Share This

Ahok

Apapun etnisnya, apapun agama atau keyakinannya, mestinya memiliki kesempatan yang sama. Tak sekadar menjadi kepala daerah, bahkan kepala negara Republik Indonesia.

EDITORIAL

Jumat, 22 Jul 2016 10:00 WIB

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. (Antara)

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. (Antara)


Survei terbaru yang digelar Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan tingkat keterpilihan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jauh mengungguli calon lawan-lawannya. Selisihnya lebih 30 persen dari calon pesaing terkuat bekas Menteri Yusril Ihza Mahendra. Dalam survei terkait pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta ini, dari 646 responden, Ahok mendapat dukungan 36,6 persen. Yusril di peringkat kedua dengan meraih 2,8 persen, selisih tipis dengan pengusaha Sandiaga Uno dengan 2,1 persen.

Kuatnya posisi Ahok juga tampak ketika disimulasikan dengan 22  nama calon. Dengan simulasi semi terbuka ini dukungan bagi Ahok mencapai 53,4  persen. Jauh dari peringkat dua yang masih diduduki Yusril dengan 10,4 persen suara. Di peringkat ketiga ada Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan 5,7 persen.

Mayoritas responden memilih petahana lantaran puas dengan kinerja Ahok. Menurut mereka kepemimpinan Ahok terbukti membawa kemaslahatan bagi warga. Selain itu sebagian besar warga ibu kota itu memilih eks anggota DPR itu lantaran tegas dan telah memiliki pengalaman.

Dari hasil survei itu kita melihat sebagian warga Jakarta memiliki pandangan yang jernih terhadap calon kepala daerahnya. Meski Ahok terus diserang kampanye negatif melalui media sosial juga aksi unjuk rasa, tak menyurutkan orang untuk mendukungnya.

Meski begitu ada catatan yang mesti diperhatikan dari survei SMRC. Sebanyak 41 persen responden setuju dengan pandangan non-Muslim tak boleh memimpin di daerah mayoritas warganya beragama Islam. Pandangan ini jelas tak mewakili semangat pendirian bangsa Indonesia yang majemuk dan bukan negara berdasar agama. Apapun etnisnya, apapun agama atau keyakinannya, mestinya memiliki kesempatan yang sama. Tak sekadar  menjadi kepala daerah, bahkan kepala negara Republik Indonesia. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.