Hari Prabangsa Nasional

Pembatalan remisi terhadap pelaku pembunuh jurnalis sebaiknya diikuti juga dengan perlindungan yang menyeluruh terhadap profesi jurnalis.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 11 Feb 2019 00:04 WIB

Author

KBR

Hari Prabangsa Nasional

Jurnalis dan masyarakat dalam Solidaritas Jurnalis Bali mendesak pembatalan remisi bagi pembunuh jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa (Foto: Antara/Fikri Yusuf).

Surat Keputusan Presiden pencabutan remisi atas pembunuh jurnalis Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa  mestinya segera ada hari ini. Artinya, persis sepuluh tahun setelah Prabangsa dibunuh pada 11 Februari 2009 silam. Prabangsa dibunuh karena menulis soal dugaan korupsi proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli, Bali. 

Proses persidangan mengungkap otak pembunuh Prabangsa adalah I Nyoman Susrama, yang lantas dihukum seumur hidup. Namun belakangan keluar remisi yang mengurangi masa tahanan Susrama. Setelah muncul tekanan dari berbagai pihak, Presiden Joko Widodo  akhirnya membatalkan remisi itu. 

Ini adalah langkah yang baik dari seorang Presiden, karena menunjukkan kesadaran akan pentingnya profesi jurnalis. Juga soal pentingnya perlindungan terhadap jurnalis. Namun perlindungan ini belum selalu nyata. Masih ada sembilan kasus lainnya yang membuktikan betapa profesi ini bisa merenggut nyawa seseorang. Namun kasus Prabangsa ini istimewa karena hanya di kasus ini lah otak penjahatnya berhasil diadili dan dihukum. 

Mulai saat ini, 9 Februari akan kita kenang sebagai Hari Prabangsa Nasional. Pembatalan remisi terhadap pelaku pembunuh jurnalis sebaiknya diikuti juga dengan perlindungan yang menyeluruh terhadap profesi jurnalis. Juga terhadap profesi lain yang bekerja atas nama publik sekaligus memberikan suara pada mereka yang tak bisa bersuara sendiri. 

Negara perlu ingat juga kalau pembunuh aktivis HAM Munir belum terungkap, penyair Widji Thukul masih hilang sementara penyiram air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan  juga tak kunjung tertangkap. Ini termasuk PR yang mesti diselesaikan.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme