MRT dan Perubahan Budaya

Perilaku memprihatinkan mereka yang tak antri sesuai lajurnya, mereka yang makan di stasiun atau mereka yang bergelantungan dan menginjak bangku di dalam kereta.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 25 Mar 2019 00:16 WIB

Author

KBR

MRT Jakarta Ratangga

MRT Jakarta moda transportasi baru menuntut perubahan budaya (foto: KBR/DKW)

Sejarah baru transportasi ibukota Jakarta telah ditorehkan dengan diresmikannya MRT  kemarin oleh Presiden Joko Widodo . Peresmian yang hingar bingar ini menandai perjalanan panjang keinginan, cita-cita dan proses pembangunan alat transportasi massal ini. Jakarta yang penuh sesak oleh manusia tentu sangat pantas punya MRT untuk melengkapi sistem transportasi publik yang ada di ibukota. 

Ide MRT merentang panjang sejak tahun 1985 ketika BJ Habibie, saat itu sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan mencetuskan ide soal MRT. Ide ini bersambut sepuluh tahun kemudian di tangan Gubernur Jakarta Surjadi Soedirdja yang menjajaki proyek MRT. Gubernur berganti gubernur, rezim berganti rezim, sampai akhirnya proyek MRT dimulai pada 2013 dan diresmikan tahun ini. 

Perjalanan panjang hadirnya transportasi massal yang layak dan berkualitas ini tentu perlu dijaga bersama. Namun beberapa saat sebelum diresmikan, yang banyak beredar justru foto yang mencerminkan kualitas sebaliknya. Mereka yang tak antri sesuai lajurnya, mereka yang makan di stasiun atau mereka yang bergelantungan dan menginjak bangku di dalam kereta. 

Teknologi transportasi publik bernama MRT memang sudah hadir, tapi budaya memperlakukan fasilitas transportasi publik dengan baik masih harus dibangun. Sistem bisa memaksa orang untuk berubah - lihat saja bagaimana beradabnya orang naik kereta luar kota sekarang. MRT perlu juga menerapkan sistem untuk memaksa perilaku penggunanya untuk ikut berubah. Dan kita, sebagai sesama pengguna, juga mesti siap menegur atau ditegur demi kebaikan bersama. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Jokowi Diminta Pilih Menteri yang Jujur dan Bersih

Kolaborasi Warga Lokal dan Kecerdasan Buatan Tuk Jaga Hutan

Kolaborasi Warga Lokal dan Kecerdasan Buatan Tuk Jaga Hutan

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14