PSSI Baru Rasa Lama

Yang patut disesali ialah mentahnya skenario kongres luar biasa (KLB) pemilihan ketua umum baru. Pucuk komando hanya turun satu strip ke tangan Joko Driyono.

OPINI | EDITORIAL

Jumat, 25 Jan 2019 00:12 WIB

Author

KBR

Unjuk rasa pecinta sepak bola

Ratusan pecinta sepak bola dari berbagai daerah menuntut pemberantasan mafia sepak bola di Indonesia. (Foto: Antara/Nyoman Budhiana).

Keputusan kongres Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)  di Bali rasanya tidak cukup jadi panasea reformasi sepakbola nasional. Dari tujuh poin, hanya pembentukan Komite Ad Hoc Integritas dan lembaga independen wasit profesional Liga 1 dan 2 yang terlihat mencolok. Sedang sisanya tak sebagus kabar Edy Rahmayadi mundur dari kursi PSSI satu. 

Yang patut disesali ialah mentahnya skenario kongres luar biasa (KLB) pemilihan ketua umum baru. Pucuk komando hanya turun satu strip ke tangan Joko Driyono. Pemilik mayoritas saham Persija Jakarta ini menerima jabatan PLT, meski disinyalir punya konflik kepentingan yang dapat menggerus kredibilitas PSSI. Komite Eksekutif sama, hanya berubah ketika Satgas Mafia Bola mulai menangkap Johar Ling Eng.   

Sekalipun begitu harapan tak boleh padam. Sepakbola Indonesia mesti punya sosok yang sama sekali baru di kepengurusan PSSI. Selama kepengurusan masih bertumpu pada dahan yang sama keroposnya, mimpi besar ke laga dunia bisa jadi hanya angan-angan. Profesional sampai eks pesepakbola bisa dijajal untuk masuk federasi. Karenanya, lelang jabatan bisa jadi satu cara guna menyaring sosok profesional yang punya kapasitas, integritas dan kredibilitas memajukan sepakbola nasional.

Pengurus PSSI, di pusat maupun daerah, tak lagi perlu mencampur urusan bola dengan kepentingan pribadi, apalagi politik. Sebab sejarah sepakbola kita sudah banyak disesaki hasrat tersebut. Lupakan saja cawe-cawe politikus yang mengaku bisa memberesi masalah sepakbola. Mundurnya Edy dari jabatan ketua umum bukanlah menjadi akhir, tapi titik awal mengupayakan revolusi PSSI. Sempitnya sisa waktu kepengurusan PSSI dan hajatan politik April nanti bukan alasan untuk membatalkan agenda radikal terhadap federasi. Karena kita tak pernah tahu kapan waktu yang tepat bila belum dimulai. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas