Antara Tsunami dan Nafsu Menambang

Di pesisir Banyuwangi, benteng alami tsunami Tumpang Pitu terancam dipapas lantaran mengandung emas. Padahal gugusan bukit ini pernah meredam kekuatan gelombang tsunami pada 1994.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 28 Des 2018 01:03 WIB

Author

KBR

Demo mahasiswa Banyuwangi tolak tambang emas Tumpang Pitu

Demonstrasi mahasiswa menolak Tambang Emas Tumpang Pitu (Foto: Hermawan/KBR)

Menyaksikan tsunami di Banten dan Lampung , seakan menjadikan kita saksi atas pengabaian risiko bencana. Hasil riset tim peneliti yang dipimpin Gegar Prasetya pada 1998 semestinya menjadi rujukan pemerintah untuk membangun wilayah pesisir Selat Sunda. Riset tersebut membuktikan, runtuhnya kaldera Krakatau jadi sebab tsunami pada 1883. Gelombang tsunami kala itu menyapu puluhan ribu jiwa. Kemarin, hampir 500 jiwa tewas digulung gelombang senyap. Penyebabnya sama, longsoran kurva gunung hiperaktif ini.

Di Aceh juga begitu. Sekalipun menewaskan ratusan ribu jiwa, gelombang setinggi puluhan meter tidak juga membuka mata kita atas kerentanan negeri ini. 

Ancaman tsunami kerap diabaikan dengan dalih pembangunan dan investasi. Di pesisir Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi, benteng alami tsunami Tumpang Pitu terancam dipapas lantaran mengandung emas. Padahal gugusan bukit ini pernah meredam kekuatan gelombang tsunami di pesisir selatan Banyuwangi pada 1994. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat, Tumpang Pitu  merupakan kawasan rentan tsunami. Kepada KBR, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)  pernah mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak yang jauh lebih besar bila gunung emas tersebut tiada. 

Dengan berulangnya tsunami, pemerintah sebetulnya punya cukup bahan untuk memitigasi bencana . Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk lupa, apalagi menghabiskan waktu saling tuding menghindari tanggungjawab. Kalaupun minim anggaran untuk memodernisasi alat deteksi tsunami, kita tampaknya perlu menduplikasi orang-orang seperti Hari Budiawan alias Budi Pego . Warga Banyuwangi ini lah yang sejak 2014 mengingatkan risiko bencana dari penambangan emas di Tumpang Pitu. Tetapi ia dikriminalisasi agar diam seperti buoy yang tak lagi memberi tanda bahaya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17