ADVERTORIAL

Menkes dan Epidemiolog Ungkap Kunci Hadapi Strain Baru Covid-19

Vaksin memberi perlindungan dari dalam sedangkan prokes 3M melindungi dari luar.

RAGAM

Senin, 29 Mar 2021 20:46 WIB

Menkes dan Epidemiolog Ungkap Kunci Hadapi Strain Baru Covid-19

ILustrasi. Vaksinasi untuk pengemudi ojol dan Lansia di Dinning Hall, Jakabaring Sport City (JSC). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Jakarta - Sejumlah negara di Eropa dikabarkan kembali mengalami lonjakan kasus infeksi Covid-19. Disinyalir salah satu penyebabnya adalah strain baru hasil mutasi virus yang dianggap lebih cepat menular. Selain itu, diperkirakan penyebab lainnya adalah mobilitas orang di kawasan Eropa yang mulai terlalu longgar pasca dimulainya vaksinasi Covid-19.

Menanggapi strain baru Covid-19 dan lonjakan kasus di Eropa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa strain baru sudah masuk di Indonesia sejak Januari 2021. “Beberapa negara di Eropa mengalami kenaikan kasus infeksi Covid-19. Dari pengamatan kami, terjadinya lonjakan ini karena adanya strain baru yang sudah ada di Indonesia sejak Januari dan adanya mobilitas yang terlalu agresif pembukaannya," ungkapnya.

Adapun untuk di Indonesia, lanjutnya, arahan dari Presiden Jokowi adalah mencari titik keseimbangan agar hasil penurunan angka infeksi Covid-19 yang sudah bagus karena PPKM Mikro dan vaksinasi tidak kehilangan momentum. “Sehingga angka infeksi Covid-19 di Indonesia diharapkan terus turun dan tidak mengalami lonjakan seperti di Eropa," jelas Menteri Budi Gunadi Sadikin.

Lebih lanjut, Budi berpesan kepada masyarakat yang sudah divaksinasi agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Prokes 3M akan bisa menghindarkan setiap orang dari infeksi Covid-19 secara umum dan juga strain barunya.

Pernyataan serupa juga pernah diungkapkan Pakar Epidemiologi Penyakit Menular Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes. "Yang bisa menjamin orang tidak terinfeksi virus, apapun itu, adalah protokol kesehatan 3M," tegas Wakil Dekan Bidang II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga ini.

Menurut Dr. Atoillah, bagi yang sudah divaksinasi pun masih bisa kemasukan atau terinfeksi. "Vaksin tidak mengubah atau menutup lubang hidung dan mulut jadi virus masih bisa masuk. Fungsi vaksin adalah membuat tubuh kita punya kekebalan sehingga ketika virus menginfeksi tidak berhasil menyebabkan gejala penyakit," jelasnya.

Bagi orang yang tidak divaksin, ketika virus menginfeksi maka bebas memporakporandakan tubuh karena tidak ada antibodi. "Vaksin itu tidak membuat kita menjadi sakti. Kalau terinfeksi sebatas diagnosis lab sangat mungkin. Dengan mendapatkan vaksin kalau terinfeksi tidak sakit. Vaksin memberi perlindungan dari dalam sedangkan prokes 3M melindungi dari luar," tutupnya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

'Kiat Membuat Quality Time Bareng Keluarga'

Kabar Baru Jam 7

Sekolah Tatap Muka Mesti Diawasi

Kabar Baru Jam 8

Vaksinasi Covid-19 saat Berpuasa