Rencana Vaksinasi, Indonesia Siap?

"Jika nantinya vaksin Covid-19 ini sudah bisa digunakan, masyarakat harus tetap mempertahankan kebiasaan melaksanakan protokol kesehatan."

NASIONAL | RAGAM

Rabu, 28 Okt 2020 08:28 WIB

Author

Elysa Rosalina

Rencana Vaksinasi, Indonesia Siap?

Ilustrasi Pemberian Vaksin/ Antara Foto

KBR, Jakarta- Kementerian kesehatan memastikan vaksinasi Covid-19 akan dimulai pada November 2020. Program vaksinasi dilakukan karena pemerintah sudah mendapatkan komitmen penyediaan vaksin dari sejumlah vaksin luar negeri sebanyak lebih dari 200 juta dosis vaksin.

Selain dari luar negeri, Indonesia kini juga mengembangkan vaksin dalam negeri. Vaksin dengan nama Merah Putih ini merupakan hasil penelitian dari lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Vaksin ini ditargetkan rampung pada pertengahan 2021.

Menurut Peneliti Vaksin yang juga Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, ada dua skala besar dalam perkembangan vaksin yang ditugaskan kepada lembaga Eijkman yaitu skala laboratorium dan skala industri.

“Dalam pembuatan vaksin Covid-19 ini, kami hanya diberi waktu dua belas bulan sejak akhir Maret. Jadi target kami memang akan diselesaikan pada bulan Februari atau Maret tahun 2021. Sehingga harapannya, bulan April 2021, kami sudah bisa mulai melakukan uji praklinis pada hewan,” tutur Amin Soebandrio, dalam program Ruang Pubik KBR, Senin (27/10/2020).

Jika nantinya vaksin Covid-19 ini sudah bisa digunakan, Amin menegaskan masyarakat harus tetap mempertahankan kebiasaan melaksanakan protokol kesehatan.

"Sebelum ada vaksin kita semua harus menjalankan protokol kesehatan, harus menjalankan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Ketika vaksin sudah ada kita tetap harus menjalankan 3M. Tidak berarti bahwa vaksin ada langsung serta merta pandemi hilang, karena virus ini mungkin akan tetap berada bersama kita untuk waktu yang lebih lama, jadi tetap kita harus melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Sekali lagi sebelum ada vaksin (kita melaksanakan) 3M setelah ada vaksin (kita tetap melaksanakan) 3M. Karena vaksin tidak menggantikan 3M," tegas Amin.

Di tengah pengembangan vaksin, lembaga independen Lapor Covid-19 menyatakan masih banyak masyarakat yang ragu terhadap percepatan penggunaan vaksin. Berdasarkan hasil survei Lapor Covid-19, 69% responden ragu-ragu menerima vaksin Sinovac Bio Farma dan 56% responden juga ragu-ragu tidak bersedia menerima vaksin Merah Putih hasil kolaborasi Eijkman dan Bio Farma.

Lapor Covid-19 melakukan survei pada 22 September-3 Oktober 2020. Responden survei ini berasal dari 34 provinsi dengan jumlah total respondennya adalah 2.109 responden.

Menurut Kolaborator Ahli Lapor Covid-19, Dicky Pelupessy, survei ini dilakukan untuk melihat pengetahuan masyarakat tentang dua jenis vaksin, yaitu vaksin Sinovac dan vaksin Merah Putih.

“Hasilnya, kami mendapati bahwa jauh lebih banyak yang memang pernah mendengar vaksin Sinovac, yaitu sebanyak 68% dan 47% yang pernah mendengar vaksin Merah Putih,” kata Dicky.

Ia menambahkan, hasil survei menandakan, masih banyak masyarakat yang ragu terhadap vaksin Sinovac Bio Farma, yaitu sekitar 69%. Menariknya, vaksin Merah Putih yang kurang diketahui justru mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari masyarakat.

“Exposenya kurang, masyarakat yang tahu vaksin Merah Putih juga hanya 47%, tapi yang bersedia justru angkanya lebih tinggi dari vaksin Sinovac. Nah ini memang menarik ya, ketika Sinovac diexpose secara masif, tapi justru persetujuannya lebih rendah daripada Merah Putih,” jelasnya.

Adanya keraguan yang cukup besar dari masyarakat, menurut Dicky dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat Indonesia mengikuti informasi dan bersikap rasional. Informasi yang didapat tersebut yang kemudian menjadi sumber keputusan mereka. Dalam hal ini, bisa dilihat bahwa masyarakat masih berusaha untuk mencari informasi sebanyak mungkin.

“Menurut saya, model komunikasi publik yang kurang meyakinkan itu juga yang kemudian membuat masyarakat tidak yakin dengan vaksin. Hari-hari ini kita tahu, awalnya dikatakan akan dilakukan November kemudian diundur, informasi yang inkonsisten ini memunculkan keraguan pada masyarakat,”tutur Dicky.

Jika berbicara soal kesiapan, persoalan terbesarnya adalah keyakinan masyarakat. Masyarakat harus diyakinkan dengan serius dengan cara menunjukkan bahwa vaksin ini dikembangkan dengan sungguh- sungguh dan serius, dalam pengertian mengikuti standar, sehingga akan menghasilkan suatu vaksin yang aman untuk bisa digunakan oleh masyarakat.

“Pemerintah harus bisa secara transparan berkomunikasi dengan masyarakat bahwa tentu kita semua menginginkan vaksin yang aman untuk kemudian kita pakai. Masyarakat harus bisa merasa yakin bahwa proses itu dilalui dengan benar. Pemerintah juga harus mengevaluasi informasi yang selama ini disampaikan terkait dengan vaksin, sebagai upaya mengembalikan rasa percaya,” tutur Dicky.

Redaksi KBR juga mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7