Hadiah Natal

Istana Merdeka selalu menjadi saksi. Sudah lima tahun jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi beribadat di seberang Istana Merdeka. Gereja mereka disegel pemda.

OPINI | EDITORIAL

Jumat, 21 Des 2018 01:11 WIB

Author

KBR

Jemaat GKI Yasmin Bogor di depan Istana Merdeka

Jemaat GKI Yasmin Bogor berdoa di depan Istana Merdeka.

Beberapa hari ini keramaian melebihi hari biasa di stasiun, terminal hingga bandara. Warga kembali menyambut rutinitas akhir tahun. Mudik di tengah libur sekolah, menyambut Hari Raya Natal dan tahun baru.

Sebagaimana Lebaran, libur Natal juga dinikmati umat agama lain sebagai sebuah berkah hidup di negara majemuk. Beragam hari besar agama selalu membawa pesan sukacita, berbagi kegembiraan, menebar damai dan saling berlaku adil dan melindungi hak asasi umat manusia. Demi hidup secara manusiawi dan terhormat.

Tak ada hadiah Natal yang lebih berharga dari terwujudnya nilai-nilai universal itu. Apalagi kita tengah menghadapi ancaman intoleransi , pengkotak-kotakan mayoritas-minoritas beragama, dan benih-benih ekstremisme beragama. Tapi mewujudkan semagat Natal yang universal tak cukup sekadar seremonial dan ritual nyanyian dan pujian. Cukup sudah sambutan basa-basi yang indah di atas kertas.

Istana Merdeka selalu menjadi saksi. Sudah lima tahun jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor  dan HKBP Filadelfia Bekasi beribadat di seberang Istana Merdeka. Gereja mereka disegel pemerintah daerah. Artinya lima kali juga mereka merayakan Natal di seberang Istana. Tahun ini bakal jadi yang keenam. Bahkan mereka juga sudah 170 kali datang ke Istana, menggelar ibadah dua minggu sekali. Menempuh jarak puluhan kilometer dari Bogor untuk mengetuk hati penguasa.

Mempersulit umat lain beribadah, atas nama mayoritas-minoritas atau dalih apapun, bukan cermin negara bermartabat. Tak ada hadiah Natal yang lebih indah bagi jemaat itu selain dibukanya kembali gereja mereka yang disegel.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Hari Hak Asasi Manusia, Apa yang Diinginkan Keluarga Korban Pelanggaran HAM?

Kabar Baru Jam 8

Kelas Multikultural, Ruang Keberagaman dari Tanah Sunda

Kabar Baru Jam 7

Arab Saudi Hapus Aturan Pemisahan Gender di Restoran dan Kafe