Share This

Perdamaian

Koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua itu dibunyikan sebagai penanda peringatan hari Perdamaian Internasional yang digelar setiap 21 September.

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 21 Sep 2017 05:00 WIB

Jabat tangan perdamaian

Jabat tangan perdamaian. (Foto:Nicola Corboy/Flickr)

Hari ini lonceng di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  di New York, Amerika Serikat dibunyikan. Lonceng  yang  dibuat dari koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua itu  dibunyikan sebagai penanda peringatan hari Perdamaian Internasional yang digelar setiap 21 September. Sejak 35 tahun lalu dunia mendedikasikan hari ini sebagai peringatan untuk mengakhiri perang dan kekerasan.

Sebagai bagian dari dunia internasional, sepatutnya Indonesia turut  berkomitmen untuk menghentikan perang dan kekerasan. Memang negeri ini tidak dalam kondisi perang, tapi di dunia maya perang terjadi dan dampak ikutan berupa kekerasan turut menyertainya. Lihat misalnya penyerangan kantor LBH Jakarta pada Senin dini hari itu. Buah kabar bohong hoaks menyebar dan berujung pada aksi kekerasan.

Kekerasan akibat informasi hoaks bisa menyasar siapa saja. Orang bisa dipersekusi, kantor bisa digeruduk lantas dilempari batu. Negara mesti tegas, memastikan kekerasan tak lagi jadi cara menyelesaikan masalah. Ada dialog juga hukum yang bisa jadi sarana.

Termasuk juga menghentikan ucapan dan perintah pejabat-pejabat yang memungkinkan potensi kekerasan itu tumbuh. Lihat misalnya perintah Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk serentak menggelar nonton bareng film “Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI”.  Perintah semacam itu bak memupuk  kebencian, hingga kelak meletup menjadi kekerasan terhadap satu golongan.  

Mumpung juga  bertepatan dengan  tahun baru Hijriah, Presiden bisa memerintahkan panglimanya untuk menghentikan perintah yang berpotensi melahirkan kekerasan itu. Saatnya kini adalah saling menebar maaf, dan memastikan politik penuh darah itu tak terjadi.  Hanya dengan begitu lingkaran setan kekerasan bisa terputus dan perdamaian menjadi nyata. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.