Menggugat Tiket Pesawat

Jumlah penumpang pesawat domestik pada Maret lalu turun 21 persen, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Berbeda dengan jumlah penumpang pesawat ke luar negeri yang justru naik.

OPINI | EDITORIAL

Rabu, 08 Mei 2019 00:27 WIB

Author

KBR

Ilustrasi: Suasana Bandara

Ilustrasi: Suasana bandar udara. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Sejak Januari lalu, tiket pesawat naik dua kali lipat. Dampaknya kemana-mana. Tidak hanya menyulitkan masyarakat yang hendak memesan tiket mudik lebaran. Industri pariwisata di daerah juga berdarah-darah. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah penumpang pesawat pada Maret lalu turun 21 persen, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Berbeda dengan jumlah penumpang pesawat ke luar negeri yang justru naik. Mahalnya harga tiket pesawat juga berkontribusi pada naiknya inflasi pada April lalu.

Banyak media memberitakan anomali, dimana warga di Aceh memilih terbang ke Malaysia lebih dulu untuk menuju ke Jawa karena tiket lebih murah dibanding membeli tiket langsung ke Jawa. Puluhan siswa dari Aceh juga batal melakukan kunjungan belajar ke Bandung, dan akhirnya memilih studi banding ke Malaysia. Alasannya sama, tiket domestik lebih mahal dari tiket ke luar negeri. 

Naiknya tiket pesawat membuat pusing banyak orang. Tidak hanya bagi masyarakat pengguna, tapi juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi . Ia diberi waktu seminggu oleh Presiden Joko Widodo untuk menurunkan tiket pesawat yang dikeluhkan mahal oleh masyarakat. 

Lebih dari satu juta orang meneken petisi melalui situs Change.org, menuntut Menteri Budi menurunkan harga tiket pesawat. Menteri Budi mestinya berani memangkas tarif batas atas pesawat kelas ekonomi sesuai kewenangan yang dimiliki. 

Publik juga berharap banyak pada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang kini mengusut dugaan kartel tiket pesawat yang menjadi biang keladi mahalnya biaya penerbangan domestik. Dua grup maskapai penerbangan yang menguasai pasar, yaitu grup Garuda dan grup Lion, disebut-sebut ada dalam pusaran duopoli permainan tiket itu. 

Sebagai negara kepulauan yang menggiatkan industri wisata, naiknya tiket pesawat adalah ironi.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas