Energi Terbarukan

Tren dunia menunjukkan semua negara berlomba-lomba memakai energi terbarukan. Tahun depan diperkirakan 60 persen listrik dunia dipasok dari sumber energi terbarukan.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 26 Apr 2019 00:37 WIB

Author

KBR

Panel surya

Petugas merawat panel surya yang berada di di Pulau Parang, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Antara/Yusuf Nugroho).

Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, panas bumi di Indonesia adalah suatu hadiah. Itu betul. Potensi panas bumi Indonesia adalah kedua terbanyak di dunia. Tak hanya panas bumi, sebetulnya, tapi juga energi terbarukan lainnya. Dan ini betul-betul tinggal sebut.  Indonesia punya banyak sekali potensi -- laut, angin, surya, panas bumi, air serta bioenergi. Melimpah ruah.

Di atas kertas, Pemerintah menargetkan pengembangan energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025. Ini tinggal 6 tahun lagi lho. Target jelas bakal meleset karena realisasi sampai sekarang baru 7,8%. Kalau 'hadiah' energi terbarukan di Indonesia berlalu begitu saja tanpa pengembangan yang berarti, tentu sayang sekali. 

Bertahan dan bergantung pada energi fosil yang menipis, jelas tak bijak. Tren dunia menunjukkan semua negara berlomba-lomba memakai energi terbarukan. Tahun depan diperkirakan 60 persen listrik dunia dipasok dari sumber energi terbarukan. Ketika kita, yang punya banyak sekali potensi energi terbarukan, maka kebijakan, instrumen hukum, fasilitas harus dipastikan mendukung pengembangan energi terbarukan. 

Siapa pun presidennya, maka Badan Nasional Perencanaan Pembangunan Nasional sudah memasukkan soal penggunaan energi terbarukan secara maksimal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Ini terkait juga dengan janji mengurangi emisi secara global lewat Target Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs

Desakan sudah ada. Potensi melimpah. Memang tak ada yang ditunggu lagi selain mulai.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aliansi Mahasiswa Papua Tolak Pertemuan Jokowi-Tokoh Papua