Stigma AIDS

Ketidaktahuan bisa membuat sesat pikir. Ketidakmautahuan bisa membuat otak kesasar. Kesalahpahaman bisa membuat orang lain menderita.

OPINI | EDITORIAL

Jumat, 15 Feb 2019 08:35 WIB

Author

KBR

Stigma AIDS

Ilustrasi

Apa salah mereka? Pertanyaan itu muncul ketika belasan anak tak bisa lagi sekolah di sebuah SD Negeri di Purwosari, Solo Jawa Tengah, sejak beberapa pekan lalu. 

Ada 14 siswa ditolak sekolah karena diduga terkena virus HIV/AIDS . Pengelola sekolah mengklaim penolakan berasal dari orang tua siswa lain karena takut anak mereka tertular virus itu. Sekelompok orang tua bahkan mengancam akan memindahkan anak mereka ke sekolah lain jika tetap menampung anak-anak pengidap HIV AIDS itu. 

Mereka adalah anak asuh Yayasan Lentera, sebuah panti asuhan atau rumah singgah bagi anak-anak yang diduga terinfeksi HIV AIDS atau ADHA. Mereka sebelumnya juga mendapat penolakan dari warga, sehingga rumah singgah harus pindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Ada yang salah dengan otak masyarakat, hingga mereka tega menolak berdekatan dengan anak-anak dengan HIV AIDS. Ketidaktahuan bisa membuat sesat pikir. Ketidakmautahuan bisa membuat otak kesasar. Kesalahpahaman bisa membuat orang lain menderita. 

Banyak orang percaya mitos tentang HIV AIDS, dan itu harus diluruskan. Virus HIV tidak akan menular hanya karena duduk berdekatan, menghirup udara bersama, berbagi peralatan makan, atau jabat tangan bahkan berpelukan. Virus HIV juga tidak menular melalui gigitan nyamuk. 

Jika orang terus percaya mitos, itu hanya akan membuat seseorang menjadi penganiaya atau berbuat zalim terhadap orang lain. Ujungnya adalah diskriminasi. Perlakuan yang berbeda. Tidak hanya berkaitan dengan hak pendidikan anak, tapi juga menyangkut lapangan pekerjaan dan kehidupan sosial. 

Meluruskan pemahaman masyarakat soal HIV AIDS. Ini pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan semua pihak. Mulai dari pemerintah daerah, pejabat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM dan lain-lain. Orang dengan HIV AIDS jangan dijauhi. Itu membuat mereka menderita dua kali. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pegawai KPK Berstatus ASN, Independensi KPK Terancam