Golput 1/2

Tanda-tanda golput meningkat membuat kubu Jokowi-Maruf meradang. Apalagi, banyak pemilih golput sebelumnya dari pendukung Jokowi.

OPINI | EDITORIAL

Rabu, 06 Feb 2019 10:04 WIB

Author

KBR

Sosialisasi pemilu 2019 di Aceh

Sosialisasi Pemilu untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat menggunakan hak pilihnyapada Pemilu serentak 17 April mendatang. (Foto: Antara/Rahmad).

Seorang pengamat memperkirakan angka golongan putih atau golput pada Pemilu  tahun ini bakal meningkat hingga 30 persen. Perkiraan itu didasarkan pada situasi kampanye politik saat ini yang membosankan dan memuakkan. Kampanye hanya berisi saling serang tentang isu receh dan remeh-temeh.

Golput adalah sebutan untuk sikap tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu. Istilah itu belakangan menguat menjelang pemilu 2019. Banyak orang terang-terangan memilih golput karena kecewa dengan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden saat ini. Jokowi-Maruf dan Prabowo Sandi dianggap tak menarik, dan tak layak dipilih.

Tanda-tanda golput meningkat membuat kubu Jokowi-Maruf meradang. Apalagi, banyak pemilih golput sebelumnya dari pendukung Jokowi.

Kemunculan golput tak bisa disalahkan. Sejak masa kampanye dibuka September lalu, publik hampir tak pernah disuguhi adu program dari masing-masing calon presiden. Banyak orang tidak tahu, bagaimana masing-masing calon presiden itu menyelesaikan problem bangsa jika terpilih di lima tahun ke depan. Apa prioritas pembangunan nanti, bagaimana mengatasi isu ketenagakerjaan dan pengangguran. Apa solusi mengurangi defisit neraca perdagangan, bagaimana mengurangi impor pangan, dan sebagainya.

Tapi golput pada pemilihan presiden tak mesti harus golput pada pemilu legislatif. Pada pemilu lima tahun lalu, angka golput pada pemilu legislatif lebih kecil daripada golput pemilihan presiden. Angkanya 24 persen berbanding 29 persen. Jadi, sikap golput pilpres tidak bisa dikatakan melanggar undang-undang jika disertai ajakan memilih calon anggota legislatif yang bersih, terutama caleg perempuan. 

Inilah golput setengah. Abstain pada pemilu presiden, tapi tetap menggunakan hak pilih untuk memilih calon anggota legislatif. Karena golput 100 persen juga bukan pilihan terbaik. Setidaknya jangan serahkan kursi legislatif ke caleg dengan rekam jejak tidak jelas. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Seleksi CPNS 2019 Diskriminatif

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10