Mudik

Sekitar 60% dari seluruh perjalanan mudik akan dilayanai moda darat seperti bus dan kendaraan pribadi.

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 30 Mei 2019 00:18 WIB

Author

KBR

Ilustrasi: Arus Mudik

Iustrasi: Arus mudik (Foto: Antara)

Hajatan nasional tiba. Diperkirakan 23 juta orang bakal bergerak menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menemui keluarga dan sanak saudara di kampung alias mudik. Sejak jauh hari pemerintah merumuskan sejumlah kebijakan demi memperlancar kegiatan mempererat silaturahmi ini. Tujuannya, memastikan keselamatan para pemudik.

Seperti tahun sebelumnya, penanganan kemacetan dan kecelakaan moda transportasi darat adalah tantangan utama dalam menyukseskan mudik Lebaran. Ini lantaran sekitar 60% dari seluruh perjalanan mudik akan dilayanai moda darat seperti bus dan kendaraan pribadi. 

Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah mengupayakan teknik rekayasa lalu lintas guna menambah kapasitas jalan. Dengan begitu harapannya tidak terjadi penumpukan arus kendaraan pada waktu bersamaan. Sistem one way (satu arah), misalnya,  bakal dilakukan di jalan tol sepanjang 230-an km, mulai Kamis besok. Dengan one way, pemudik bisa punya kelonggaran waktu melintas dan bisa lebih cepat sampai.

Namun yang perlu diingat, jaminan kelancaran pada jalan tol perlu didukung lancarnya pergerakan dua arah di jalan bukan tol.  Persimpangan, tanjakan, terminal bayangan, perlintasan kereta api, atau pasar yang berada di sepanjang jalan nasional tetap butuh perhatian.  Jangan sampai macet di jalan bukan tol mengular sampai ke dalam tol. 

Mudik tak pernah jadi hajatan sederhana. Bukan pekerjaan rumah pemerintah pusat semata, tapi juga pemerintah daerah dan kita, selaku pemudik. Jadilah pemudik yang bijak. Mengatur, mempersiapkan diri dan perjalanan mudik sebaik mungkin adalah langkah yang bisa kita dilakukan untuk mendukung suksesnya mudik 2019. 

Selamat mudik!  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tak Berpihak Pada Nelayan, Pemerintah Didesak Revisi Perda Zonasi Wilayah Pesisir