Pandemi Covid-19 dan Dukungan Kesehatan Mental bagi Siswa

"Penting bagi kita untuk memperhatikan, memberi perhatian terhadap kondisi kesehatan mental siswa dan khususnya terkait gerakan promotif dan preventif yang bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis"

NUSANTARA | RAGAM

Sabtu, 23 Jan 2021 15:31 WIB

Author

Heru Haetami

Pandemi Covid-19 dan Dukungan Kesehatan Mental bagi Siswa

BDR, seorang anak mengerjakan tugas sekolah dari rumahnya di Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (19/1/2021).(Antara/Saiful Bahri)

KBR, Jakarta-   Lebih dari 10 bulan anak-anak di Indonesia menjalani kegiatan belajar dari rumah (BDR). Pandemi Covid-19 yang melanda dunia mengakibatkan sejumlah sektor termasuk pendidikan, harus mengikuti kebiasaan baru untuk meminimalisir penyebaran virus.

Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia melakukan penelitian pada 15.000 siswa di seluruh Indonesia terkait kesehatan mental mereka selama pandemi.

Hasilnya, 1 dari 4 siswa atau 25 persen dari partisipan penelitian ini dinyatakan memiliki masalah kesehatan mental. Tim Satgas Covid-19 Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Fitri Fausiah.

"Proporsi ini sebetulnya relatif serupa pada kelompok siswa dengan cara belajar apapun. Apakah dia BDR, apakah pertemuan tatap muka, ataupun perpaduan BDR dan tatap muka. Tapi kira-kira proporsinya sama sekitar 1 dari 4 siswa," kata Fitri Fausiah melalui diskusi daring, Rabu (20/1/2021).

Fitri menjelaskan terdapat beberapa faktor sosial dan psikologis yang secara signifikan mempengaruhi munculnya masalah kesehatan mental. Namun, faktor psikologis memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan faktor sosial terhadap kemunculan masalah kesehatan mental.

"Implikasinya adalah penting bagi kita untuk memperhatikan, memberi perhatian terhadap kondisi kesehatan mental siswa dan khususnya terkait gerakan promotif dan preventif yang bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka,"

Menanggapi temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong  pemberdayaan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk membantu mengatasi masalah psikologi anak di masa pandemi. Menurut Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti, di masa pandemi guru BK bisa menjadi tempat curhat bagi siswa. Terutama siswa yang pola pengasuhan di lingkungan keluarganya kurang ideal.

"Jadi sekarang memang peran guru BK menjadi penting gitu karena   kondisi mental anak-anak ini. Harus membuka   pengaduan untuk itu," kata Retno kepada KBR, Rabu (20/1/2020).

Retno menambahkan pendampingan anak juga penting dilakukan keluarga untuk mendapatkan dukungan lingkungan terdekatnya.

Keluhan dari murid kerap dirasakan Intan Gunasari Syaiful, guru BK SMK Negeri 8 Kota Bekasi, Jawa Barat. Beberapa siswa mengaku kesulitan dengan infrastruktur BDR, merasa jenuh dan bosan karena terlalu lama menjalani pembelajaran jarak jauh.

“Karena Covid-19 ini pun juga berdampak terhadap psikologis anak-anak sendiri. Jadi dia merasa ada tekanan emosionalnya mulai naik, nanti turun itu karena yang biasanya dia ruang lingkup atau ruang geraknya luas karena pandemi ini jadi terbatas,” kata Intan kepada KBR, Kamis (20/1/2020)

Meski demikian, Intan terus melakukan pendekatan kepada siswa untuk memastikan siswa mendapat ruang untuk bercerita sehingga masalah mereka tidak mengakibatkan dampak buruk terhadap kesehatan mental.

“Kita terima dengan terbuka, malah anak bagus bisa terbuka dengan gurunya terutama dengan guru BK. Jadi kita kalau permasalahan-permasalahan anak. Banyak sekali sekarang keluarga-keluarga yang ayah ibunya di PHK itu menjadi di dalam rumah pun memiliki permasalahan yang membuat anak ini merasa tertekan juga. Kecemasan-kecemasan tersendiri. Makanya peran kami sebagai guru BK sangat penting karena tetap harus standby meskipun ruang gerak kita terbatas hanya melalui gawai.” 

Editor: Rony Sitanggang

(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RAGAM

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10