Kita Satu

Banyak pintu stadion yang tak mudah diakses penyandang disabilitas daksa, juga netra. Sebagian penyandang disabilitas mesti merangkak, merayap, atau meminta petugas membantu mengangkat.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 08 Okt 2018 02:03 WIB

Author

KBR

Presiden Jokowi Memanah di pembukaan Asian Para Games

Presiden Joko Widodo memanah saat membuka Asian Para Games 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/10). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

We are One atau kita adalah satu. Begitu slogan perhelatan olah raga bagi penyandang  disabilitas Asia atau Asian Para Games . Slogan yang terpampang di layar besar saat pembukaan itu seperti memberi penegasan tak ada diskriminasi bagi penyandang disabilitas. 

Penegasan itu juga tampak sepanjang seremonial pada Sabtu malam itu. Rangkaian acara yang terpampang di layar tv raksasa dilengkapi penerjemah bahasa isyarat juga teks dalam 2 bahasa. Bahkan saat membuka pesta olah raga itu, Presiden Jokowi juga tak luput menggunakan tanda yang digunakan disabilitas rungu.

Sayang, komitmen untuk membaur menjadi satu tak didukung sarana stadion Gelora Bung Karno. Banyak pintu stadion yang tak mudah diakses penyandang disabilitas daksa, juga netra. Sebagian penyandang disabilitas mesti merangkak, merayap, atau meminta petugas membantu mengangkat atau menurunkan kursi roda dari tangga yang terjal. Tak ada ramp, lift atau lantai jalur bertanda.

Sungguh ironis dan memprihatinkan. Ajang internasional yang diikuti 43 negara dengan ribuan atlet disabilitas ini mestinya bisa jadi ajang memperlihatkan negeri yang ramah disabilitas. Betul ada pintu yang menyediakan jalur bagi disabilitas. Tapi jumlahnya tak banyak dan jarak antarpintu pun tak dekat. 

Jadi, mumpung pertandingan masih berlangsung, pemerintah perlu segera mengecek dan memperbaiki sarana umum. Agar penyandang disabilitas mudah berbaur,  beraktivitas dengan warga lainnya. Karena kita adalah satu.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kala Tuntutan Setop Tes Keperawanan Bergulir

Kabar Baru Jam 10

'Kelas Multikultural' SMK Bakti Karya Parigi

Komunitas Pattas Sosial Kurir Langit Wakili Indonesia dalam Penghargaan Layanan Publik PBB 2020

Kabar Baru Jam 8