Produksi Vaksin Covid-19, Pemerintah Gandeng Tiga Perusahaan Swasta

Total kapasitas produksi vaksin dalam negeri bisa bertambah 1 miliar dosis per tahun

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Rabu, 28 Okt 2020 13:56 WIB

Author

Ninik Yuniati

Produksi Vaksin Covid-19, Pemerintah Gandeng Tiga Perusahaan Swasta

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro saat bincang virtual di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2020)

KBR, Jakarta - Pemerintah menggandeng tiga perusahaan swasta untuk memproduksi vaksin Covid-19. 

Menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, total kapasitas produksi ketiganya mencapai 1 miliar dosis per tahun. 

Kehadiran pemain baru ini diharapkan makin memperkuat kemandirian vaksin dalam negeri.

"Mereka sudah mulai mengurus izin ke BPOM untuk good manufacturing practices atau cara pembuatan obat yang baik," kata Bambang dalam acara bincang virtual di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Menurut Bambang, kemandirian vaksin sangat krusial bagi negara besar seperti Indonesia. 

Kemampuan memproduksi vaksin sendiri harus digenjot sebagai bentuk upaya preventif. Apalagi data terbaru tentang Covid-19 menunjukkan bakal ada kebutuhan vaksinasi ulang. Ini lantaran vaksin Covid-19 diperkirakan tidak memberikan imunitas seumur hidup.

"Kemungkinan daya tahan tubuh yang ditimbulkan tidak seumur hidup, seperti polio dan cacar. Jadi diperlukan booster atau revaksinasi," tutur Bambang.

Hingga kini, vaksin Merah Putih masih dalam tahap pengembangan. 

Ada enam institusi yang menggarap vaksin dengan platform berbeda yakni Lembaga Eijkmann, LIPI, UI, UGM, ITB dan Unair. Diperkirakan, vaksin buatan Eijkmann yang bakal lebih dulu selesai.

"Saat ini prosesnya sedang siap uji di hewan. Kita harapkan bisa selesai dan hasilnya memuaskan akhir tahun ini," ungkap dia.

Jika berjalan mulus, bibit vaksin yang berhasil dikembangkan Eijkmann akan diserahkan ke PT Biofarma. 

Serangkaian uji klinis selanjutnya bakal digelar untuk memastikan keamanan dan khasiatnya.

"Dan tentunya BPOM yang akan memutuskan apakah vaksin ini bisa dipergunakan secara massal atau tidak," kata eks Kepala Bappenas ini.

Penelitian vaksin tak luput dari kendala. Selain prosesnya harus dikebut akibat pandemi global, pengembangan vaksin kerap tersendat karena banyak bahan yang harus diimpor.

"Misalnya sel mamalia, hewan untuk uji coba juga harus diimpor. Impor reagen juga bisa men-delay proses penelitian," ujar Bambang.

Editor: Agus Luqman 

Redaksi KBR juga mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7