Panggung Gelap Hak Asasi

Terkait penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, baik Jokowi dan Prabowo sama-sama bertanggungjawab atas mangkraknya kasus-kasus tersebut.

OPINI | EDITORIAL

Jumat, 18 Jan 2019 00:48 WIB

Author

KBR

Jokowi memeluk Prabowo usai debat perdana

Dua pasangan capres-cawapres bersalaman usai Debat Pertama di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). (Foto: Antara/Sigid Kurniawan).

Teater demokrasi semalam menguatkan satu hal: isu hak asasi manusia (HAM)  tidak lebih dari omong-omong belaka. Kandidat 01 berlindung dalam kompleksitas hukum penyelesaian kasus HAM, sedang pasangan 02 cukup klise dengan mengungkap jargon-jargon, seperti penegakkan HAM harga mati.

Tidak satupun kandidat yang menjabarkan kerja konkret. Contohnya legislasi. Dalam 5 tahun terakhir misalnya, kinerja partai koalisi pendukung Joko Widodo  maupun Prabowo Subianto  di Senayan terbilang buruk. Pemerintah dan DPR hanya selesaikan 5 dari target 50 rancangan undang-undang. Padahal ini krusial dan mendasar bagi pemenuhan HAM negeri ini. 

Pada pembahasan rancangan KUHP, kedua kubu masih ngotot memasukan pasal terkait hukuman mati dalam buku babon pemidanaan. Alih-alih menghapus, pemerintah dan DPR malah mengategorikan hukuman mati sebagai putusan alternatif. Padahal sudah banyak negara yang meninggalkan praktik barbar tersebut. 

Hal lain, terkait penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Baik Jokowi dan Prabowo sama-sama bertanggungjawab atas mangkraknya kasus tersebut. Selama menjabat Presiden, Jokowi tidak berupaya membangkitkan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Sedang Prabowo, selaku Ketua Umum partai oposisi Gerindra mestinya mengarahkan kader di Senayan untuk memprioritaskan UU KKR baru. Kehadiran UU yang sudah tidur belasan tahun ini penting untuk mengungkap kebenaran dan memberi adil bagi korban. 

Kalau serius bicara HAM, dua kandidat mestinya tak ada beban merampungkan dua hal tadi. Tapi setelah menonton debat  perdana semalam, kita boleh ragu dengan nasib penegakkan hukum bidang HAM di masa depan. Tak ada dialektika di atas panggung. Kering gagasan. Dan yang menyedihkan, ada paslon tergagap pada forum penting ini. Usai debat, pendukung pasangan calon presiden boleh bertepuk tangan, tapi, apa iya tangan lain bertepuk? 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - OPINI

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Jokowi Diminta Pilih Menteri yang Jujur dan Bersih