Kerjasama KBR dengan SATGAS COVID-19

Satgas Covid-19: Akurasi Data Pengaruhi Ketepatan Kebijakan yang Diambil

Data yang tidak akurat menyebabkan pengambilan kebijakan yang tidak tepat waktu, sehingga tidak efektif.

RAGAM

Rabu, 20 Jan 2021 20:47 WIB

Author

Paul M Nuh

Satgas Covid-19: Akurasi Data Pengaruhi Ketepatan Kebijakan yang Diambil

JAKARTA - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito masih menyoroti pada tren penambahan kasus positif Covid-19. Karena tren kenaikan minggu ini, per 19 Januari 2021 menjadi yang tertinggi yaitu mencapai 27,5%. Ia menyebut, selain masih terjadinya penularan Covid-19, ada penyebab lain yaitu masalah verifikasi data yang terlambat masuk. Sehingga menyebabkan penumpukan data di beberapa daerah.

Dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan Covid-19 di Gedung BNPB, Selasa (19/1/2021), Wiku menjelaskan, keterlambatan data berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang krusial. Data yang tidak akurat menyebabkan pengambilan kebijakan yang tidak tepat waktu, sehingga tidak efektif.

Dalam mengatasi hal itu, Kementerian Kesehatan saat ini tengah memilah data pelaporan Covid-19 dari berbagai daerah. Pemilahan dilakukan pada pelaporan data yang masuk pada rentang 11 - 17 Januari 2021, dengan pelaporan data yang telah terlambat masuk dari minggu-minggu sebelumnya.

Dalam tren kenaikan kasus Per 19 Januari 2021, ada 5 provinsi teratas yang menyumbang kenaikan tertinggi. Yakni dimulai dari Jawa Barat naik 4.929 (10.087 -> 15.017), DKI Jakarta naik 4.346 (16.879 -> 21.423), Jawa Tengah naik 3.986 (7.203 -> 11.189), Bali naik 806 (1.254 -> 2.060) dan Sulawesi Selatan naik 792 (3.741 - > 4.523). Dan dari 5 provinsi teratas itu 4 diantaranya berada di Pulau Jawa, kecuali Sulawesi Selatan.

Sementara untuk perkembangan kasus kematian secara nasional, meski kenaikannya sempat menurun menjadi 1,7% minggu sebelumnya, minggu ini kembali naik cukup pesat menjadi 37,4%.

Minggu ini terdapat 5 provinsi teratas yakni dimulai dari Jawa Tengah naik 209 (220 -> 429), DKI Jakarta naik 106 (159 -> 253), Jawa Barat naik 87 (41 vs 128), DI Yogyakarta naik 26 (37 vs 64) dan Nusa Tenggara Barat naik 18 (8 vs 26). Untuk persentasenya tertinggi di Jawa Timur (6,93%), Lampung (5,16%), Sumatera Selatan (4,87%), Aceh (4,12%) dan Jawa Tengah (4,05%). "Saya minta 5 provinsi ini, pastikan pelayanan kesehatan sesuai standar, dan angka kesembuhan dapat ditingkatkan serta menekan angka kematian," saran Wiku.

Lalu, pada perkembangan kesembuhan mingguan, terjadi kenaikan 8,2%. Namun angka ini kecil dari minggu sebelumnya sebesar 9,5%. Menurutnya angka kenaikan kesembuhan ini dirasakan tidak sepadan jika dibandingkan dengan angka kenaikan mingguan pada kasus positif dan kematian. "Kenaikan kasus sembuh hanya sepertiga dari kenaikan kasus positif minggu ini," katanya.

Meski demikian apresiasi diberikan terhadap 5 provinsi dengan kenaikan kesembuhan tertinggi. Yakni DKI Jakarta naik 3.119 (14.113 -> 17.232), Jawa Barat naik 1.542 (7.743 -> 9.267), Jawa Tengah naik 597 (5.154 -> 5.751), Kalimantan Timur naik 491 (1.673 -> 2.164) dan Sulawesi Utara naik 334 (276 -> 610). Untuk persentase tertinggi, Riau (91,98%), Gorontalo (91,68%), Bengkulu (91,02%), Papua Barat (90,33%) dan Kalimantan Barat (90,01%).

(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10