Share This

Selamat Merayakan Idul Fitri

Negara lewat Kementerian Agama juga tak perlu ikut campur meminta jemaat Ahmadiyah berbalik dari keyakinannya. Tapi harusnya menengahi kedua pihak agar berdamai dan saling menerima.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 15 Jun 2018 05:52 WIB

Selamat Idul Fitri 1439 H

Selamat Idul Fitri 1439 H

Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum penting untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Presiden Joko Widodo pun lewat Twitter berpesan agar kita saling bermaafan dengan hati yang tulus dan ikhlas. Cuitan itu semestinya tidak hanya kata-kata tapi mewujud kepada jemaat Ahmadiyah di Desa Greneng, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kondisi mereka kini menyedihkan karena tersingkir dari kampung halamannya setelah diserang sekelompok orang pada pertengahan Mei lalu. 

Peristiwa menyakitkan itu membuat mereka mengungsi di gedung Loka Latihan Kerja. Untuk kembali, ditolak masyarakat sekitar karena jemaat Ahmadiyah tak mau mengikuti ajaran Islam arus utama. Bujukan yang agak memaksa tersebut seharusnya tidak perlu. Toh, soal kepercayaan apa yang dianut adalah kebebasan setiap individu. Negara lewat Kementerian Agama juga tak perlu ikut campur meminta jemaat Ahmadiyah berbalik dari keyakinannya. Tapi harusnya menengahi para jemaat dan masyarakat yang menolak agar berdamai dan saling menerima. 

Sementara berdebat soal 'sesat atau tidak' takkan pernah selesai. Masing-masing pihak akan mengklaim yang paling benar. Karena bicara soal kitab suci pasti erat dengan tafsir. Dan tafsir pun tak lepas dari keterbatasan dan konteks politik yang mengelilinginya. Sehingga sangat mungkin jika kalangan tertentu kemudian mencap sebuah kelompok kafir atau sesat. Sialnya, stempel tersebut dikuatkan negara dalam bentuk aturan. Dampaknya bisa terlihat; terjadi tindakan kekerasan atas nama agama. 

Marilah kita sama-sama menyingkirkan ego atas nama agama dan mengutamakan kemanusiaan. Sebab kemanusiaan melampaui sekat-sekat agama, ras, bahkan etnis. Apalagi hari ini Lebaran Idul Fitri, semua umat Muslim pasti ingin berkumpul dengan sanak saudara, tak terkecuali jemaat Ahmadiyah di Desa Greneng. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.