Nduga

Komentar JK sungguh tidak tepat di saat banyak pihak prihatin atas berlarutnya konflik kekerasan di Papua, khususnya Nduga.

OPINI | EDITORIAL

Kamis, 15 Agus 2019 01:21 WIB

Author

KBR

Briptu Hedar menjadi korban penculikan dan penembakan di Ilaga, Papua.

Briptu Hedar menjadi korban penculikan dan penembakan saat bertugas di Ilaga, Puncak Jaya, Papua pada senin (12/8/2019). (Foto: Antara/Abriawan Abhe).

“Harus diserang balik! Harus.”  Begitu kata Wakil Presiden Jusuf Kalla  saat menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Hedar. Anggota  Polda Papua itu disandera kemudian dibunuh, diduga oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Puncak, Papua, Senin (12/8), lalu. JK meminta aparat keamanan menindak tegas dan tak segan menyerang balik pelaku penyanderaan dan penembak Hedar.

Tentu saja kita geram, tapi apakah serang balik adalah solusi? Komentar JK sungguh tidak tepat di saat banyak pihak prihatin atas berlarutnya konflik kekerasan di Papua, khususnya Nduga. Makin tidak tepat lagi ketika upaya mendorong pemerintah melakukan evaluasi atas pendekatan keamanan yang tengah diterapkan terus didengungkan.

182 warga sudah jadi korban sejak konflik bersenjata ini berlangsung. Angka itu diperoleh dari perhitungan Tim Kemanusiaan bentukan Pemerintah Kabupaten Nduga. Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua menyebut dari ratusan orang itu, sebagian meninggal dalam konflik bersenjata. Sebagian lainnya tewas dalam pelarian di hutan, mati kelaparan di pengungsian. Mereka bayi, anak-anak, perempuan dan laki-laki dewasa. Sementara 45 ribu lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi. Mereka yang masih hidup mestinya tidak untuk menunggu mati sia-sia.

Melontarkan kalimat untuk menyerang balik sungguh tak pantas atas tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Nduga. Pemerintah mesti berbuat sesuatu. Terdekat adalah mengevaluasi kebijakan dan pendekatan yang digunakan selama ini untuk mengatasi konflik. Tak kalah penting, membuka diri terhadap berbagai usulan upaya lain yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan konflik Papua terutama di Nduga.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme