Korban Konflik

Jangan sampai korban semakin bertambah. Karena peluru tak bermata, dia bisa datang dari mana saja. Korbannya bisa mereka yang tengah berkonflik atau warga sipil biasa. Tak pandang bulu.

OPINI | EDITORIAL

Selasa, 11 Des 2018 01:23 WIB

Author

KBR

Prajurit TNI menuju Nduga, Papua

Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua untuk mengatasi Kelompok Kriminal Bersenjata. (Foto: Antara/Iwan Adisaputra).

Pascaevakuasi korban penembakan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Nduga, Papua, hingga Minggu sebanyak empat warga sipil dilaporkan tewas. Tokoh pemuda setempat menyebut korban penembakan yang diduga dilakukan aparat terjadi di Mbua dan Yigi. Selain itu seribuan warga juga dilaporkan mengungsi lantaran kuatir menjadi korban konflik bersenjata. Dikuatirkan korban akan bertambah lantaran kekurangan makanan dan gangguan kesehatan.

Lain warga, lain pula kata aparat. Menurut Komandan Kodim Jayawijaya, warga mengungsi lantaran kuatir menjadi sasaran pascapenyerangan pekerja proyek Trans Papua. Dia mengatakan, warga yang mengungsi telah kembali lantaran adanya jaminan keamanan dari Aparat TNI serta Polri. Aparat setempat juga mengklaim tak menggelar operasi militer, kehadiran mereka sebatas evakuasi dan mencari korban penyerangan TPNPB.

Dalam kasus penyerangan terhadap pekerja proyek, Perintah Presiden Joko Widodo jelas, kejar dan tangkap. Aparat yang menjalankan perintah itu sepatutnya melaksanakan dengan  berhati-hati.  Jangan sampai korban semakin bertambah. Karena  peluru tak bermata, dia bisa datang dari mana saja. Korbannya bisa mereka  yang tengah berkonflik atau warga sipil biasa. Tak pandang bulu.

Korban sudah dan terus  berjatuhan. Mesti ada upaya sungguh-sungguh untuk memulihkan perdamaian di bumi cendrawasih. Jalannya sudah jelas, melalui duduk bersama di  meja perundingan. Karena tidak akan ada konflik yang selesai melalui salakan senjata.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kala Tuntutan Setop Tes Keperawanan Bergulir

Kabar Baru Jam 10

'Kelas Multikultural' SMK Bakti Karya Parigi

Komunitas Pattas Sosial Kurir Langit Wakili Indonesia dalam Penghargaan Layanan Publik PBB 2020

Kabar Baru Jam 8