Patroli Grup Whatsapp

Polri menyebut peredaran hoax belakangan lebih dominan dilakukan melalui WA Grup ketimbang media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter.

OPINI | EDITORIAL

Rabu, 19 Jun 2019 00:45 WIB

Author

KBR

Patroli Grup Whatsapp

Ilustrasi: Patroli Grup Whatsapp

Polri mulai melebarkan jangkauan patroli sibernya untuk menghalau penyebaran konten berita bohong alias hoax . Kini tidak hanya menyasar media sosial, tapi juga menyasar grup aplikasi pesan berbalas Whatsapp. 

Polri menyebut peredaran hoax belakangan lebih dominan dilakukan melalui WA Grup ketimbang media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter. Menurut polisi, pelaku penyebar hoax sengaja berpindah ke grup whatsapp karena merasa lebih aman dan kecil kemungkinan tertangkap polisi. Celah inilah yang ingin ditutup.

Dukungan datang dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang menyebut langkah ini baik adanya untuk menekan peredaran hoax. Toh, kata dia patroli tidak bakal dilakukan sembarangan apalagi sesuka hati. Hanya akan menjaring mereka yang melakukan pelanggaran hukum. 

Senada, Kepala Staf Presiden Moeldoko juga meminta masyarakat tidak terlalu khawatir. Patroli ini katanya perlu dilakukan untuk menjaga keamanan negara yang menjadi tanggung jawab presiden dan pemerintah. Dia pun yakin patroli tidak akan memasuki ranah privat warga negara. Sekadar mengenali siapa melakukan apa, berbicara apa, menulis apa. Sepanjang itu baik-baik saja, tidak ada masalah, kata Moeldoko.

Setuju sih, hoax memang harus dilawan. Tapi tepatkah cara ini?  Agar niat baik tidak mengundang polemik berkepanjangan dan justru menimbulkan masalah di kemudian hari, beberapa hal mesti jelas dulu diawal. Apakah polisi punya hak untuk melakukan itu dan apa dasar hukum yang dipakai? 

Bagaimana cara pemantauan dilakukan agar tidak berbenturan dengan isu hak privasi? Sebab kita tahu Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi hingga kini belum juga disahkan oleh DPR.

Lalu, apakah penyebaran hoax bakal selesai hanya dengan menangkapi penyebarnya? Pekerjaan rumah yang lebih besar jelas menanti; meningkatkan literasi digital masyarakat supaya tidak terus-terusan jadi korban atau pelaku penyebar hoax. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum