Bagikan:

ADVERTORIAL

Konten Kreatif Karya Anak Muda, Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi

Narasi kebencian dan pelanggaran kebebasan beragama dan berekspresi merupakan ancaman serius internet sebagai ruang sekuler, inklusif, dan menghadirkan ruang untuk keberagaman.

RAGAM

Kamis, 29 Sep 2022 09:30 WIB

Konten Kreatif Karya Anak Muda, Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi

Karya Peserta Kegiatan Pelatihan Konten Kreatif untuk Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi.

KBR, Jakarta - Maraknya narasi kebencian dan pelanggaran kebebasan beragama dan berekspresi secara online merupakan ancaman serius bagi perjuangan Indonesia untuk mempertahankan internet sebagai ruang sekuler, inklusif, dan menghadirkan ruang untuk keberagaman. Sebagai salah satu organisasi yang mempromosikan hak digital di Asia-Pasifik, EngageMedia memberikan perhatian khusus atas peningkatan penggunaan media sosial dan platform online. EngageMedia bekerjasama dengan KBR mengadakan Project Challenge yang bertujuan untuk memunculkan narasi dan wacana yang memperjuangkan toleransi dan keberagaman opini keagamaan serta menggunakan seni sebagai medium untuk melawan ujaran kebencian atas dasar agama di Indonesia.

Konten Kreatif Buatan Ganta

Video Karya Rachmad Ganta Semendawai, Pemenang Pelatihan Konten Kreatif dengan tema “Konten Kreatif Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi” berjudul “Tiadakah Tuhan bagi Binatang?”.

Rachmad Ganta Semendawai, merupakan salah satu peserta dalam Pelatihan Konten Kreatif dengan tema “Konten Kreatif Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi” yang diselenggarakan oleh EngageMedia bersama KBR yang menjadi pemenang story pitching. Ia membuat dua video yang berjudul “Tiadakah Tuhan Bagi Binatang?”.

Video pertama tersebut bercerita tentang kekerasan terhadap hewan, dalam video ini adalah anjing. Kisah nyata yang terjadi di wilayah Indralaya, Sumatera Selatan ini bukanlah satu-satunya kekerasan terhadap hewan. Yang melatarbelakangi maraknya penyiksaan terhadap anjing ini di antaranya faktor agama serta budaya. Dalam video ini, Ganta menjabarkan bahwa tidak semua pemeluk agama Islam mengatakan anjing sebagai hewan yang najis. Perdebatan antara najis atau tidaknya anjing sudah ada sejak awal perkembangan Islam yang salah satunya dimulai oleh Al-Nazzam, seorang rasionalis yang muncul di fase awal pemikiran Islam. Dia menolak hadis yang menistakan anjing, baginya hadits itu tidak rasional. Dalam perkembangannya, ada dua mazhab yang melihat status anjing apakah kotor atau tidak.

Menurut riset yang Ganta lakukan, cara memandang anjing dengan konotasi negatif bukan hanya ada di agama Islam, tetapi ada juga di agama semitik lain seperti Kristen dan Yahudi. Dalam kitab Yahudi, Taurat, beberapa kali anjing disebut dengan nada negatif. Pada perkembangan Kristen periode awal, anjing juga hadir dengan nada yang cenderung negatif. Namun, cara pandang ini mulai melunak perlahan dan hilang setelah transformasi budaya di negara Barat.

Video ini ditutup dengan pernyataan Profesor Doktor Khaled El Fadl dalam artikelnya Dogs in the Islamic Tradition and Nature yang menganggap bahwa sebagian besar ahli hukum Islam menolak pembunuhan anjing karena hal itu dianggap menyia-nyiakan kehidupan.

Video kedua berjudul “Jalan Menuju Kekerasan”, video tersebut bercerita tentang pengalaman pribadinya ketika menjadi pengajar di sebuah panti asuhan. Awalnya, dia meminjamkan laptop untuk anak-anak di panti asuhan tersebut untuk menonton tayangan kartun anak-anak. Lama-kelamaan, tayangan yang anak-anak tersebut saksikan berubah haluan menjadi tayangan horor. Bahkan, yang membuat Genta terkejut adalah, anak-anak sangat antusias saat menyaksikan tayangan bernuansa jihad terutama pada adegan yang mengandung kekerasan. Yang lebih mengejutkan Genta adalah bahwa video-video tersebut mereka dapatkan dari ustaz panti.

Ganta mendapati beberapa anak bahkan mempunyai sentimen kebencian dengan orang yang berbeda agama. Apalagi anak-anak paling antusias jika membahas jihad ke Palestina. Emosi mereka memuncak saat membahas Israel. Mereka mensimplifikasi konflik Israel dan Palestina sebatas persoalan agama dan menganggap konflik ini hanya bisa diselesaikan dengan Islamic Solidarity. Intoleransi yang terjadi pada kalangan anak-anak ini dapat disebabkan oleh tempat belajar agama yang salah.

Pada dasarnya, mereka adalah anak-anak yang baik. Namun, mereka mendapat guru yang mengajarkan paradigma kekerasan dan intoleransi. Intoleransi juga dapat tumbuh di ruang lingkup keluarga. Mereka yang intoleran tidak menyadari bahwa mereka telah bersikap intoleran.

Di Indonesia pernah terjadi kasus intoleransi pada etnis Tionghoa, Maluku, Ambon, Indo, dan Belanda. Kejadian ini nyata dan menyebar di beberapa titik dengan korbannya kaum minoritas. Keberagaman di Indonesia dapat menjadi harta yang berharga bila dikelola dengan baik dan sekaligus menjadi bahan bakar bila tidak dikelola dengan baik.


Konten Kreatif Buatan Ilham

Podcast Karya Ilham Rahmat Alam, Pemenang Pelatihan Konten Kreatif dengan tema “Konten Kreatif Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi” yang bernama “Hei Bicarakan”.

Ilham Rahmat Alam, juga merupakan salah satu pemenang story pitching dalam kegiatan Pelatihan Konten Kreatif dengan tema “Konten Kreatif Dukung Kebebasan Beragama dan Berekspresi” yang diselenggarakan oleh EngageMedia bersama KBR. Dengan ide konten yang kreatif serta menarik yang dirangkai dalam berbagai macam konten seperti podcast, kuis Instagram, dan karya tulis.

Konten podcast yang dilakukan oleh Ilham Rahmat berjudul “Journey to Diversity”, dengan topik pembahasan yaitu hate speech atau ujaran kebencian yang dapat menimbulkan diskriminatif dan intoleran melalui social media. Hate speech atau ujaran kebencian merupakan segala jenis komunikasi dalam bentuk ucapan, tulisan, ataupun perilaku yang menyerang atau menggunakan bahasa yang bersifat merendahkan atau diskriminatif.

Dahulu Ilham juga pernah melakukan hate speech melalui sosial media dengan memberikan komentar buruk pada postingan orang lain yang memiliki perbedaan kepercayaan dan paham dengannya. Namun Ilham tidak merasa puas setelah dia melakukan hate speech kepada seseorang melalui sosial media, tetapi dia merasa gelisah setelah melakukan hal tersebut.

Ilham melakukan hate speech tersebut karena menganggap bahwa orang lain yang memiliki pemahaman dan kepercayaan yang berbeda dengannya adalah orang-orang yang sesat dan telah melakukan kesalahan yang besar, sehingga hal tersebut menjadi pemicu Ilham untuk melakukan hate speech. Selain itu, Ilham juga menjadi tidak terbuka dan selalu berpikiran negatif kepada orang lain yang memiliki perbedaan suku, agama, dan latar belakang lainnya.

Namun hal tersebut berhenti ketika Ilham berada di bangku kuliah. Karena banyaknya perbedaan dan keberagaman suku, ras, kebudayaan, dan lain-lain sehingga membuat Ilham harus keluar dari zona nyamannya. Tentu untuk dapat keluar dari zona nyaman sangat sulit dan banyak rintangan. Hingga pada akhirnya Ilham dapat menerima keanekaragaman budaya, usia, agama, yang ada dan menghilangkan hate speech serta diskriminatif dan berubah menjadi toleran dan bersahabat.

Perjalanan Ilham untuk mengenal lebih tentang keragaman dan toleransi masih berlanjut sekitar 3 tahun kemudian, hingga pada saat Ilham harus menjalankan program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dalam perjalanan Ilham mengikuti program KKN tersebut, Ilham mendapatkan banyak pengalaman, pembelajaran, serta pengetahuan lebih tentang keragaman dan toleransi. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia juga menjamin dalam hal kebebasan dalam beragama dan berekspresi. Maka dari itu, semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Ilham juga mengajak kepada orang lain dan pengguna sosial media agar dapat bijak serta tidak memberikan komentar negatif kepada orang lain.

Ide kedua Ilham adalah kuis Instagram. Kuis tersebut membahas toleransi dan diskriminasi dengan tujuan untuk meningkatkan engagement podcast yang dilaksanakan pada konten pertama.

Ide ketiga Ilham adalah karya tulis melalui media cetak atau online. Karya tulis tersebut berjudul “Beragam Bukan Seragam” yang terinspirasi dari lagu yang berjudul “Tak Harus Sama?” dibawakan oleh Ari Lasso. Dalam karya tulis ini membahas tentang toleransi yang mana mengutip dari kalimat pada lirik lagu tersebut “Bebas bicaralah tak harus dengan saling membenci. Dan berjanjilah semua untuk bangsa ini”. Dari lirik lagu tersebut memiliki makna bahwa tiap manusia memiliki kebebasan dalam berbicara pun berekspresi tanpa harus saling membenci satu sama lain.

Selain itu, dalam karya tulis ini juga membahas mengenai intoleransi yang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan dampak yaitu menciptakan konflik sosial antar golongan dan mundurnya suatu bangsa. Sedangkan, pada zaman sekarang ini sedang marak kolaborasi untuk menciptakan ide - ide yang bisa membawa suatu kemajuan. Maka dari itu, penting untuk menjaga toleransi antar sesama agar dapat terciptanya rukun dan damai kedepannya.

EngageMedia dan KBRPime berkolaborasi untuk melindungi remaja dari konten di dunia maya yang berbahaya seperti paham radikalisme dan ekstrimisme dalam Podcast Ruang Publik Episode “Lindungi Remaja Dari Paham Radikalisme Dan Ekstrimisme”.

Baca juga: Pelatihan Pembuatan Konten Kreatif untuk Kebebasan Beragama dan Berekspresi - kbr.id

Editor: Paul M Nuh

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending