Pemusnahan Budaya Lokal

Sejumlah penari menjadi sasaran protes, karena dianggap mengarah pada penampilan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender atau LGBT

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 02 Mei 2019 05:00 WIB

Author

KBR

Ilustrasi

Ilustrasi

Peringatan Hari Tari Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat akhir April lalu diwarnai aksi sekelompok orang yang hendak membubarkan acara pentas kesenian. Sejumlah penari menjadi sasaran protes, karena dianggap mengarah pada penampilan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender atau LGBT.

Meningkatnya sentimen negatif kelompok tertentu pada LGBT memiliki efek pada nasib budaya-budaya lokal di Indonesia. Ada banyak budaya dan tradisi lokal yang terancam tergerus atau musnah karena mempunyai konsep peran lintas gender. Misalnya seni tari Lengger Lanang di Banyumas, seni ludruk di Jawa Timur atau wayang orang di Jawa Tengah. Begitu juga kesenian Warok Ponorogo yang mengenal istilah gemblak atau pasangan sesama jenis.

Banyak analisa menyebut tergerusnya budaya lokal karena arus globalisasi atau liberalisasi. Namun di Indonesia, budaya lokal banyak tersingkir karena menguatnya paham beragama secara eksklusif, konservatif dan ekstrem beberapa tahun terakhir. 

Perusakan makam raja-raja Yogyakarta pada lima tahun lalu ditengarai dilakukan kelompok penganut agama yang gampang mengafirkan orang lain. Begitu juga vandalisme situs Calonarang di Kediri Jawa Timur dan sejumlah situs bersejarah lain, terang-terangan dilakukan atas nama agama. Perusakan itu mengingatkan aksi kelompok ISIS ketika merusak tempat-tempat bersejarah di Suriah dan Irak. 

Padahal puluhan tahun lalu, budaya dan tradisi lokal tidak pernah mendapat masalah berdampingan dengan para pemeluk agama samawi, terutama dari jazirah Arab.

Menguatnya sikap beragama secara ekstrem dan eksklusif menempatkan budaya dan tradisi-tradisi lokal di ambang pemusnahan. Tradisi dan budaya lokal adalah kekayaan dan warisan bukan benda yang tidak ternilai. Musnahnya budaya lokal berarti hilangnya sebagian kekayaan kita. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.