Share This

Xenophobia

Aksi "Bangga Menjadi Pribumi" yang mereka tunjukkan memperlihatkan ada masalah superioritas sekaligus inferioritas, yang mengingatkan kita pada supremasi kulit putih yang bangkit di Amerika Serikat se

OPINI , EDITORIAL

Selasa, 24 Okt 2017 05:03 WIB

Ilustrasi xenophobia

Ilustrasi xenophobia

Hari Tanpa Kendaraan Bermotor atau Car Free Day di Jakarta, Minggu lalu diwarnai aksi menarik sekaligus membuat miris. Sekelompok orang beramai-ramai mengenakan kaus bertuliskan "Bangga Menjadi Pribumi".

Gerakan itu diwarnai penulisan tanda tangan dan grafiti di spanduk besar, yang isinya sudah atau hampir menunjukkan gambaran adanya ketakutan terhadap segala sesuatu berbau asing atau Xenophobia. Terutama takut terhadap etnis tertentu.

Aksi "Bangga Menjadi Pribumi" yang mereka tunjukkan memperlihatkan ada masalah superioritas sekaligus inferioritas, yang mengingatkan kita pada supremasi kulit putih yang bangkit di Amerika Serikat sejak Donald Trump mencalonkan diri menjadi presiden.

Di satu sisi, gerakan bangga Pribumi mungkin ingin membangkitkan semangat nasionalisme. Tapi di sisi lain, ada nuansa kebencian dan ketidaksukaan yang dibangun terhadap pihak lain, yang dianggap bukan Pribumi. Terutama pada etnis tertentu yang selama ini dikesankan sebagai penjajah ekonomi.

Memang tidak ada yang salah dengan istilah Pribumi. Tapi pelajaran sejarah selama puluhan tahun di Indonesia menunjukkan kalau istilah Pribumi dan non-pribumi memiliki catatan kelam kekerasan dan diskriminasi. Pihak non-pribumi dianggap kelompok kelas dua yang boleh diperlakukan semena-mena, seperti pada peristiwa 1998.

Dalam kondisi tahun politik menuju pemilu 2019, mengangkat isu Pribumi dan non-pribumi tanpa konteks historis hanya bisa dibaca sebagai upaya politisasi sentimen negatif demi kepentingan elite politik tertentu. Sangat mungkin ada orang yang terinspirasi keberhasilan Donald Trump menjadi presiden AS dengan menumpang isu primordial, rasis dan supremasi Pribumi.

Lebih baik ungkapan Bangga menjadi Pribumi diganti "bangga tidak rasis".  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.