhannats yang sebetulnya bukan al-mukhannats tapi berpura-pura, kira-kira ya, supaya dia bisa akses ke kamar perempuan, melihat tubuh perempuan, dan sebetulnya kan itu eksploitatif dan pelecehan jatuhnya. Jadi konteksnya itu sebetulnya. Sejarahnya al-mukhannats pada masa Nabi,”

Asrul : “Dan hadis itu dipakai juga buat orang-orang yang kontra terhadap orientasi seksual juga kan?”

Amar : “Bener banget,”

Asrul : “Berarti itu juga debatable, penggunaan hadis itu ya. Kalau soal orientasi seksual dalam Islam kayak gimana, Mas?”

Amar : Sama sih ya, kalau dari pembacaan ku selama ini. Ada nih salah satu yang sangat baru aku pelajari. Di dalam buku ‘Tafsir Kontekstual Islam’ yang ditulis oleh Ustaz Arif Nuh Safri, salah satu pengasuh di Pesantren Waria Jogjakarta. Jadi beliau menemukan ada hadis yang mengatakan begini, kalau ada orang yang mengolok-olok, ‘Hai, Kaum Luth!’ atau ‘Hai, al-mukhannats!’ maka hukumlah orang yang mengolok-olok itu. Ini menarik banget hadis ini. Dan tidak pernah dibuka gitu, tidak pernah dipakai. Padahal hadis ini bagus banget untuk mengatakan kalau kamu mengolok-olok orang dengan tudingan kaum Nabi Luth, berarti sebenarnya dia sendiri yang sebenarnya boleh dikatakan ‘berdosa’ karena dia mencaci maki orang lain. Kira-kira gitu ya. Itu menarik banget. Dan tidak banyak orang yang mau belajar soal itu ya,”

Asrul : “Kemudian saya jadi bertanya, kayaknya jadi terkesan bahwa ada kesengajaan untuk mengeliminasi hadis atau bahkan pembacaan-pembacaan yang berbeda. Itu kenapa?”

Amar : “Jawabannya ini sama dengan kenapa banyak hadis atau tafsir yang merendahkan perempuan. Kan banyak banget tuh hadis yang bahkan sampai bilang, meskipun perempuan itu sujud di kakinya laki-laki tetapi ludah laki-laki lebih mulia dari si perempuan atau hadis-hadis misoginis yang sangat merendahkan itu sebetulnya juga sama gitu ya konteksnya, bahwa situasi politik, kemudian perebutan wacana.

Bayangkan aja kalau kita… Aku melihatnya begini. Misalnya ada orang merumpi gitu ya, eh si A begini. Kemudian aku sampaikan nih ke Mas Asrul. Mas Asrul ngomong ke si C beda lagi. Ditambah-tambahi, dikurang-kurangi. Bayangkan itu terjadi dalam waktu 1000 tahun lebih. Itu jadi banyak narasi-narasi hadis atau tafsir-tafsir yang sudah ditambahin, dikurangin, dan akhirnya dijadikan alat untuk menjustifikasi kekerasan atau diskriminasi.

Jadi intinya, pegangannya kalau aku sederhananya adalah apapun tafsirnya, teksnya, itu ditujukan harusnya untuk keadilan dan kemanusiaan. Tapi kalau kemudian ada orang yang menggunakan untuk kebalikannya, untuk menindas, untuk merendahkan, itu berarti dia sudah keluar dari esensi agama itu sendiri. Kalau aku melihatnya, berpegangnya, itu sih,”

Asrul : “Indonesia sebelum Islam masuk kan mengakui ragam gender dan orientasi seksual itu ya. Tapi di sisi lain, pas masuk, Islam kan sangat cair sebenarnya. Ada asimilasi atau percampuran gitu dengan budaya lokal. Tapi kenapa semacam itu nggak diadopsi juga ke dalam Islam?”

Amar : “Banyak teori sebenarnya. Kalau kita baca jurnal-jurnal itu ada yang mengatakan begini, jadi negara-negara yang pernah dijajah oleh Eropa itu biasanya adalah negara-negara yang hari ini sangat queer phobic terhadap transgender atau homoseksual. Itu ada teori yang mengatakan hal itu dan itu bahkan ada risetnya. Menurutku menarik untuk melihat bahwa selama ini yang kita tuding sebagai produk barat, wah menjadi gay itu produk barat, itu malah jadi plot twist gitu. Ternyata kebalikannya.

Yang penjajah tinggalkan ke negara-negara yang dijajah termasuk Indonesia itu sebetulnya adalah produk-produk yang homophobic itu tadi, yang menolak keragaman, termasuk gender dan orientasi seksual. Kalau kita baca ya, banyak jurnal itu begitu. Tetapi kalau kita melihat juga perkembangan ekstremisme agama, itu juga berperan penting kenapa misalnya lima gender di Sulawesi itu semakin terkikis karena adanya penolakan dari kelompok-kelompok ekstrem. Jadi ya semua faktor apapun itu berpengaruh kepada kenapa sekarang orang sangat menolak ragam gender padahal ini sudah ada dalam kebudayaan dan tradisi spiritualitas di dunia,”

Asrul : “Tadi kasih contoh di Sulawesi gitu ya. Tapi kalau di Jawa bagaimana?”

Amar : “Di Jawa ada ya, warok-gemblak misalnya, di Ponorogo dan sebagainya gitu. Bahkan kalau istilah-istilah Jawa tuh ada misalnya sampai sekarang saya dipanggil dengan istilah wandu,”

Asrul : “Masih ada orang yang pakai istilah itu?”

Amar : “Iya. Artinya istilah itu kan ada ya. Artinya itu bukan istilah baru. Berarti ya memang ragam ekspresi gender orang itu udah ada di berbagai kebudayaan termasuk Jawa misalnya, di mana aku juga berasal. Jadi ya… intinya itu eksis lah di mana pun,”

Asrul : “Tadi kita ngomongin soal banyak keragaman gender dan pandangan Islam soal keragaman gender dan orientasi seksual. Sebenarnya kan Islam dibilang sebagai ajaran kasih atau cinta kasih gitu lah ya. Islam sendiri, kalau kemudian kita hubungkan dengan soal keragaman gender dan orientasi seksual gitu, memandang cinta di antara teman-teman yang gender minoritas dan seksual minoritas gimana sih?”

Amar : “Menarik ya, kalau kita baca sejarah masyarakat muslim terutama di era-era Ottoman Empire atau Turki Usmani misalnya. Itu kita akan baca betapa homo erotisme, atau romance same sex gitu ya, teman-teman yang gay ini yang sangat dirayakan di dalam kita-kitab klasik. Bahkan misalnya Abu Nawas gitu ya, salah satu tokoh yang sangat dikagumi dan salah satu senandungnya masih dibaca oleh banyak muslim di Indonesia, itu beberapa syair-nya dia mengungkapkan rasa cintanya terhadap laki-laki lain,“

Asrul : “Wait. Seriusan?”

Amar : “Serius. Baru tahu ya? Nih nanti baca buku, kalau Indonesia ya, ada judulnya ‘Fiqh Seksualitas’ ya, itu diterbitkan oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Itu tahun berapa… 2007? Pokoknya udah lama lah, buku itu sebetulnya. Nah di dalam buku ‘Fiqh Seksualitas’ ini, Kyai Husein Muhammad, ini bukan tokoh main-main, beliau ahli tafsir Qur’an, ahli hadis dan sebagainya. Dan beliau menulis salah satu puisi Abu Nawas yang Abu Nawas tujukan kepada laki-laki bernama Muha.

Jadi di dalam kitab Tarikh al-Khulafa, sejarah para khalifah, itu Abu Nawas menuliskan puisi cintanya untuk laki-laki yang dia kagumi, yang dia cintai, bahkan di situ dia bilang gini, ‘Aku memang tidak suka dengan sinden-sinden perempuan, karena aku lebih suka dengan si Muha. Meskipun kamu mencaci aku sampai mati, aku akan mencintai Muha sampai mati.’ Jadi ini powerful banget. Tapi tidak banyak orang yang tahu.

Tetapi baca deh, buku Fiqh Seksualitas. Aku ada kompilasi sih di Google Drive, itu aku beri akses ke publik termasuk salah satunya buku itu yang bahkan ada teks Arabnya juga yang Husein tuliskan dalam buku itu. Itu salah satu lho, di antara banyak syair-syair homo erotisme yang ada di sejarah masyarakat muslim zaman dulu,”

Asrul : “Itu secara tekstual ada. Tapi penerimaannya kayak gimana? Islam menerima itu nggak sih sebenarnya? Kan antara kultur dengan agama agaknya beda, orang melihatnya,”

Amar : “Aku selalu bilang, rokok itu halal atau haram, jawabannya ada yang halal, ada yang haram. Karena begitu ya. Kalau kita nanya apa sih hukumnya jadi transgender, jadi gay, dan sebagainya. Kita harus belajar mengatakan tidak ada jawaban tunggal. Karena aku tidak percaya kalau orang mengatakan, menurut Islam rokok itu haram. Nggak ada. Karena Islam itu agama dan tafsirnya lah, pemikiran sebagai muslim yang kemudian mengatakan ini halal atau haram, artinya ada dialektika muslim di situ. Karena Islam ini nilai, jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam berkata demikian karena nggak bisa, Islam itu nilai atau agama. Dia tidak berkata sendiri.

Tapi banyak banget orang pengikutnya, pemikirannya banyak banget, mazhab-nya belum ada banyak banget. Jadi kalau dikatakan, bagaimana ini soal ya aku selalu mengatakan tafsir yang manusiakan ragam seksualitas itu beragam juga. Ada ulama yang mengatakan, ya kalau perasaan doang mah gapapa, namanya juga perasaan, itu kan datangnya dari Allah. Tapi ada ulama yang kemudian mengatakan bahkan sampai seksualitasnya pun gak papa lah, yang penting atas dasar consent, kesalingan, dan tidak ada paksaan gitu. Jadi banyak sebetulnya, pendapatnya. Jadi tinggal ikuti keyakinan yang mana. Kalau aku tidak kemudian selalu mengatakan atau memaksakan bahwa hanya ini yang benar, tapi kembali kepada tafsir yang mana yang setiap orang itu yakini,”

Asrul : Balik lagi ke pasal pertama tadi, keragaman. Itu termasuk juga penafsiran gitu ya. Kita ngomongin soal cinta. Aku tadi sempat liat di Twitter…”

Amar : “Stalking, ya?”

Asrul : “Iya, lumayan. Agak creepy-creepy gimana gitu. Pekerjaan sebenarnya. (tertawa) Ada bagi lirik lagu Nancy Ajram gitu kan. Lagi jatuh cinta?”

Amar : “Nggak sih. Aku setiap hari jatuh cinta dengan diriku sendiri. Narsis banget. Nggak, maksudnya, aku selalu menemukan cinta di mana pun gitu. Cinta tuh universal banget. Itu bisa bermakna cinta untuk orang tua, atau apapun. Cuma aku senang banget sama lagu-lagu Arab. Sejak SMA. Jadi menurutku apa ya, kultur Arab, bahasanya aja rumit banget. Tapi indah kalau kita baca lagu-lagu Arab. Nancy Ajram itu salah satu penyanyi favorit gitu. Jadi suka aja gitu. Kemudian lagu yang versi Arabnya, kemudian maknanya apa, dan kadang aku punya hobi yang meng-Indonesia-kan lagu Arab gitu ya. Tapi kemudian aku ubah dengan diksi-diksi yang puitis, yang kayak gitu-gitu lah. Ya maklum lah, lulusan Sastra Indonesia,“

Asrul : “Saya juga lho sebenarnya. Sastra Indonesia.”

Amar : “Jadi biar jiwa kesastraan Indonesia-nya nggak terlupakan. Jadi salah satunya dengan itu,”

Asrul : “Cuman pas kelas bahasa Arab, anaknya suka duduk di belakang. Biar bisa tidur. Tapi ini nggak sih, karena pandemi, terpengaruh juga gitu kan, soal perkara urusan cecintaan. Sedang mencari kah atau gimana sih kalau sekarang?”

Amar : “Sudah. Sedang dalam relationship. LDR (Long Distance Relationship). Sudah tiga tahun ya mungkin. Cuma aku memang tipikal orang yang tidak suka mengumbar kemesraan gitu ya. Karena cukup kami yang menikmati keindahan cinta. Kalau dibagi-bagi nanti nggak autentik,”

Asrul : “Berarti ini dong, pandemi nggak berpengaruh banyak?”

Amar : “Nggak, karena udah terbiasa LDR. Jadi ya, sama aja,”

Asrul : Susah nggak sih LDR?”

Amar : “Sama aja, kayak kalau nggak LDR pun ada tantangannya sendiri, kalau LDR ada tantangannya sendiri gitu. Sama aja menurutku. Punya tantangannya masing-masing sih. Karena aku tipikal orang yang bareng terus itu juga nggak sehat sih. Jadi berilah jarak pada cinta agar rindu tetap menyala. Gitu kira-kira. Ngeri banget ya,”

Asrul : “Tapi komunikasi kayak gimana? Komunikasi penting karena itu tadi, banyak menduga-duga sedang ngapain, sebagainya, paranoia. Kayak gimana tuh biasanya?”

Amar : “Trust itu paling penting ya. Dan aku dan pasanganku bukan yang ribet. Maksudnya gini, udah lah. Jadi kalau kami marah, kami tau. Udah itu marah aja. Nggak kemudian berpikir yang terlalu obsess kita harus hubungan ini begini, nggak juga. Jadi seperti air mengalir aja, dinikmati,”

Asrul : “Tiga tahun itu cukup lama lho sebenarnya. Melepas rindunya kayak gimana?”

Amar : “Cukup dengan video call. Dan voice call. Ya kalau nggak pandemi jelas lah kami pasti ngedate. Tapi pas pandemi memang… Karena dia lagi di luar negeri juga, jadi... Ya sudah lah ya, nikmati takdir dan nasib ini,”

Asrul : Ketemunya waktu itu gimana?”

Amar : “Jadi sebetulnya dia teman SMA aku. Dulu kami satu pesantren. Tapi waktu kami satu pesantren nggak ada apapun bahkan biasa aja, biasa banget. Nggak tahu, kayaknya setelah aku transisi kemudian charming-nya dia keluar. Dan kayak attract. Pede banget ya. Jadi ya itu lah, kemudian bermula dari kepo-kepo, jadi curhat-curhat, dan oke lah mari kita lakukan hubungan ini,”

Asrul : “Berarti dia punya kesadaran kan kalau Amar transpria?”

Amar : “Iya banget,”

Asrul : “Oh, oke,”

Amar : “Karena tiga tahun kan. Maksudnya tiga tahun dulu SMA bareng dan itu di pesantren jadi tau banget,”

Asrul : “Sebagai transpria, artinya heteroseksual kan berarti?”

Amar : “Kalau soal orientasi seksual, aku termasuk yang tidak terlalu meributkan apakah aku ini hetero, atau apa, atau bi, atau apapun. I don’t care about that. About the label. Kalau soal orientasi seksual ya. Yang penting kalau aku punya perasaan terhadap seseorang dan aku tau ini perasaan romance, ya udah, I will go for it. Intinya kalau soal teorinya ya, kalau orang itu mendefinisikan dirinya sebagai transgender, misalnya nih transpria dan dia tertarik dengan perempuan, maka secara teori dia hetero.

Meskipun faktanya di lapangan banyak kok teman-teman transpuan yang mereka attracted to women dan kemudian mereka menyebut I’m a lesbian. Atau transpria yang attracted dengan laki-laki dan menyebut mereka gay. Secara teori ya gitu. Ketika transgender ini attracted dengan orang lain, yang kita lihat bukan biologisnya tapi identitas gendernya. Jadi kan banyak orang salah paham kayak kalau transpria terus sama cowok berarti hetero. Kalau sama cewek berarti lesbian, misalnya. Banyak yang masih salam paham gitu padahal secara teori nggak begitu. Tetap yang dilihat adalah identitas gender dia,”

Asrul : Tapi setelah tiga tahun gitu, pandemi kelar... tapi masih pengen sekolah juga ya. Tadinya mau nanya, tiga tahun biasanya kalau orang Jawa udah disuruh nikah pasti kan?”

Amar : “Iya. Kebetulan kami orang yang sangat santuy maksudnya kami mah nggak peduli dengan society mau nuntut kami bagaimana. Nggak peduli karena hidup udah se-merdeka ini ngapain ngikutin tuntutan orang lain. Jadi mengikuti kata hati aja yang bikin nyaman, bikin bahagia, bikin merdeka gitu,”

Asrul : “Tapi ada nggak sih, mungkin cita-cita buat nanti menikah?”

Amar : “Aku cita-citanya adalah hidup dengan orang yang menyayangi, menerima apa adanya, dan kami tinggal bareng dengan prinsip kesalingan pokoknya itu impianku dalam soal relationship. Entah apa di Indonesia atau di luar negeri, itu urusan belakangan gitu. Itu cita-cita ke depan yang long-term goal-nya itu. Tapi untuk saat ini, prioritasku adalah studi sih sebenarnya. Jadi prioritas relationship kayaknya nomor kesekian buatku ya saat ini,”

Asrul : “Apa makna atau arti cinta buat Amar?”

Amar : “Wah ngeri banget nih pertanyaannya. Arti cinta. Cinta itu adalah anugerah Tuhan yang paling indah, paling dahsyat, karena cinta itu menuntun, bukan menuntut ya. Kalau menuntut itu artinya kita masih terpenjara dalam cinta. Tapi cinta itu harus menuntun, bukan menuntut. Jadi menuntun kita untuk merdeka itu yang paling penting ya. Untuk menjadi diri kita sendiri, dan menemukan kebahagiaan, tidak dibatasi kebahagiaan hanya dengan pasangan tapi artinya cinta yang memberikan kita ruang untuk terbang. Terbang itu bisa macam-macam. Sexuality, mentally, tapi juga academically. Atau spiritually. Jadi macam-macam. Tapi intinya, cinta itu memerdekakan,

Kalau kamu punya saran, komentar, atau ingin berbagi cerita, boleh banget email ke podcast@kbrprime.id dan tulis Love Buzz untuk subject emailnya.

Satu hal yang menurut saya cukup menarik dan perlu untuk saya highlight, Islam ternyata mengakui dan menerima keberagaman. Nggak sekadar suku, bangsa, dan jenis kelamin, tapi juga ada ruang untuk ragam gender dan tafsir terhadap ajaran agama itu sendiri. Tapi apapun tafsir, apapun teksnya, itu harusnya ditujukan untuk keadilan dan kemanusiaan. Sementara kalau sebaliknya, digunakan buat menindas, merendahkan, atau mendiskriminasi, artinya sudah keluar dari esensi beragama itu sendiri. 

Baca juga : Catatan Kelam 12 Tahun Persekusi LGBT di Indonesia 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Sistem Dukungan dalam Pengambilan Keputusan

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7