Wawancara Wapres Ma'ruf Amin, dari Suntik Vaksin sampai Target Sejuta Perhari

"Gedung-gedung yang punya pemerintah itu digunakan untuk melakukan vaksinasi. Sudah seperti itu usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah."

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Rabu, 24 Feb 2021 13:03 WIB

Author

Rony Sitanggang

Wawancara Wapres Ma'ruf Amin, dari Suntik Vaksin sampai Target  Sejuta Perhari

Vaksin covid-19 buatan Sinovac, Cina. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta-  Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjadi kelompok lanjut usia pertama yang mendapat vaksinasi covid-19. Tepat Rabu (17/02) pekan lalu, Wapres yang saat ini berusia 77 tahun menerima suntikan vaksin coronavac buatan Sinovac. Pemimpin Redaksi KBR Citra Prastuti dan Redaktur Senior KBR Agus Lukman mewawancarai Ma'ruf Amin seputar pengalaman disuntik vaksin covid-19 dan upaya mengejar target vaksinasi 1 juta warga perhari.

Bisa digambar bagaimana situasi di rumah atau yang anda rasakan H-1 sebelum vaksin?

Pertama Saya tentu ingin divaksin, tetapi Saya kan harus menunggu klarifikasi dulu. Pertama informasi  Sinovac (vaksin) ini untuk 18 sampai 59, Saya ini kan di atas 59. Nah ini vaksinnya seperti apa nanti? Saya sudah tua tentu juga banyak kekurangan macam-macam itu. karena itu saya menunggu klarifikasi, baik dari Badan POM maupun juga dari Tim Dokter Kepresidenan seperti apa. 

(Ketika) Pertama keluar dulu izin dari Badan POM, berarti sudah bisa usia lanjut divaksin dengan Sinovac. Dan memang menurut informasi dampak efek sampingnya sangat kecil Sinovac ini. Yang kedua tentu dilakukan analisa oleh Tim Dokter Kepresidenan. Bahkan sebelumnya Saya diperiksa dulu darahnya, dianalisa dulu, diperiksa jantungnya, diperiksa semua. Kemudian setelah oke saya diberitahu bisa divaksin. Jadi tahap-tahap itu kita ikuti dengan penuh kehati-hatian.

Ini artinya tahap itu juga akan dilalui para lansia lainnya yang mengikuti vaksinasi covid-19 tahap kedua? 


Saya kira iya, itu harus. Bahkan semua yang mau divaksin walaupun belum orang tua kan mesti dicek tekanan darahnya dulu. Kalau tekanan darahnya tinggi juga tidak jadi, walaupun yang di usia 59-18 tahun. Ada banyak yang datang kemudian ditunda dulu karena dia tiba-tiba tekanan darahnya naik. Bisa dari rumah, bisa mendadak. Kalau yang lansia harus sebelum itu malah dicek dulu, supaya dipastikan  aman. Ini kehati-hatian seperti itu.


Banyak kendala terutama dari sisi sosialisasi yang harus melibatkan banyak pihak.  Bagaimana  Wakil Presiden melihat peran dari para ulama dan tokoh masyarakat  dalam sosialisasi vaksin ini?


Pertama tentu Majelis Ulama sejak awal sudah dilibatkan untuk memberikan fatwa tentang kehalalan vaksin itu. Jadi ketika vaksin dipertanyakan oleh masyarakat selain efektivitasnya, efikasinya, kemanjurannya, tapi juga kehalalannya. Di situ Majelis Ulama masuk dan menyatakan halal, itu satu tahap. Yang kedua untuk juga supaya masyarakat itu mau divaksin dan menganggap vaksin itu sebagai suatu keharusan,  maka para ulama (menyampaikan) melalui dakwah-dakwahnya, melalui khotbah-khotbah. Selain Majelis Ulama juga melibatkan pengurus besar Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan ormas-ormas yang lain. Nah para ulama ini kemudian menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya vaksin, amannya vaksin, manfaatnya vaksin (disampaikan) secara massif. Makanya sekarang ini hampir tidak ada lagi suara-suara yang miring tentang vaksinasi itu.


Apakah sosialisasi soal keamanan, soal halal sudah mengikutkan tokoh masyarakat di arus bawah? 


Saya kira sudah. Vaksinasi ini melibatkan semua kelompok masyarakat. Selain ulama itu kan ada tenaga kesehatan. Ini pendekatannya kan dua,  satu (dari) aspek kesehatan, kedua  (dari) aspek keagamaan. Karena   dua-duanya menjadi pertanyaan. Dari segi kehalalan sudah selesai, dari segi keamanan dimulai dari rekomendasi  Badan POM. Kemudian juga sudah dilakukan uji klinis tahap 1, tahap 2, tahap 3. Bukan saja di Indonesia tapi juga di negara lain (sepertI) di Brazil, di Turki. Nah hasilnya itu dianggap aman, keamanannya terjamin. Dan menurut informasi paling minim dampak efek sampingnya. Semua kajian-kajian itu sifatnya pendekatan kesehatan, keamanan maupun juga ke kemanjuran. Dan ini melibatkan semua stakeholder, dari pemerintah daerah, dari TNI dari Polri, dari ulama juga akan membantu mensosialisasikan   sangat masif di mana-mana.

Karena itu saya bilang yang sekarang ini fenomena yang kita lihat itu orang antri ingin divaksin. Ini satu masalah yang sekarang balik kepada pemerintah. Kita sudah kewalahan bagaimana menyediakan tempat vaksinasi dan menyiapkan vaksinnya dan juga menyiapkan vaksinator. Karena ini harus dilayani. Vaksinatornya harus cukup, tempat layanannya harus tersedia, vaksinnya harus juga tersedia. Karena itu kita pacu terus penyediaan vaksin ini walaupun relatif negara kita ini lebih baik dibanding negara lain. Negara lain lebih parah lagi. Sebab memang vaksin ini tidak banyak di dunia. Ini menjadi rebutan bahkan menurut informasi dari WHO 130 negara belum kebagian vaksin. Jadi vaksin ini persoalan global.

Kita sudah jauh lebih baik. Awal-awal kita sudah punya 142 juta, tambah lagi tambah lagi tambah lagi. Karena itu kita optimistis. Kita mengejar pertama itu (vaksinasi) 40% penduduk Indonesia sekitar 70 juta. Ini tahap awal harus dikejar. Ini sudah bisa membuat keadaan lebih baik, situasi ekonomi juga akan berkembang kalau sudah 70 juta yang divaksin. Kemudian kita terus mengejar sampai (vaksinasi) 182 juta.


Dari berbagai tahapan vaksinasi, apakah perbaikan yang paling krusial?


Satu soal registrasi. Jangan sampai menyulitkan registrasi itu. Sudah dilakukan perbaikan. Yang kedua soal distribusi. Distribusi ke daerah jangan jadi hambatan, karena itu dilakukan semacam dispensasi untuk membawa vaksin ini. Yang ketiga penyimpanannya cold chain   vaksin. Ini bukan soal mudah menyiapkan cold storage di semua daerah    penyimpanannya. Kemudian juga vaksinatornya. Jadi semua sekarang menyediakannya. Bahkan Saya dengar TNI Polri sudah, kemudian berbagai universitas swasta. Saya dengar Universitas Muhammadiyah di mana-mana menyediakan vaksinator-vaksinator juga. Ini semua (terlibat),  karena tidak mungkin pemerintah menangani sendiri maka itu melibatkan banyak lembaga, banyak masyarakat. Dan juga memperbanyak fasilitas-fasilitas, bahkan di Jawa Barat itu bukan hanya Puskesmas tapi juga semacam pos-pos, gedung-gedung yang punya pemerintah itu digunakan untuk melakukan vaksinasi. Sudah seperti itu usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah. Karena itu makin hari makin naik (jumlah orang yang divaksin), makin hari makin naik. Dan target kita adalah satu juta perhari ini harus dicapai. ini juga permintaan Presiden.


Redaksi KBR juga mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 8

Disability Right Fund (DRF) Mitra Disability People Organisation (DPO)