Share This

Lebih Bijak di Tahun Politik

Kita sudah memasuki tahun politik — tahun ini dengan Pilkada serentak di 171 daerah dan tahun depan dengan Pemilu Presiden. Bersiap untuk tahun yang panas, penuh perdebatan di media sosial dan hoax.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 01 Jan 2018 09:55 WIB

Lampion tahun baru 2018 di Candi Borobudur

Sedikitnya 2.500 lampion perdamaian diterbangkan dalam rangka menyambut tahun baru 2018 Masehi. (Foto: Antara/Anis Efizudin)

Lembar pertama tahun 2018 baru dimulai. Di antara berbagai resolusi yang sudah Anda siapkan, jangan lupa juga menyelipkan ini: berhati-hati dalam memilah dan memilih informasi, jangan terjebak hoax. Kita sudah memasuki tahun politik — tahun ini dengan Pilkada serentak di 171 daerah dan tahun depan dengan Pemilu Presiden. Bersiaplah untuk tahun yang panas, penuh perdebatan di media sosial dan hoax. 

Berbagai peristiwa di tanah air menunjukkan bagaimana media sosial jadi perantara hoax yang sangat masif. Apalagi kalau ini terkait soal politik di mana setiap orang bisa punya opini yang berbeda-beda. Kita lihat apa yang terjadi pada Pilkada tahun lalu dan bagaimana itu masih dan tetap memecah belah warga. Apa kita mau terjebak dalam situasi panas lagi? Jangan sampai kita buang-buang energi untuk itu. Karena itu, kita sendiri perlu punya kesadaran dan keterampilan untuk memilah dan menangkal hoax. 

Facebook sudah mencoba menangkal hoax dengan menggandeng pengecek fakta. Kini, media sosial ini mencantumkan artikel terkait demi menambah konteks untuk setiap artikel yang dibagikan. Tapi masih seringkah Anda hanya sebatas baca judul artikel dan langsung membagikannya, meski belum membaca artikel secara utuh? Inilah yang rawan membuat hoax tersebar luas. 

Di musim Pilkada ini, Polisi sudah menghimbau calon kepala daerah untuk waspada pada konten provokatif di media sosial. Polisi juga akan menandatangani nota kesepakatan dengan KPU dan Bawaslu untuk mengawasi kabar hoax jelang Pilkada 2018. Kementerian Pertahanan berkoordinasi dengan Kepolisian dan BIN untuk mewaspadai kelompok sejenis Saracen, yang memancing untung di tengah hoax. Mencegah tentu baik - tapi yang paling penting sekarang adalah mencegah diri sendiri. Jangan sampai Anda ikut memperkeruh suasana dengan menyebar hoax. Jangan sampai Anda jadi bagian dari silang sengkarut itu.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.