Share This

Charlie Heboh dan FPI

Mirip namanya itu, pemilik akun Facebook itu mengunggah gambar-gambar karikatur senada atau mirip dengan karikatur Nabi Muhammad yang menggegerkan dunia, buatan majalah satir terbitan Prancis Charlie

OPINI_ANDA , EDITORIAL

Selasa, 05 Apr 2016 12:31 WIB

Ilustrasi (ANTARA Foto)

Ilustrasi (ANTARA Foto)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersuara keras terkait munculnya akun Facebook dengan nama Charlie Heboh.

Mirip namanya itu, pemilik akun Facebook itu mengunggah gambar-gambar karikatur senada atau mirip dengan karikatur Nabi Muhammad yang menggegerkan dunia, buatan majalah satir terbitan Prancis Charlie Hebdo (baca: Sharlie Ebdo). Karikatur Charlie Heboh itu membuat satir yang seolah menyamakan orang Muslim sebagai teroris.

Menteri Agama meminta aparat kepolisian menindak pemilik akun Facebook itu. Sekaligus juga orang-orang yang terlibat dalam pembuatan dan penebaran karikatur tersebut. Ia menganggap perbuatan penyebaran karikatur itu merupakan bentuk penyalahgunaan kebebasan berpendapat untuk menista agama Islam. Kapolri Badrodin Haiti segera merespon dengan janji Badan Reserse Kriminal Mabes Polri akan mengusut kasus tersebut.

Tahun lalu Kapolri mengeluarkan Surat Edaran soal cara menangani hate speech atau ujaran kebencian. Ujaran kebencian merupakan upaya menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu atau kelompok atas dasar suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, hingga ras dan orientasi seksual.

Indonesia memang masih rentan ancaman konflik karena isu SARA. Tapi kita juga melihat standar ganda dari para petinggi dan aparat penegak hukum. Jika para petinggi negeri ini resah dengan munculnya akun Facebook maupun majalah Charlie Heboh, kita tidak melihat sikap seperti itu saat ujaran kebencian muncul dari kelompok-kelompok intoleran seperti FPI dan gerombolan sejenisnya.

Kelompok-kelompok intoleran seperti FPI dan kelompok sejenis rasanya jauh lebih berbahaya dibanding majalah atau akun Facebook Charlie Heboh. Mereka tidak hanya menebar kebencian terhadap kelompok tertentu seperti Ahmadiyah, Syiah, dan lain-lain, tapi juga melakukan tindakan paksa. Mereka membubarkan, menekan aparat daerah dan membuat aparat kepolisian ketakutan. Seolah jadi pemilik negeri ini.

Apa bedanya Charlie Hebdo, Charlie Heboh dan FPI dan sejenisnya? Mereka sama-sama menebar kebencian. Hanya yang satu mengatasnamakan kebebasan berpendapat, yang lain mengatasnamakan kebenaran agama. Lantas, mengapa menindak satu pihak dan membiarkan pihak lain? 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.