Kerjasama KBR dengan SATGAS COVID-19

PPKM Diperpanjang, Daerah Diharap Bisa Perbaiki Peta Zonasi Risiko

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga menjadi kunci keberhasilan meningkatkan kesembuhan dan mencegah kematian. Dan akan mempengaruhi terhadap peta zonasi risiko ke arah lebih baik

RAGAM

Minggu, 24 Jan 2021 19:08 WIB

Author

Paul M Nuh

PPKM Diperpanjang, Daerah Diharap Bisa Perbaiki Peta Zonasi Risiko

Jalan Kol. Egi Yoso Martadipura di kawasan Stadion Pakansari, Kab. Bogor, Jawa Barat, Minggu (24/1/2021) ditutup menyusul perpanjangan PPKM. ANTARA/Yulius S.W.

JAKARTA - Perpanjangan kebijakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa - Bali hingga 8 Februari 2021 diharapkan dapat menunjukkan hasil yang lebih baik, karena tren perkembangan peta zona risiko dalam kurun waktu 4 minggu terakhir belum membawa perubahan yang signifikan.

Sempat mengalami penurunan zona merah atau risiko tinggi pada 3 Januari 2021 dari 41 menjadi 32 kabupaten/kota, namun kembali meningkat pada minggu setelahnya pada 10 Januari 2021 menjadi 39 kabupaten/kota. Dan seterusnya naik menjadi 52 kabupaten/kota.

"Ini berarti hampir setengah zona merah di Indonesia berasal dari Pulau Jawa dan Bali. Sebagai informasi, zona merah di Indonesia saat ini berjumlah 108 kabupaten/kota," ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Gedung BNPB, Kamis (21/1/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Jika melihat lebih dekat pada 73 kabupaten/kota yang wajib menerapkan PPKM Jawa - Bali, per 17 Januari 2021, ada 39 kabupaten/kota dalam zona merah, sebanyak 30 kabupaten/kota zona oranye atau risiko sedang, dan 4 kabupaten/kota zona kuning. Khusus zona merah dan oranye terlihat meningkat dibanding minggu sebelumnya.

Wiku menuturkan, sebagai bentuk intervensi, PPKM membutuhkan waktu agar hasilnya bisa terlihat pada minggu ketiga sejak intervensi dilakukan. Dengan menerapkannya secara disiplin dan serius, maka peta zonasi risiko akan bergeser kearah yang lebih baik. Jika ini tidak dilakukan, maka kebijakan ini perlu terus diperpanjang hingga mencapai hasil yang efektif dengan waktu yang tidak terbatas.

Kunci untuk memperbaiki penanganan ini adalah dengan meningkatkan PCR di laboratorium dan memperluas cakupan penelusuran kontak erat. Dan bagi daerah yang masih kesulitan menggunakan pemeriksaan PCR, maka pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan rapid test antigen terlebih dahulu sebagai upaya screening dan mendeteksi secara dini dan berdampak mencegah penularan.

Berjalan seiringan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga menjadi kunci keberhasilan meningkatkan kesembuhan dan mencegah kematian. Dan akan mempengaruhi terhadap peta zonasi risiko ke arah lebih baik.

(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10