Bagikan:

ADVERTORIAL

Edukasi dan Literasi Cegah Hoaks di Masa Pandemi

"Hoaks ini dampaknya nyawa, orang kehilangan haknya atas imunisasi, atas perlindungan diri. Kita bisa tidak mencapai herd immunity karena hoaks,"

RAGAM

Sabtu, 10 Apr 2021 07:53 WIB

Edukasi dan Literasi Cegah Hoaks di Masa Pandemi

Ilustrasi. Aplikasi Tangkal dan Analisa Berita Bohong (Taboo) di Diskominfo Kota Denpasar, Bali, Selasa (9/3/2021). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/hp.

Jakarta - Di tengah upaya Indonesia untuk menanggulangi pandemi COVID-19, hoaks menjadi salah satu gangguan yang berpotensi untuk memperlambat proses. Tidak sedikit masyarakat yang tertipu dengan info palsu maupun tidak benar. Hoaks di masa pandemi dinilai amat berbahaya.

Rizky Ika Syafitri, Communication for Development Specialist UNICEF mengatakan, “Pandemi COVID-19 telah berdampak pada semua orang. Lebih dari 40 ribu orang meninggal dunia di Indonesia. Itu bukan sekadar angka dan statistik,”

"Itu adalah keluarga kita, mungkin ayah Ibu kita, anak-anak kita, para dokter perawat yang bekerja merawat orang sakit," kata Rizky dalam Dialog Rabu Utama di Media Center KPCPEN yang ditayangkan FMB9ID_IKP, Rabu (7/4).

Dia juga mengingatkan kembali bahwa akibat pandemi banyak orang kehilangan pekerjaan, usaha tutup, dan orang jatuh miskin sehingga orang-orang mengalami kesulitan dan berakibat pada anak-anak yang kekurangan gizi di masa pandemi ini.

Namun dalam kondisi saat ini, Rizky menyayangkan justru banyak bermunculan hoaks atau berita bohong. Padahal hoaks bisa berdampak amat berbahaya di masa pandemi seperti saat ini. "Hoaks ini dampaknya nyawa, orang kehilangan haknya atas imunisasi, atas perlindungan diri. Kita bisa tidak mencapai herd immunity karena hoaks," kata Rizky.

Menurutnya dengan edukasi secara terus-menerus, hoaks bisa dicegah karena orang-orang telah memiliki pemahaman yang cukup dari hasil edukasi. Rizky yakin, peran seluruh komponen masyarakat dan pemerintah bisa mengubah situasi ini. Tidak bisa satu dua pihak bekerja sementara yang lain tidak melakukan. "Semua dari kita punya kemampuan untuk berkontribusi dalam kapasitasnya masing-masing. Kalau media beritakanlah berita yang benar, yang berimbang, yang akurat. Jika remaja, edukasi lah orang tua anda," ujarnya.

drg. Widiyawati, MKM., Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan mengatakan, pihaknya sudah melakukan usaha untuk mencegah peredaran hoaks terkait kesehatan secara meluas, di antaranya penguatan literasi digital yang terkait dengan kesehatan. Dia tidak bosan mengingatkan, kepada masyarakat tidaklah bijaksana dalam menerima suatu informasi tanpa disaring terlebih dahulu. Apalagi lantas informasi tersebut ikut disebar.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Bokek Bikin Stres?

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8