Vaksinasi Covid-19 Guru, Bagaimana dengan Murid?

"Jangan karena negara itu punya keterbatasan, kemudian siswanya dan mahasiswanya tidak divaksinasi. Tidak adil buat siswa dan mahasiswanya begitu,”

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Minggu, 28 Feb 2021 06:51 WIB

Author

Sadida Hafsyah

Vaksinasi Covid-19 Guru, Bagaimana dengan Murid?

Vaksinasi COVID-19 kepada guru, di puskesmas Kota Sidoarjo,, Jawa Timur, Kamis (25/2/2021). (Antara/Umarul Faruq)

KBR, Jakarta-     Pemerintah mulai melakukan vaksinasi Covid-19 kepada guru dan tenaga pendidik.  Ditargetkan ada lima juta guru dan tenaga pendidik yang divaksin hingga bulan Juni 2021. 

Tetapi para murid tidak mendapat jaminan akan diberi vaksin oleh pemerintah.  Banyak yang mengharapkan anak-anak juga mendapat vaksinasi untuk menurunkan resiko penularan virus. Apalagi ada wacana kegiatan belajar mengajar tatap muka pada bulan Juli  nanti.   

Kristianti Dyah, seorang guru SD Tunas Bangsa Gading Serpong Tangerang, mengapresiasi upaya pemerintah tersebut.

“Kalau pemerintah mencanangkan bahwa tenaga pendidik itu akan memperoleh prioritas untuk mendapatkan vaksin ini, ya kita mendukung sekali. Kita bersyukur sekali sebagai tenaga pendidik. Karena kita paling tidak mendapat jaminan untuk mendapatkan vaksin ini,” jelas Dyah saat dihubungi KBR, Kamis (26/02/21).

Vaksinasi terhadap guru itu juga tidak lepas dari keinginan pemerintah membuka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pada Juli mendatang atau pada awal semester kedua tahun ajaran 2020/2021.

Kristianti Dyah menyebut kegiatan belajar mengajar tatap muka lebih efektif dibandingkan daring. Meski begitu, ia menganggap tidak ada jaminan sekolah bebas dari penularan Covid-19 meskipun para guru sudah divaksin.

“Nanti kita dengan murid kita kebal. Tapi murid dengan murid yang satunya bagaimana? Atau murid dengan orangtua bagaimana? Atau kita dengan orangtua bagaimana? Karena lembaga sekolah, lembaga pendidikan itu kan tidak hanya guru di situ. Yang ada di situ kan nggak cuma guru. Tapi banyak banget pihak. Mulai dari orangtua, anak, tenaga yang lain, tenaga di kantin, OB, penolong kita yang lain, banyak banget yang terlibat. Jadi kalau cuma guru, saya belum bisa menjamin ya kalau kita nanti akan bebas terhindar dari virus corona ini.” Ujar dia.

Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono sepemahaman dengan guru. Menurutnya akan tidak adil jika pengajar dan muridnya mulai belajar tatap muka, tetapi yang divaksin hanya guru dan tenaga pendidik.

“Saya  menyarankan supaya muridnya dan mahasiswanya divaksinasi juga. Harusnya begitu kalau mau tidak ada penularan Covid-19. Jangan karena negara itu punya keterbatasan, kemudian siswanya dan mahasiswanya tidak divaksinasi. Tidak adil buat siswa dan mahasiswanya begitu,” kata Tri Yunis saat dihubungi KBR, Kamis (26/02/21).

Sayang, Tri Yunis tidak melihat siswa dan mahasiswa masuk daftar prioritas penerima vaksinasi pemerintah. Adapun peluang vaksinasi, jika mereka termasuk masyarakat yang terdaftar dalam BPJS Kesehatan.

“Di roadmap itu ada anggota BPJS. Kalau anggota BPJS itu keluarga ya berarti, semua anggota keluarga yang punya BPJS divaksinasi begitu. Sehingga itu termasuk ke siswanya mahasiswa begitu. Sekarang katanya anggota BPJS sudah 80 persen dari populasi Indonesia begitu. Yang 20 persen yang jadi anggota ya otomatis lah tidak divaksin.”

Ini juga yang menjadi kekhawatiran Sigit Wibisono, salah satu orang tua siswa di SD BPK Penabur Jakarta. Sigit berpendapat masih terlalu dini jika sekolah tatap muka dilaksanakan Juli mendatang. Ia khawatir anaknya akan tertular atau menularkan Covid-19, karena belum menerima vaksin.

“Terus setiap sekolah itu tidak bisa disamaratakan penerapan protokol kesehatannya kan. Ada sekolah yang bisa menerapkan, ada sekolah yang tidak bisa menerapkan dengan baik. Apalagi kalau kita bilang sekolah negeri yang kecil-kecil di pelosok itu, itu masih terlalu dini lah menurut saya,” kata Sigit kepada KBR, Kamis  (26/02/21).

Sigit Wibisono memahami murid atau anak-anak belum masuk daftar vaksinasi dari pemerintah. Karena memang belum ada uji klinis vaksin pada anak. Hanya saja ia berharap segera ada hasil uji klinis vaksin Covid-19 pada anak, sehingga anak pun dapat menerima vaksinasi.

“Dilakukan percepatan untuk uji klinis ke anak-anak. Kan orangtua sudah ada. Orangtua murid tinggal menunggu. Tapi yang penting adalah untuk anak-anak nih. Karena kan semuanya akan berinteraksi di sekolah. Jadi nggak cuma gurunya saja, tapi juga percepatan untuk uji klinis vaksin yang ditujukan untuk anak-anak, terutama anak-anak usia sekolah ya.”

Editor: Rony Sitanggang


Redaksi KBR juga mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 8

Disability Right Fund (DRF) Mitra Disability People Organisation (DPO)