Bagikan:

Analisis IDAI soal Puluhan Bayi Meninggal Usai Terinfeksi COVID-19

Perlu dilakukan audit mortalitas terlebih dahulu.

NASIONAL

Kamis, 24 Feb 2022 01:17 WIB

Kasus kematian balita akibat COVID-19

Petugas membuat lubang makam jenazah kasus COVID-19 di TPU khusus COVID-19 di Jombang, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (23/2/2022). (Foto: ANTARA/M Iqbal)

KBR, Jakarta- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kasus kematian 80 balita yang terinfeksi COVID-19 selama dua bulan terakhir disebabkan sejumlah faktor. Berdasarkan catatan IDAI, sebagian besar kematian balita yang terkena virus korona, disebabkan komorbid berat atau koinsiden penyakit kardiovaskular.

Namun, menurut Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, perlu dilakukan audit mortalitas terlebih dahulu guna mengetahui penyebab kematian pasien virus korona.

"Angka kematian bayi tentu sangat-sangat terkait dengan adanya komorbid. Laporan-laporan bayi meninggal, itu yang kami terima itu memang rata-rata dengan komorbid berat. Ada yang pneumonia, ada yang kanker, semakin banyak komorbidnya, misalnya jantung bawaan dengan gizi buruk ya, itu tingkat kematiannya sangat tinggi ya," ucap Piprim kepada KBR, Rabu, (23/2/2022).

Segera Lakukan Tes

Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso mengimbau kepada orang tua segera melakukan tes ketika mengetahui anaknya bergejala COVID-19 varian Omicron. Hal itu untuk mencegah keparahan kondisi kesehatan pada anak.

Gejala Omicron umumnya yaitu demam, batuk, pilek, yang bisa disertai dengan muntah, diare, dan pegal-pegal. Ia menjelaskan, gejala Omicron tidak bisa hanya dilihat dari gejala klinisnya saja tanpa tes COVID-19.

"Penting, ada bayi atau balita, ketika ada penyakit yang menyerang saluran napas atas iti harus hati-hati. Karena apa? Karena saluran napas balita itu relatif lebih kecil dan anatominya itu menyempit seperti corong. Jadi kalau dia bermasalah karena COVID-19, Omicron, ini bisa menyebabkan gangguan orang yang lebih dewasa, orang-orang besar," tambahnya.

Masalah Pernapasan

Piprim menjelaskan, masalah pernapasan yang dimaksud yaitu krup atau laringotrakeobronkitis. Gejala krup yaitu batuk menyalak, stridor, dan suara parau. Karena itu, ia mengingatkan para orang tua yang mempunyai balita tidak menganggap remeh Omicron yang gejalanya kerap mirip dengan flu biasa.

Ia menambahkan, tidak semua balita dan anak yang terinfeksi korona bisa isolasi mandiri atau dirawat orang tua di rumah. Semisal anak yang menunjukan gejala demam tinggi yang tak kunjung turun, kejang-kejang, penurunan kesadaran.

"Perhatikan juga apakah napas anak tersengal-sengal, seperti habis lari. Cuping hidungnya kembang-kempis. Tanda-tanda seperti ini jangan dibiarkan isoman saja. Dia harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan segera," imbuhnya.

Piprim menegaskan cara efektif menekan angka kematian pada balita dan anak adalah mencegah anak tertular dengan protokol kesehatan dan vaksin COVID-19.

Puluhan Balita Meninggal

Sebelumnnya, Kementerian Kesehatan mencatat sekira 80 balita meninggal akibat COVID-19 dalam dua bulan terakhir. Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan jumlah itu setara 3 persen dari 2,4 ribu pasien Covid-19 meninggal saat gelombang varian Omicron. Kata dia, mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal merupakan lansia dan memiliki komorbid.

"Secara pasti data mengenai 3 persen balita 0-5 tahun yang meninggal dunia ini tidak ada data dan informasi lebih lanjut ya. Mungkin rekan-rekan media bisa menanyakan kepada para klinisi langsung di rumah sakit masing-masing. Seperti misalnya RS Sulianti atau RS Persahabatan untuk bisa mendeteksi. Tapi yang pasti tentunya adalah biasanya kematian pada balita dikarenakan balita ini memiliki penyakit bawaan ya seperti kelainan jantung ataupun kelainan imunitas, ataupun umumnya kanker darah," kata Nadia dalam konferensi pers daring, Selasa (22/2/2022).

Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat di Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menambahkan, penularan pada anak-anak disebabkan varian Omicron yang cenderung tidak bergejala. Sehingga mempercepat penularan di klaster keluarga.

Nadia mengklaim, kasus harian Covid-19 dalam seminggu terakhir mengalami penurunan. Positivity rate juga menurun hingga 17 persen. Namun, tren perawatan pasien di rumah sakit justru meningkat.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending