Share This

Caleg Artis

Apakah sudah sedemikian dangkalnya partai politik memahami esensi representasi politik yang diemban para wakil rakyat di parlemen?

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 19 Jul 2018 05:59 WIB

Ilustrasi: Sejumlah artis hadir untuk pendaftaran bakal calon legislatif di KPU Pusat, Jakarta, Seni

Ilustrasi: Sejumlah artis hadir untuk pendaftaran bakal calon legislatif di KPU Pusat, Jakarta, Senin (16/7). (Foto: Antara/Puspa Perwitasari).

Enam belas partai politik peserta pemilu telah mendaftarkan bakal calon anggota legislatif mereka ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Deretan wajah selebritas tanah air kembali ikut meramaikan Pemilihan Legislatif DPR tahun depan. Mereka yang dikenal pubik sebagai penyanyi, komedian, pemain film atau sinetron ini jumlahnya lebih dari 50 orang;  maju dari berbagai daerah pemilihan di Indonesia.

Memboyong artis untuk masuk bursa caleg bukan hal baru. Pada Pileg 2014 misalnya, puluhan seleb juga mencoba peruntungan terjun ke dunia politik dengan cara nyaleg. Ada 15 orang lolos melenggang ke Senayan, mengampu tugas sebagai wakil rakyat.

Betul, tak ada aturan yang melarang selebritas untuk maju menjadi calon anggota legislatif. Tapi bukan berarti fenomena ini baik-baik saja. Hampir semua partai politik memastikan caleg artis yang diusungnya memiliki kompetensi sebagai anggota DPR. Tengok saja di linimasa, soal artis nyaleg mengundang sorotan: khawatir sampai nyinyir.

Apakah sudah sedemikian dangkalnya partai politik memahami esensi representasi politik yang diemban para wakil rakyat di parlemen? Atau ini refleksi nyata dari degradasi kualitas partai akibat gagal mengkader calon wakil rakyat? Lalu apa kerja partai jika tidak melakukan fungsi kaderisasi dan masih saja menggunakan cara instan untuk mendulang suara?

Rasanya tidak adil jika memukul rata semua artis tidak kompeten maju sebagai caleg. Di sisi lain, kita juga berhak atas kandidat wakil dan pemimpin terbaik. Tanggung jawab dan fungsi itu melekat pada partai politik. Parpol mesti bekerja serius menanamkan ideologi dan program-programnya kepada para tokoh populer itu tadi. Tak sekadar menjadikan para artis tadi sebagai kendaraan dalam meraup suara rakyat. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.