Share This

Karhutla

Masyarakat kelak yang akan menilai, mana yang serius tanpa pandang bulu menindak pelaku Karhutla. Siapa saja pelakunya, baik warga atau pengusaha.

EDITORIAL

Selasa, 28 Agus 2018 05:25 WIB

Polisi basahi lahan gambut terbakar di Univ Tanjungpura

Anggota kepolisian membasahi lahan gambut yang masih terbakar di lapisan bawah, di kawasan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalbar, (23/8). (Foto: Antara/HS Putra).

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat dalam sebulan terakhir mengakibatkan hilangnya empat jiwa. Karhutla juga mengakibatkan ribuan  warga terkena serangan infeksi. Warga yang menderita karena asap diperkirakan akan terus bertambah. Penyebabnya, hingga 2 hari lalu pantauan satelit Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kalbar tercatat ada lebih 2700 titik panas.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan kepolisian setempat sepatutnya segera bertindak, sebelum korban jiwa atau sakit berjatuhan. Hingga kemarin kepolisian Kalbar telah menetapkan 27 warga sebagai tersangka Karhutla. Sebanyak 14 orang telah ditahan.

Sementara itu KLHK, sejauh ini baru menyegel ratusan hektar kebun sawit milik 5 perusahaan di Kabupaten Kubu Raya. Kementerian masih menyelidiki kasus kebakaran di kelima perusahaan tersebut untuk menyusun berkas dakwaan. KLHK mengklaim pemerintah serius menegakkan hukum dalam kasus Karhutla.

Klaim penegakan hukum  boleh saja disampaikan. Masyarakat kelak yang akan menilai, mana yang serius tanpa pandang bulu menindak pelaku Karhutla. Siapa saja pelakunya, baik  warga atau  pengusaha harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Selain itu, sosialisasi dan upaya pencegahan juga tak boleh  sampai kendor. Tak hanya untuk Kalimantan Barat, tapi di seluruh daerah yang berpotensi Karhutla.  Jangan sampai musim kemarau kali ini kembali menimbulkan bencana yang meluas.  Bencana asap yang dampaknya turut dirasakan jauh hingga ke negeri jiran.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.