Bipolar

Perubahan suasana hati dan perilaku orang dengan gangguan bipolar seringkali tidak dipahami masyarakat. Parahnya lagi mereka mendapat stigma negatif, dicap “gila” atau berkepribadian buruk.

OPINI | EDITORIAL

Jumat, 30 Mar 2018 08:28 WIB

Author

KBR

Ilustrasi: Bipolar

Ilustrasi: Bipolar

Setiap 30 Maret dunia memperingati Hari Bipolar. Peringatan bertepatan dengan hari ulang tahun pelukis ternama Vincent van Gogh bertujuan untuk menghilangkan stigma buruk terhadap orang dengan gangguan Bipolar. Van Gogh didiagnosis juga memiliki gangguan ini. 

Situs National Institutes of Health Amerika Serikat menjelaskan gangguan bipolar sebagai gangguan pada otak yang menyebabkan perubahan suasana hati yang fluktuatif, panik dan depresif. Kondisi ini tak jarang berdampak pada kemampuan menjalani aktifitas rutin. 

Marshanda merupakan salah satu contoh orang dengan gangguan bipolar. Aktris dan penyanyi ini kerap mengunggah kalimat motivasi dan penuh semangat. Namun, di kesempatan lain, bisa terlihat begitu depresi. 

Perubahan suasana hati dan perilaku orang dengan gangguan bipolar seringkali tidak dipahami masyarakat. Parahnya lagi mereka mendapat stigma negatif, dicap “gila” atau berkepribadian buruk.  Akibatnya mereka tak mendapat perawatan yang memadai. Padahal, keluarga dan lingkungan berperan besar membuat orang dengan gangguan bipolar berdamai dengan kondisinya sehingga bisa tetap berprestasi dalam hidup.

Jumlah pengidap gangguan ini tak sedikit. Dalam laporan yang ditulis Huffington Post, jumlah pengidap bipolar di seluruh dunia diperkirakan mencapai 5 persen dari total penduduk dunia. artinya ada 450 juta orang hidup dengan bipolar. 

Lewat Hari Bipolar Sedunia ini, saatnya kita membuang persepsi negatif terhadap individu dengan gangguan mental dengan mengedukasi diri. Sayangi jiwa kita dengan memberanikan diri mengecek  kesehatan jiwa sedari dini.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Perlindungan Hukum untuk Para Pembela HAM Masih Lemah

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Belajar HAM di Museum HAM Munir

Kabar Baru Jam 13