Hak Pilih Migran

Di lapangan bukan urusan sepele dalam waktu yang singkat melayani ribuan orang. Mereka yang melayani dan menggunakan hak pilih, melakukannya karena kecintaannya pada bangsanya, Indonesia.

OPINI , EDITORIAL

Selasa, 16 Apr 2019 00:04 WIB

Author

KBR

PPLN di TPS Malaysia Pemilu 2019

Sebanyak 80-90 persen dari 1,5 juta WNI di seluruh Malaysia mengikuti Pemilu 2019 lebih awal dari Indonesia. (Foto: Antara/Rafiuddin Abdul Rahman).

Pejuang hak  buruh migran , Anis Hidayah kemarin melalui media sosial membagi kisah pemantauannya selama beberapa hari di negeri jiran, Malaysia. Anis cukup detail menangkap gairah  mereka yang antusias menggunakan hak pilihnya. Mulai dari tidak mudah untuk mendapat izin majikan, jarak yang jauh untuk mendatangi tempat pemungutan suara, sampai rela mengantre berjam-jam di siang terik juga hujan. 

Tak lupa, Anis mengapresiasi petugas di lapangan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) yang bekerja keras memudahkan WNI di pedalaman menggunakan hak pilihnya.

Pesta demokrasi lima tahunan juga milik mereka,  2 juta lebih WNI pemilih  yang mengadu nasib di negeri orang. Sepatutnya apresiasi diberikan dengan tak menyebarluaskan hoaks di antaranya terkait pemenang pemilu di Malaysia. Meski lebih awal melaksanakan pencoblosan, penghitungan suara baru dilakukan pada Rabu besok. Metode jajak dengan exit poll tak boleh jadi rujukan klaim menang pemilu.

Terlepas dari dugaan sebagian kecil petugas yang dinilai menyulitkan pemilih di sejumlah negara, apa yang disaksikan Anis patut menjadi pelajaran. Di lapangan bukan urusan sepele dalam waktu yang singkat melayani ribuan orang. Mereka yang melayani dan menggunakan hak pilih, melakukannya karena kecintaannya pada bangsanya, Indonesia.

Karena itu, KPU  juga Bawaslu mesti membalas kecintaan mereka dengan mengusut dan  menuntaskan dugaan kecurangan yang muncul atau dilaporkan. Hanya dengan itulah jerih payah petugas dan pemilih terbayar lunas.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17