Transformasi Pendidikan

Pendidikan tak melulu harus melalui ruang kelas atau sekolah. Pengetahuan, ketrampilan hidup, nalar bisa didapat dari mana saja. Pendidikan harus mudah dijangkau dan tak mendiskriminasi.

OPINI , EDITORIAL

Selasa, 13 Agus 2019 00:13 WIB

Author

KBR

Ilustrasi: Kegiatan sekolah dasar

Ilustrasi: Kegiatan belajar Sekolah Dasar di hari pertama (Foto: Antara)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat saat ini ada 1,8 miliar anak muda berusia 10 hingga 24 tahun. Jumlah itu setara dengan hampir seperempat penduduk dunia yang mencapai 7,7 miliar. Dan komposisi anak muda itu terbesar dari catatan yang pernah ada.

Dunia sudah merayakan hari orang muda ini sejak 20 tahun silam. Namun baru pada 10 tahun lalu Majelis Umum PBB menetapkan 12 Agustus sebagai Hari Pemuda Internasional. Perayaan hari itu dimaksudkan guna meningkatkan kesadaran mengenai program bagi para orang muda. Orang yang kelak akan menjalani masa depan dengan tantangannya.

Saat peringatan kemarin, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres berpesan agar Pemerintah bekerja untuk mengubah pendidikan dan melibatkan kaum muda. Maklum tema Hari Pemuda Internasional kali ini adalah “Transformasi Pendidikan” . Menurut Guterres kerap kali sekolah tak membekali kaum muda dengan ketrampilan yang mereka butuhkan untuk menjawab perkembangan teknologi. Kata dia, murid tak hanya perlu belajar, tetapi juga mesti belajar cara belajar alias belajar seumur hidup.

Sepatutnya demikian. Pendidikan tak melulu harus melalui ruang kelas atau sekolah. Pengetahuan, ketrampilan hidup, nalar bisa didapat dari mana saja. Pendidikan harus mudah dijangkau dan tak mendiskriminasi. Dan teknologi saat ini memungkinkan mencapai hal itu. Tinggal mau atau tidak membuka akses ilmu itu untuk semua.

Tentu dengan juga tak melupakan imbauan PBB untuk melibatkan kaum muda dalam merumuskan arah pendidikan demi mewujudkan hak-hak mereka.   Karena melalui pendidikan yang baik dan terjangkau  tujuan atau cita-cita  berbangsa bisa dicapai. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945