Makar

YLBHI merujuk pada kasus Eggi yang semestinya tak masuk kategori makar karena sekadar menyerukan "people power" tanpa pengerahan kekuatan.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 13 Mei 2019 00:13 WIB

Author

KBR

Kivlan Zein

Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zein berunjuk rasa menuntut diusutnya dugaan kecurangan Pemilu 2019 (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra).

Hari-hari ini, kata “makar” makin akrab di telinga. Situasi pasca Pemilu  yang masih panas, dan terus panas jelang penetapan hasil penghitungan suara tanggal 22 Mei nanti. 

Ada HS yang mengancam memenggal Kepala Presiden Joko Widodo  ketika berdemo di depan Gedung Bawaslu pekan lalu. Meski mengaku khilaf, ia kini jadi tersangka kasus makar karena dianggap mengancam keamanan negara. Atau Kivlan Zen yang namanya muncul lagi ke permukaan. Ia dilaporkan melontarkan pesan-pesan bernada makar ketika berdemo. Kivlan kini tengah mempolisikan balik si pelapor dengan dugaan keterangan palsu. Eggi Sudjana juga jadi tersangka kasus dugaan makar karena menyerukan “people power” dalam sebuah orasi. 

Menggunakan pasal “makar” memang perlu hati-hati. YLBHI merujuk pada kasus Eggi yang semestinya tak masuk kategori makar karena sekadar menyerukan "people power" tanpa pengerahan kekuatan. Tapi seruan-seruan yang muncul di tengah berbagai tudingan kecurangan yang terus menggema sejak usai Pemilu memang bikin situasi panas. Sementara Pemerintah malah merespons dengan membuat Tim Hukum Nasional yang justru berpotensi membungkam kritik kepada pejabat negara. 

Karena core of the core alias intinya inti semua kegerahan ini adalah kontestasi Pemilu. Menang biasa saja, kalah pun ya tak usah berlebihan. Dulu kita semua begitu menantikan hari pencoblosan sehingga cebong versus kampret segera usai, ternyata itu tak terjadi. Sekarang kita sungguh menantikan tanggal 22 Mei ketika KPU mengeluarkan penghitungan suara resmi. Supaya hidup tak perlu nge-gas terus. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17