Label yang Tak Perlu

Ketika segregasi itu menguat, ada saja kelompok yang merasa lebih lantang dan lebih berhak dibandingkan kelompok yang lain.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 04 Mar 2019 00:56 WIB

Author

KBR

Jusuf Kala dan Said Aqil Siraj di Konferensi Besar NU

Dalam musyawarah nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama menyepakati pengertian konsep Islam Nusantara. (Foto: Antara/Adeng Bustomi).

Hasil Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama untuk tak menyebut "kafir" kepada nonmuslim sungguh positif. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj menyebut rekomendasi ini dikeluarkan NU dengan melihat konteks kehidupan berbangsa dan bernegara; karena setiap warga negara punya kewajiban dan hak yang sama. Apa pun agamanya. Selain itu, secara historis pun negara ini dibangun oleh aneka rupa manusia dengan segala perbedaannya. Pelabelan “kafir”, kata NU, terasa menyakiti sebagian kelompok nonmuslim. 

Kitab suci Al Quran memang menulis soal kafir. Dan hasil Munas NU pun tak mengutak-atik apa yang sudah tertera di sana. Yang didorong oleh NU adalah supaya istilah “kafir” tak begitu enteng kita sematkan pada nonMuslim. Secara harafiah, artinya memang betul begitu. Tapi dalam konteks kehidupan sosial kita saat ini, penyebutan itu seringkali disandingkan dengan kekerasan. 

Dinamika kehidupan politik kita saat ini membuat masyarakat makin terkotak-kotak. “Kami” dan “mereka”. Padahal “kami” dan “mereka” itu sama-sama tinggal di Indonesia. Sama-sama warga negara. Sama-sama punya hak untuk menjalankan ibadah, apa pun agamanya. Tapi ketika segregasi itu menguat, ada saja kelompok yang merasa lebih lantang dan lebih berhak dibandingkan kelompok yang lain.

Hasil Munas juga langsung disambut positif kelompok agama lain, seperti Persekutuan Gereja Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia serta Perwakilan Umat Buddha Indonesia. Sebab dasar hukum paling tinggi di negara ini pun sudah menjamin keberagaman kita. Jadi tak perlu pakai label “kafir”. Agama kita berbeda, tak mengapa kan? Tinggal sebut saja nama agama yang dianut orang lain tersebut secara jelas - tak perlu lagi sebut "kafir" atau "nonmuslim". Hidup akan makin berwarna. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

We are What We Eat

Menangkal Radikalisme Lewat Kesenian

Kabar Baru Jam 7

Pemerintah Filipina Tidak Perpanjang Status Darurat Militer di Wilayah Mindanao

Kabar Baru Jam 20