Keadilan bagi Korban

Sejumlah berkas dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu yang sudah diserahkan, tak jelas kelanjutannya. Apalagi bila terduga pelakunya aparat militer.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 10 Des 2018 03:52 WIB

Author

KBR

Pameran foto memperingati Hari Asasi Manusia (HAM) Internasional di lokasi Car Free Day, Banda Aceh.

Pameran foto memperingati Hari Asasi Manusia (HAM) Internasional di lokasi Car Free Day, Banda Aceh, Minggu (9/12/2018). (Foto: Antara/Ampelsa).

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) sejak tiga bulan silam telah menyerahkan hasil penyelidikan dugaan  pelanggaran di Aceh kepada Kejaksaan Agung. Berkas diserahkan setelah puluhan saksi peristiwa dugaan pelanggaran HAM selama menjadi daerah operasi militer pada 20an tahun silam didengar keterangannya. Mulai dari kasus Jambu Kepok, kasus Simpang KKA, hingga Rumah Geudong. 

Jaksa Agung Prasetyo berjanji secepatnya menuntaskan meneliti berkas-berkas penyelidikan itu. Penelitian dimaksudkan untuk mengecek kelengkapan untuk bisa tidaknya ditingkatkan menjadi penyidikan. 

Tapi kita ragu dengan keseriusan kinerja Kejaksaan Agung. Sejumlah berkas dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu yang sudah diserahkan, tak jelas kelanjutannya. Apalagi bila terduga pelakunya aparat militer. Dalihnya yang kerap berulang disampaikan lantaran tak cukup bukti.

Jadi, peringatan Hari HAM internasional Senin ini akan berlangsung murung. Keadilan belum berpihak pada korban dan keluarga yang puluhan tahun memelihara harap.  Pemerintah tak menjadikan penuntasan kasus HAM sebagai prioritas. Hukum dinomorsekiankan lantaran urusan ekonomi dan infrastruktur yang jadi panglima.

Janji Presiden Joko Widodo  untuk mempercepat penuntasan kasus HAM dalam pidato kenegaraan Agustus lalu, berhenti di ucapan. Janji itu harus dilunasi, bila ingin mandat itu diperpanjang. Demi memberi keadilan bagi korban dan keluarganya dari Aceh hingga Papua.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945