Mengawal SDGs Sejak Dini

Publik juga mesti kritis mengingatkan pemerintah soal partner yang digandeng. Ini bisa kita amati sejak sekarang dengan mencermati siapa penyokong dana partai politik yang bertarung di Pemilu 2019.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 17 Des 2018 02:14 WIB

Author

KBR

Ilustrasi: SDGs

Ilustrasi: SDGs

Kalender 2018 segera berganti dan hiruk pikuk Pemilu 2019 akan segera menyerap seluruh energi kita. Tapi sebelum itu, kita titipkan agenda penting dunia ke tangan mereka yang bakal memimpin Indonesia. Agenda itu bernama SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Target pembangunan dunia ini sudah disepakati sejak 2015 silam, sebagai tindak lanjut MDGs. Kala itu, Indonesia menuai banyak pujian, karena berhasil mencapai 49 dari 67 target dan indikator yang ditetapkan.

Indonesia telah memasukkan target SDGs ke dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Denga begitu, melaksanakan target pembangunan nasional akan ikut menapak jalan menuju target SDGs. Pemerintah tak mungkin sendirian. Peraturan Presiden tahun 2017 memungkinkan pemerintah berkolaborasi dengan pihak swasta, filantropi, masyarakat madani sampai akademisi. Untuk itu, ada syarat dari UNDP, Badan PBB untuk pembangunan sebagai jangkar pelaksanaan SDGs. Kriteria utama adalah tak boleh berpartner dengan pihak yang melanggar hak asasi manusia. Beberapa detil, misalnya tak mempekerjakan anak sampai tak memproduksi sampai mendistribusikan tembakau dan produk turunannya.

Ini mesti dipahami semua pihak. Pemerintah mesti memilah betul partner mana yang digandeng untuk menuntaskan kerja SDGs. Sementara kita, sebagai publik, juga mesti kritis mengingatkan pemerintah soal ini. Ini bisa kita amati sejak sekarang dengan mencermati siapa penyokong dana partai politik yang bertarung di Pemilu 2019. Sebab mereka lah yang bakal jadi pelaksana kerja SDGs di masa mendatang. Jangan sampai kerja keras SDGs jadi ternoda karena pemerintah justru menggandeng mitra yang keliru.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perlindungan Hukum untuk Para Pembela HAM Masih Lemah